Seni pemulihan diri dan Pohon Keluarga

Seni pemulihan diri dan Pohon Keluarga

Published on 22 September 2016

I. Pendahuluan

Bahan ini adalah bahan seminar yang rutin Penulis presentasikan di pelbagai Kota dan Negara. Dengan tujuan membantu setiap kita pulih dari trauma dan masa lalu yang buruk. Berdamai dengan masa lalu dan berdamai dengan diri sendiri.

Sejak tahun 2005 makin banyak orang datang dari pelbagai kota meminta layanan konseling di LK3 (Layanan konseling keluarga dan Karir). Karena keterbatasan waktu dan jarak, serta biaya transportasi yang mahal dari luar kota, maka kami berusaha menuliskan "resep" atau panduan konseling berupa buku yang dapat dibaca sewaktu-waktu oleh klien kami.

Salah satunya adalah kami Seni Pemulihan Diri dan pohon Keluarga. Agar lewat buku tersebut, klien dapat "mengonseling " diri sendiri pada  saat menjalani masalah dan sulit menemui seorang konselor di kotanya.

II. Manfaat yang Didapat

Lewat mengikuti seminar dan workshop Self Healing ini kami membantu pesert mengenali hal-hal yang tersembunyi. Seperti trauma, kemarahan atau kekecewaan. Tentu Akan lebih membantu jika Saudara menemui Psikolog Klinis untuk mengikuti tes proyeksi untuk mengungkap sebagian masalah di bawah alam sadar.

Selain menyingkapkan "puzzle" hidup masa lalu kita yang banyak hilang dan rusak, seminar ini membantu peserta menerima kelemahan sebagai bagian hidup yang harus diterima dan bukan untuk disangkal. Hanya dengan menerima kekurangan diri kita berhenti menyalahkan diri sendiri, mengkambinghitamkan ataupun menghakimi sesama.

Lewat seminar self healing, saya membantu peserta mendaur ulang emosi negatif menjadi energi yang menumbuhkan pribadi. Serta trampil menerima hal-hal yang tidak bisa diubah dalam diri. Baik berupa pergumulan atau kesesakan, sambil bersandar pada kekuatan kasih karunia Tuhan sebagai sumber kekuatan.

FIRMAN TUHAN

Rasul Paulus dalam kesaksiannya mendapatkan jawaban Tuhan atas permintaan dirinya agar Tuhan mengambil pergumulan (duri) hidup yang sangat mengganggu pribadinya.

(9)Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (10) Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
II kor 12:7-10

Dengan menerima kelemahan dan berdamai dengan keterbatasan, maka kita bersandar pada kekuatan Tuhan. Disitulah awal kekuatan kita cakap menanggung setiap beban kehidupan.

III. Pelbagai Area Sensitif

Setiap kita punya area sensitif, berupa kelemahan yang sewaktu-waktu membuat kita rapuh dan jatuh. Karena itu perlu kita kenali, akui dan waspadai apa yang menjadi area sensitif tsb.

1. Sebagian orang bergumul dengan kebiasaan buruk seperti menunda-nunda atau malas. Kasus yang banyak kami tangani dari tahun 1997 s/d 2004 di ruang konseling kami adalah adiksi narkoba, judi. Juga kecanduan kerja dan belanja. Sebagian kita bergumul dengan keinginan daging di area adiksi. Kami rutin menolong mereka yang bergumul dengan masalah LGBT.

2. Ada yang sulit mengendalikan emosi negatif seperti kemarahan. Ada diantara klien yang berulang kali kalah dengan pikiran negatif seperti curiga atau mind-reading berlebihan. Beberapa ibu sulit mengontrol rasa sedih yang berlebihan. Mudah iba atau berbelas kasihan sehingga sulit berkata tidak.

3. Tidak sedikit yang minder karena karena konsep diri yang rusak sejak kanak-kanak. Sehingga sangat cepat tersinggung dan susah memaafkan. Mudah terombang ambing dalam pergaulan, karena mencari penerimaan dari orang serta enggan konflik.

4. Area lain dijelaskan dalam buku kami berjudul “Mengenali Monster Pribadi". Ada yang sensitif dengan godaan  seksual, mudah terangsang atau jatuh cinta tanpa kendali diri yang cukup. Sulit menguasai impuls seksual.

