Home

follow me on twitter

Seminar Peduli Konseling Nusantara XVI

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday181
mod_vvisit_counterYesterday477
mod_vvisit_counterThis week3802
mod_vvisit_counterLast week5640
mod_vvisit_counterThis month14326
mod_vvisit_counterLast month24133
mod_vvisit_counterAll days266405

free counters

Julianto Simanjuntak
Sebelum Anda Memilih Jurusan PDF Print E-mail
Articles - Pengembangan Diri
Written by Julianto Simanjuntak   

Belum lama ini suatu malam saya berdiskusi dengan seorang remaja yang bersiap-siap kuliah ke Amerika. Sebutlah namanya Andi. Hadir juga kedua orangtuanya dalam percakapan kami. Topik diskusi kami adalah bagaimana memilih jurusan, dan apa implikasinya dalam karir di masa depan. Andi memang lagi bersiap untuk kuliah dan ada rencana tinggal dan bekerja di Amerika.

Read more...
 
Mempersiapkan Malam Pertama PDF Print E-mail
Articles - Dating
Written by Julianto Simanjuntak   

Malam pertama adalah sesuatu yang sangat istimewa dan ditunggu-ditunggu.  Meski bukan segalanya, tapi dia bisa mengungkap banyak “rahasia” dalam perkawinan. Juga menyisakan kenangan istimewa tak terlupakan.

Read more...
 
Yuk, Belajar Konseling! PDF Print E-mail
Articles - Konseling
Written by Julianto Simanjuntak   

PENGANTAR KONSELING PASTORAL

Julianto Simanjuntak

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Mat. 9:35

Apa itu Konseling

Konseling adalah memberikan kesempatan kepada klien untuk mengeksplorasi, menemukan, dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu.

Rosalina mengatakan, menjadi konselor dan melakukan konseling adalah sebuah tugas yang tidak mudah. Untuk membantu tugas yang tidak mudah itulah, maka setiap konselor perlu melalui proses pelatihan dan/atau pendidikan yang dirancang untuk menyiapkan para calon konselor lebih siap ketika bertemu para kliennya. Adalah mutlak bagi seorang konselor untuk mengetahui apa itu konseling atau definisi konseling. Walau tidak mudah untuk mendefinisikan konseling, sejumlah ahli mencoba untuk mendefinisikan konseling. (Rosalina, Bahan Kuliah STT Jaffray)

Mengutip British Association of Counselling (BAC) di tahun 1984 definisi konseling adalah:
Kata “konseling” mencakup bekerja dengan banyak orang dan hubungan yang mungkin saja bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah..... Tugas konseling adalah memberikan kesempatan kepada klien untuk mengeksplorasi, menemukan, dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu.

Secara khusus pelayanan konseling di gereja atau dikenal dengan istilah Pastoral Care adalah sarana melengkapi tiap individu dalam gereja dapat mengalami pemulihan dan pertumbuhan dalam relasi mereka dengan Allah, diri sendiri dan sesama. Pemulihan dan pertumbuhan itu terjadi justru dalam persekutuan dan kebersamaan sesehari di komunitas orang percaya.

 

Tujuan Konseling

Konseling adalah sebuah pelayanan purna jual (after sales) dari gereja. Setelah memberitakan Injil maka konseling adalah pelayanan sangat vital. Tujuannya adalah memelihara jemaat yang sudah menerima injil. Memberikan ketrampilan hidup kepada jemaat agar mereka bisa hidup sesuai kehendak Tuhan yang sudah menebus mereka. Konseling pada dasarnya adalah pelayanan memberikan skill (ketrampilan) menjalani kesulitan hidup sesehari.