5. Sebagian kita tersandung dengan uang. Ada yang sulit pegang uang, sangat boros ataupun ekstrim lainnya sangat kikir.

6. Sebagian kita ada yang sensitif menerima penolakan. Umumnya ini terjadi karena sejak kecil anda sudah mendapatkan penolakan. Dibeda-bedakan. Wujudnya adalah mudah marah saat nasihat atau permintaan anda tidak didengarkan.

7. Sementara ada pula yang sensitif jika dituntut. Umumnya mereka yang dari kecil sudah biasa disuruh atau diperintah di rumah sampai kehilangan masa kanak, apakah itu harus jaga rumah, jaga adik, jaga toko dsb, kemudian setelah dewasa mudah marah setiap kali dimintai tolong oleh seseorang.

8. Ada yang cenderung kaku dan kasar. Tidak romantis dan sulit untuk bercanda. Umumnya mereka dibesarkan dalam keluarga yang kasar, oleh ayah yang otoriter bahkan sering melakukan kekerasan.

9. Ada duri-duri lainnya yang membuat kita mudah tersinggung jika masalah kita "dibicarakan". Seperti: sakit yang tak kunjung sembuh, cacat fisik atau ukuran tubuh yang tidak normal. Serta jika ada anggota keluarga kita anak berkebutuhan khusus.

Setiap kita beda dengan area kelemahan ini. Yang penting perlu menyadari, mewaspadai dan mengakui. Tidak malu untuk mencari bantuan jika anda sulit mengendalikannya.

IV. Sumber Masalah

Kecenderungan atau area sensitif  Ini umumnya kita warisi dari masa lalu.

Ada tiga penyebab utama munculnya area sensitif ini.

1. Pola Asuh yang buruk

Kita dibesarkan orangtua yang tidak berfungsi. Pernikahan papa dan mama tidak sehat. Banyak konflik hingga bercerai. Sebagian nilai, cara hidup, perilaku, emosi, pola berkomunikasi kita adopsi dari mereka. Apalagi jika disertai kekerasan, kita diabaikan dan dibedakan dari saudara lainnya.
Dibesarkan tanpa kehadiran dan kasih sayang orangtua merupakan luka dan trauma terburuk dalam hidup kita. Butuh waktu yang cukup dan kemauan yang besar untuk memulihkannya.

2. Lingkungan yang buruk

Bisa jadi ada diantara kita tumbuh dalam kemiskinan orangtua. Gisi yang rendah dan pendidikan yang minim, menghambat pertumbuhan. Apalagi jika kita akhirnya menikah yang berbeda latar belakang, pasangan kita kaya. Konflik sulit dihindarkan.
Lebih terusik jika ternyata adik-adik kita lahir dan besar saat orangtua kita cukup berada atau mampu.

Ada diantara klien yang tumbuh dalam pergaulan yang buruk. Kasus lain, klien menikah dengan pasangan yang pernah kecanduan narkoba atau menderita depresi akut. Ditengah perjalanan gangguan itu kambuh. Sayangnya pasangan tidak begitu memahami latar belakang dan jenis gangguan ini. Akibatnya timbullah konflik berkepanjangan.

3. Pengalaman yang buruk

Sebagian kita punya pengalaman buruk saat kecil. Seperti jatuh dari kenderaan, menyebabkan gegar otak. Pelecehan seksual di usia dini. Beberapa klien kami diperkosa oleh saudara dekat. Ini menyisakan trauma yang berat. Ada juga yang melakukan hubungan seks dengan pacar hingga aborsi. Jika masa lalu yang buruk ini tidak pernah diselesaikan, maka akan terus terbawa dalam relasi dengan pasangan dan bahkan anak-anak.
Rasa bersalah yang mengganggu menghabiskan energi klien, dan tak jarang melumpuhkan emosi.

V. Keluarga Asal dan Gelas Cinta

Umumnya konflik pasutri bukan karena tidak ada cinta semata, atau disebabkan masalah spiritual. Banyak ditimbulkan karena latar belakang keluarga asal yang sangat berbeda. Sayangnya, perbedaan itu tidak dikenali sejak pacaran, dan minimnya mengenali keluarga mertua.

Sifat egois, membuat Anda saling merasa diri benar, dan memaksa pasangan untuk berubah. Jika tidak anda marah.
Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada yang besar dengan kasih sayang orangtua.  Tapi ada yang besar tanpa kasih bahkan mengalami kekerasan fisik dan psikhis seperti diabaikan atau dibedakan.

Jika diumpamakan tangki hati kita dengan gelas dan kasih orangtua dengan ibu,  maka ada yang punya gelas besar dan penuh, ada yang hanya kecil, dan ada pula yang bocor. Jika gelas kecil dan bocor menikah dengan yang sama bisa diprediksi perkawinan ini akan penuh konflik. Karena saling menuntut pasangan, tidak pernah merasa puas dan cenderung menyalahkan. Sayangnya, sebagian kita tidak sadar gelas kita itu kecil dan bocor.

VI. Jalan Masuk dan Proses Pemulihan.

Pemulihan dimulai dengan mengenali keluarga asal. Memeriksa hati kita apakah ada kemarahan tersebunyi pada papa mama. Miskinnya ikatan batin membuat kita terpaksa menjalankan fungsi kesuamian/keayahan atau keibuan/keistrian. Kita banyak mengeluh dan ngomel.

Jika ada kepahitan maka perlu berdamai dengan orangtua. Jalannya adalah, belajar  menghayati ulang makna kelahiran. Maz 139: 13-14 menyadarkan kita, kelahiran kita adalah ajaib. Dari orangtua yang ajaib. Alasan utama menghormati mereka menurut Kitab suci  adalah karena mereka kita ada, hidup, dan berkeluarga. Lepas dari kesalahan dan kegagalan mereka.

Kita perlu Menerima kenyataan bahwa pohon keluarga asal kita rusak. Kita tidak bisa mengubah apapun ke atas, tapi kita bisa mempengaruhi keturunan kita. Membuat pohon baru, sambil tetap bangga pada ayah dan ibu yang melahirkan kita.  

Sebagai pria, jika kita bangga dan kagum pada papa, maka kita bisa bangga menjadi ayah bagi anak-anak kita. Jika kita bangga pada ibu, kita akan bangga dan mencintai istri yang adalah ibu dari anak-anak kita.

Sebagai wanita, jika kita bangga dan kagum pada Mama kita, maka kita bisa bangga menjadi IBU bagi anak-anak kita. Jika kita bangga pada Ayah kandung kita, maka lebih mudah  bangga dan mencintai suami yang adalah ayah dari anak-anak kita.

Berdamai dengan masa lalu kita yang buruk serta pulih dalam relasi dengan ayah/Ibu sangat penting dalam memulihkan relasi kita dengan pasangan dan anak.

Proses ini panjang, membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit. Kita perlu bersabar. Ada toga (3) doa yang baik kita panjatkan secara rutin saat melewati proses ini:

A. Doa 1:

 "Tuhan Terima kasih untuk kelebihan pasangan saya" (sebutkan minimal 10 kelebihan suami/istri anda). Maafkan saya untuk kekurangan saya sebagai pasangan (sebutkan 10 kekuranganmu bagi suami/istri)

B. Doa 2:

" Tuhan ubahlah saya supaya melalui perubahan saya, pasanganku berubah"

C. Doa 3:

" Tuhan berikan aku kedamaian untuk menerima hal2 yang tidak bisa saya ubah. Berilah saya keberanian mengubah hal-hal yang bisa saya ubah dan berikan saya hikmat untuk membedakannya"

VII. Jembatan pemulihan Diri

1. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Menyadari penerimaan Tuhan atau mengalami kelahiran baru menjadi dasar penerimaan diri. Jika kita yakin  Dia menerima kita apa adanya, itu menjadi dasar kita menerima diri apa adanya. Menerima mas lalu, kelemahan, kegagalan dan kekurangan diri sendiri. Jika kita. Jika kita mampu ketidaksempurnaan diri kita pada saat itu kita berhenti menghakimi sesama kita.

Doa pribadi dan  doa bersama keluarga sangat membantu. Kehadiran Tuhan dan firmanNya mengubah banyak pola pikir kita, dari mementingkan diri sendiri ke  orang-orang yang kita sayangi.