Tujuan konseling adalah memberi fasilitas dan menimbulkan pertumbuhan kepribadian; Menolong pribadi-pribadi untuk mengubah pola-pola kehidupan yang menyebabkan mereka tidak berbahagia, dan Menyediakan suasana persaudaraan dan kebijaksanaan bagi pribadi-pribadi yang sedang menghadapi kehilangan dan kekecewaan. membantu klien untuk merasa lebih baik/ nyaman. Konselor menetapkan tujuan untuk membantu kliennya memiliki kemampuan menolong diri sendiri, sehingga dapat menghadapi situasi hidup selanjutnya dengan lebih konstruktif. (Oates, 1974:9)

Menurut Clinebell, tujuan konseling adalah membebaskan, memberdayakan dan merawat individu dalam keutuhannya. Utuh yang dimaksudkan adalah bertumbuh dalam enam dimensi yang bersifat interdependen:

  • pikiran
  • tubuh
  • relasi dengan orang lain
  • lingkungan hidup
  • relasi dengan lembaga yang mendukung kita
  • relasi kita dengan Tuhan

Interdependen artinya, kemunduran pada satu aspek dapat mengganggu pertumbuhan aspek lainnya. Menurut Yohanes 10:10 tujuan konseling adalah membawa manusia kembali pada pertumbuhan yang utuh sesuai rencana Allah.

Rosalina dalam bagian lain mengatakan, agar sebuah proses konseling itu efektif, maka seorang konselor perlu memiliki pemahaman tentang tujuan yang akan dicapai bersama kliennya melalui proses konseling. Tujuan bisa dibuat bersama dengan klien pada pertemuan pertama untuk memudahkan konselor dan klien fokus pada pencapaian tujuan tersebut. Tentunya ketika membuat tujuan itu, baik klien maupun konselor perlu realistis, mengingat sebuah hubungan konseling, seperti halnya proses lain, dibatasi oleh waktu.

Salah satu tujuan utama konseling adalah: membantu klien untuk merasa lebih baik, atau paling tidak merasa lebih nyaman untuk waktu yang cukup lama. Konselor juga bisa menetapkan tujuan untuk membantu kliennya menjadi lebih self-sufficient (memiliki kemampuan menolong diri sendiri), sehingga dapat menghadapi situasi hidup selanjutnya dengan lebih konstruktif.

Perlu pula disadari dalam memberikan konseling fokus konselor harus pada kebutuhan klien, bukan pada kebutuhan konselor. Jangan terpaku pada teknik konseling/ terapi tertentu. Sebaiknya penekatan konseling disesuaikan kebutuhan klien, jadi pendekatannya bersifat eklektik. Keragaman pendekatan konseling disebabkan adanya keberagaman filosofi, agama, seni, pemahaman psikologi, dan pendekatan psikiatri.

 

Manfaat Melakukan Pelayanan Konseling (refleksi pribadi)

  1. Konseling laksana mengisi botol kehidupan klien yang kosong, dan saya sebagai konselor dapat melihat botol itu secara perlahan tapi pasti terisi dan penuh. Sukacita menjalani pelayanan konseling bagi saya sangat hebat.
  2. Pelayanan konseling itu berbasis trust. Kepercayaan adalah suatu hal yang istimewa. Dipercaya memberi saya juga semangat dan kesukaan besar. Dengan demikian saya harus menjaga kepercayaan ini, menyimpan dan merahasiakan dengan baik kepercayaan keadaan klien. Hal ini membentuk kepribadian jujur dan bertanggungjawab.
  3. Lewat konseling saya merasa lebih banyak belajar daripada mengajar klien. Beda saat saya mengajar atau berkotbah, saya lebih banyak memberikan. Sedang lewat konseling saya banyak mendapat hal baru melalui mendengarkan.
  4. Konseling seperti bekerja di laboratorium. Dalam proses konselingt saya bisa menemukan “virus” masalah yang mengganggu kehidupan pribadi, pernikahan dan pekerjaan manusia.
  5. Lewat pelayanan ini saya merasa hidup berguna. Respon dari klien, pemulihan klien, pemberdayaan klien menjadi umpan balik yang menguatkan. Lewat ratusan sms/email dan perjumpaan langsung dengan klien yang pulih, membuat saya merasa fulfill. Perasaan berguna sehat bagi bagi kita.

Keunikan Konseling Pastoral

Lalu apa yang membedakan konseling secara umum dengan konseling pastoral.

Pertama, konseling Pastoral menempatkan orang dalam relasinya dengan Allah. Fokusnya bukan sekedar menyelesaikan masalah individu yang sedang bermasalah. Tetapi membawa klien pulih dalam relasinya dengan Tuhan.

Kedua, Konseling pastoral selalu melibatkan Tuhan dalam konseling. Allah hadir dalam proses konseling yang dilakukan seorang Pendeta atau awam. Itu sebabnya konseling pastoral bersifat trialog. Ada konselor –Klien – TUHAN. Dalam hal ini peranan doa, Firman dan ketergantungan kepada Roh Kudus menjadi penting. Dengan kata lain, salah satu keunikan tujuan konseling pastoral adalah pertumbuhan spiritual klien.

Ketiga, konseling pastoral membantu klien untuk sungguh-sungguh hidup dan mengerti makna hidup, visi hidupnya sesuai maksud rencana Tuhan. Sebab tanpa emahami makna dan visi hidup, masalah klien hanya selesai dalam sesaat. Mudah muncul kembali pada saat masalahnya kembali menimpa dirinya. Visi hidup memberinya semangat, daya tahan dan ketangguhan menjalani masalah.

Keempat, konseling pastoral membantu klien dalam mengembangkan kemampuannya berelasi dengan sesama. Membantu klien mampu mengelola konflik pribadi dengan orang lain. Kelima, konseling pastoral mengintegrasikan teologi dengan ilmu sosial lainnya, khususnya psikologi dan sosiologi.

 

Fungsi Pastoral

Secara umum fungsi pastoral ada empat:

  1. Penyembuhan (healing)
    Yaitu penyembuhan adalah salah satu fungsi pastoral yang bertujuan untuk mengatasi beberapa kerusakan dengan cara mengembalikan orang itu pada suatu keutuhan dan menuntun dia ke arah yang lebih baik daripada kondisi sebelumnya.
  2. Penopangan (sustaining)
    Penopangan berarti, menolong orang yang “terluka” untuk bertahan dan melewati suatu keadaan yang di dalamnya pemulihan kepada kondisi semula atau penyembuhan dari penyakitnya tidak mungkin atau tipis kemungkinannya.
  3. Pembimbingan (guiding)
    Pembimbingan, berarti membantu orang-orang yang kebingungan untuk menentukan pilihan-pilihan yang pasti diantara berbagai pikiran dan tindakan alternatif, jika pilihan-pilihan demikian dipandang sebagai yang mempengaruhi keadaan jiwanya sekarang dan yang akan datang.
  4. Pendamaian (reconciling)
    Berupaya membangun ulang relasi manusia dengan sesamanya, dan antara manusia dengan Allah. Secara tradisi sejarah, pendamaian menggunakan dua bentuk--pengampunan dan disiplin, tentunya dengan didahului oleh pengakuan.

 

 

Syarat Konselor

Seorang konselor yang baik umumnya tertarik bekerja diantara dan untuk manusia. Tidak mengutamakan keuntungan materi, tetapi terapnggil menolong sesama. Oleh karena itu sebaiknya konselor itu sudah punya sarana kehidupan finansial memadi, sehingga pelayanan ini bukan sarana utama mencari nafkah.

Disamping itu ada kerinduan mendalam belajar, tentang manusia dan kebutuhannya. Suka belajar ilmu yang berkaitan dengan profesi ini. Seorang konselor perlu jiwa yang penuh belas kasih atau bela rasa. Ada beban mendampingi sesama dalam penderitaannya. Akan lebih baik jika dia sendiri memahami dan mengakui penderitaannya sendiri, artinya berjiwa terbuka dan tidak merasa kuat sendiri.

Disamping punya pengetahuan yang cukup, seorang konselor perlu memiliki skill memadai, memahami pelbagai teknik dasar konseling yang baik. Tidak terpaku pada satu teknik.

Hal utama lainnya seorang konselor perlu cerdas serta stabil dalam emosi. Tidak sayang diri, tetapi fokus pada pergumulan klien. Meski belaja memahami pergumulan klien, konselor dilarang bersimpati, tapi cukup berempati. Disamping itu dapat dipercaya, dengan menjaga kerahasiaan klien. Tdiak membuka rahasia klien di depan orang lain. Dalam banyak kasus konselor tidak bisa bekerja sendiri, tetapi bekerjasama dengan penolong lain seperti dokter, psikolog dan lainnya.

Diharapkan seorang konselor tidak merasa diri sakti dan memakai jalan pintas seperti hanya menggunakan doa untuk menyembuhkan klien. Sarana agama seperti doa dan kitab suci harus dipakai secara proporsional dan sesuai kebutuhan. Jangan sampai klien merasa pulih (hanya) karena kehebatan doa konselornya. Jauhi godaan memanipulasi klien dengan cara tersebut. Disamping itu mampu melakukan diagnosa yang baik, dan karena itu perlu belajar psikologi dan ilmu sosial lainnya yang menjadi bahan analisa dan diagnosa kasus klien.

 

Skil Dasar Konseling

Beberapa skil dasar yang diperlukan seorang konselor adalah:

  1. Kemampuan Mendengarkan Aktif
    Hubungan konseling pada dasarnya adalah hubungan interpersonal karena melibatkan dua orang dalam komunikasi yang intim dan bertujuan untuk memberikan penguatan pada orang yang diajak bicara (klien). Untuk itu sebelum memulai konseling, maka sangatlah penting bagi calon konselor memahami dan menguasai ketrampilan memulai hubungan interpersonal ini.
    Dalam hubungan dengan orang lain perlu beberapa hal. Berinisiatiflah memulai suatu hubungan dengan orang yang belum anda kenal. Lalu belajarlah mengungkapkan diri dan perasaan Anda secara terbuka kepada kenalan Anda. Dalam hal ini anda siap memikul resiko karena hal pribadi anda ungkap kepada orang lain. Tapi ini sangat menyenangkan. Cara membuka diri tentunya banyak cara, bisa berupa sharing. Jika anda terbuka tentang diri anda dan masalah anda sendiri, maka orang lain akan mudah percaya kepada anda dan membuka dirinya.
    Menurut Rosalina, mendengarkan aktif meliputi empat intensi (niat) yang ada dalam diri orang yang mendengarkan.
    Pertama, Mengerti seseorang: pendengar yang baik akan mendapatkan impresi/kesan sebagai tahap awal pemahaman tentang orang yang diajak bicara. Semakin sungguh-sungguh kita mendengarkan semakin banyak hala yang kita mengerti tentang orang tersebut.
    Kedua, Menikmati percakapan: keinginan sungguh-sungguh mendengarkan membuat percakapan jadi menyenangkan untuk dinikmati, konselor meminimalisir kebosanan dan kejenuhan selama mendengarkan.
    Ketiga, Belajar sesuatu: ternyata, tidak hanya klien yang mendapatkan sesuatu dari proses menceritakan, sebagai konselorpun anda dapat kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang dibagikan oleh klien anda.
    Keempat, Memberikan bantuan: ketika seseorang mendengarkan dengan sungguh-sungguh maka akan sangat membantu orang yang didengar. Bantuan ini bisa berupa dukungan dan tentunya yang penting adalah kesediaan anda untuk mendengarkannya.
  2. Empati
    Selain mendengarkan aktif, berempati adalah bagian penting dalam skil konseling. Menurut Wikipedia, Empati (dari Bahasa Yunani εμπάθεια yang berarti "ketertarikan fisik") didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain. Karena pikiran, kepercayaan, dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya, seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain. Empati sering dianggap sebagai semacam resonansi perasaan.
    Menurut Rosalina, Empati adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam konseling. Empati bisa dimaknai sebagai respon yang hangat serta mendukung bagi klien anda. Martin (1983) punya sebuah definisi menarik tentang “Evocative Empathy” (empati yang memberikan ingatan serta perasaan yang mendalam pada klien). Dia berkata:
    “Empati adalah mengkomunikasikan pengertian Anda terhadap berita atau pesan terselubung yang Anda terima. Adalah tidak cukup hanya memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Anda juga harus mampu memahami pesan-pesan terselubung. Tidak cukup Anda mengerti apa yang dikatakan orang itu, tapi yang lebih penting adalah Anda bisa menyampaikan kembali apa yang anda pahami dan kemudian orang tersebut merasa dimengerti oleh Anda.”
    Klien memang akan selalu mengekspresikan pikiran dan perasaannya, namun yang paling mengganggu klien adalah perasaannya. Jadi perasaannya wajib kita tangkap. Jadi dalam proses konseling hal yang terpenting adalah dapat mendengarkan (perasaan-perasaan) yang akan disampaikan oleh klien anda. Mendengarkan perasaan-perasaan klien membutuhkan ketrampilan berempati.
    Jika konselor berempati keada klien maka dalam diri klien akan timbul rasa percaya. Rasa percaya ini membangun hubungan baik antara klien dengan konselor. Dengan demikian maka klien akan makin terbuka kepada konselor.
  3. Mengidentifikasi Perasaan
    Untuk berempati konselor perlu mampu mengidentifikasikan perasaan-perasaan klien. Perasaan adalah:
  • Satu reaksi dari dalam diri kita kepada seseorang atau sesuatu
  • Suatu tindakan yang spontan dan sukarela
  • Reaksi dari diri kita bisa berupa emosi, fisik atau keduanya. Bisa reaksinya kepada masa lalu, kini dan nanti
  • Perasaan bukanlah sesuatu yang pasti benar atau salah
  • Kita tidak bisa memilih perasaan kita tapi dapat memilih bagaimana kita bereaksi terhadap perasaan itu.

Dibawah ini ada beberapa contoh perasaan yang perlu kita kenali dengan baik:

KASIH SAYANG BAHAGIA TIDAK GENTAR Negatif

Dihargai Terhibur Agresif malu

Menggetarkan Puas Tegas jijik

Tertarik Enteng Berani terhina/dihina

Dekat Tenang Percaya diri marah

Nyaman Riang, bebas Nekad sedih/duka

Dikasihi Gembira Bertekad pilu

Bergairah Riang Tabah cuek

Romantis Nyaman Gagah berani tidak tahu malu

Menggiurkan Puas dengan diri Merdeka, mandiri berhutang budi

Sentimentil Gembira luar biasa Sangat kuat dikhianati

Seksi Sangat gembira Tentram terpukul

Bermanja-manja Memikat Aman penasaran

Lembut Semangat, bergairah Dipercaya naik darah/panas

Hangat Menggembirakan dendam

Meriah diludahi

Senang HASRAT ditipu

TERTARIK Bersyukur Sangat rajin membela diri/harga diri

Terpikat Dihormati, dipuji Ingin sekali sungkan

Tertantang Penuh penghargaan Terpikat memalukan

Berbelas kasihan Terinspirasi Ingin, rindu dipermalukan

Prihatin Terhibur Sungguh-sungguh mudah disakiti/peka

Penasaran Penuh kegirangan Antusias dibuai

Bergairah Bersorak kegirangan Bergairah bingung

Terpesona/kagum Optimis Kuat sekali tak berdaya

Terbenam Damai Suka, tertarik dikucilkan

Bertanya-tanya Suka bermain Bersemangat dilukai

Ingin tahu Menyenangkan Tekun patah semangat

Terlibat Bersorak berpengharapan bersalah

Simpati Relax menyesal

Membangkitkan minat Tenang curiga

Tenteram sebal

Berkilauan kesal

Berterima kasih putus asa

Bergetar kecewa

Menggairahkan pesimis

Berkemenangan

berkecukupan

 

Latihan

Di bawah ini ada sejumlah kata-kata. Cobalah Anda identifikasi apakah kata-kata tersebut termasuk di dalam perasaan atau bukan. Bila bukan, berikan tanda x di kolom Bukan. Bila perasaan, berikan tanda + (untuk perasaan positif) atau – (untuk perasaan negatif), di bawah kolom Ya.


sumber bacaan: 1. Perlengkapan seorang konselor (Julianto Simanjuntak) 2. Bahan-bahan belajar Program Konseling Jaffray

No.

Kata

Ya

Bukan


No.

Kata

Ya

Bukan

1.

Sedih




36.

Hampa



2.

Muram




37.

Dendam



3.

Bingung




38.

Berdebar-debar



4.

Tertekan




39.

Jorok



5.

Cantik




40.

Putus asa



6.

Nikmat




41.

Enggan



7.

Hebat




42.

Buruk



8.

Baik




43.

Sakit hati



9.

Dimanipulir




44.

Gerah



10.

Terbengkalai




45.

Nyaman



11.

Terpukul




46.

Keras kepala



12.

Bimbang




47.

Benci



13.

Getir




48.

Tersinggung



14.

Marah




49.

Frustasi



15.

Bandel




50.

Jengkel



16.

Jijik




51.

Sayang



17.

Berharap




52.

Gemetar



18.

Senang




53.

Ragu-ragu



19.

Galau




54.

Terjebak



20.

Aman




55.

Segan



21.

Ingin




56.

Panas



22.

Terancam




57.

Bertahan



23.

Gembira




58.

Dikhianati



24.

Berontak




59.

Menolak



25.

Tergoda




60.

Bangga



26.

Kecewa




61.

Cuek



27.

Dingin




62.

Bungkam



28.

Balas




63.

Malas



29.

Bersalah




64.

Bosan



30.

Kesepian




65.

Sengit



31.

Puas




66.

Lega



32.

Takut




67.

Butuh



33.

Bermutu




68.

Tertutup



34.

Sedikit




69.

Sungkan



35.

Kacau




70

Berjuang sendirian


 


Sumber bacaan:

  1. Perlengkapan Seorang Konselor (Julianto Simanjuntak)
  2. Bahan-bahan belajar Program Konseling Jaffray
 
Menyongsong 80 Tahun STT JAFFRAY PDF Print E-mail
Articles - Bebas
Written by Julianto Simanjuntak   

Tahun ini Panitia sedang menyiapkan penyelenggaraan HUT STT Jaffray ke-80 sekaligus ajang reuni para alumni. STT JAFFRAY merupakan salah satu Sekolah Tinggi Teologi yang cukup "lansia" dari segi umur. Sekolah Teologi yang dimulai di Makassar ini akan merayakan HUT yang ke-80 pada bulan September yad. Sementara itu STT JAFFRAY Jakarta baru saja merayakan HUT ke-28 tanggal 27 Februari 2012 lalu, dan dihadiri langsung oleh Ketua Umum PGI, Ketua Umum PGLII, Ketua PGPI, serta para pimpinan Sinode dan Gembala Sidang.

Read more...
 
Kapita Selekta PDF Print E-mail
Kegiatan - Jadwal
Written by Julianto Simanjuntak   

Kami minta maaf banyak orang yang menjadi bingung mengenai KAPITA SELEKTA, di brosur Seminar Peduli Konseling Nusantara XVI tgl 18-19 Mei 2012 di Hotel Ciputra. Berikut ini kami berikan penjelasan mengenai Kapita Selekta yang kami sampaikan melalui Q & A (tanya & jawab) di bawah ini. Jika ada yang masih kurang jelas atau perlu ditanyakan, silakan mengirim pertanyaan ke pedulikonseling@gmail.com

Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 1 of 34