2. Curhat dan Konseling

Moto pelayanan kami adalah:
Bagikanlah penderitaan anda maka penderitaanmu akan berkurang. Bagikanlah kebahagiaanmu maka kebahagiaan anda bertambah.

Firman Tuhan dalam Yakobus berkata: "pengakuan itu sehat dan memulihkan". Jika beban dan pergumulan hidup kita pendam sendiri, kita tidak akan kuat. Awalnya bisa, tapi keterbatasan membuat kita akhirnya terpuruk dalam stres, merasa tidak berdaya, putus harapan dan depresi. Buahnya adalah kita jadi mudah marah, sulit rileks atau istirahat, dsb.

Karena itu apapun beban yang sdr rasakan Akuilah. Baik itu berupa luka, dosa, trauma atau masalah lainnya yang terus mengganggu.

Cari seseorang yang Anda percayai untuk berbagi. Cari orang yang tepat. Jangan malu. Berbagi masalah memang berisiko, tapi menyimpannya jauh lebih berbahaya.

Efesus 4:26 menegaskan jangan sampai membawa perasaan negatif ke tempat tidur. Untuk marah yang baik, latih Berkomunikasi secara asertif. Mulai dengan kalimat:
Aku marah karena....
Tanpa perlu menyerang lawan bicara anda.

3. Menambah pengetahuan

Banyak masalah berasal dari minimnya  pengetahuan yang kita miliki.

4. Reparenting.

Tidak semua kita punya ayah dan ibu yang baik, menjadi teladan bagi kita. Oleh karena itu kita perlu mengolah ulang pengalaman ke orangtuaan kita dulu yg buruk dengan cara bersahabat dengan figur orang tua yang baik. Ini namanya reparenting.

Bergaullah dengan dua atau tiga pria/ wanita dewasa yang jadi teladan dalam keayahan/keibuan, dan berfungsi sebagai suami/istri yang baik.

5. Menikmati kota, lingkungan dan rumah yang sehat untuk anda dan Anak

6. MeNikmati karir yang menunjang kebutuhan emosi, keluarga dan keuangan anda

7. Catat heart warmer atau penghangat jiwa. Yakni Mereka yang pernah berjasa dalam hidup Anda. Ingat, kenang jasa mereka, catat dan ucapkan.

8. Jadikan gereja dan sekolah Anak sebagai keluarga angkat.

9. Membangun cinta kreatif

10. Kenali "bahasa cinta" pribadi Anda, terutama hobi pribadi

11. Berbuat baik (Amal)

12. Humor: Mencari hal lucu ditengah pergumulan hidup, mengubah tragedi jadi komedi

PENUTUP

Selama hidup kita perlu diperbaharui dari "manusia lama”. Manusia yang dikuasai keinginan daging. Selain perlu penebusan, kita membutuhkan pembaharuan dari hari ke sehari. Membutuhkan lingkungan yang sehat, pekerjaan yang baik dan keluarga yang mendukung

Dia sabar membaharui kita sedikit demi sedikit.  Karena itu kitapun perlu sabar terhadap diri kita dan orang yang kita sayangi.

Julianto Simanjuntak

Bahan Bacaan


1. MENGENALI MONSTER PRIBADI: Seni pemulihan diri dan pohon keluarga (Julianto Simanjuntak)

2. Mencinta hingga terluka (Julianto dan Roswitha -LK3)

3. Seni Merayakan Hidup yang Sulit (Julianto dan Roswitha -LK3)

CV:

Dr. Julianto Simanjuntak
Terapis keluarga dan Penulis buku konseling. Pendiri LK3 dan Pelikan Indonesia. Direktur Program Konseling PELIKAN INDONESIA

Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha
Bermimpi melihat berdirinya satu pusat konseling di setiap kota, dan tersedianya konselor psikolog dan psikiater secara merata di Indonesia.

Untuk itu Julianto dan Witha rutin memberi edukasi dengan menulis buku-buku konseling yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Penerbit Visi, Pelikan dan Penerbit Andi. Judul buku-buku mereka antara lain:

1. Seni Merayakan Hidup yang Sulit (Pelikan Indonesia)
2. Mencinta Hingga Terluka (Gramedia)
3. Kesehatan Mental dan Masa Depan Anak  (Gramedia)
4. Transformasi Perilaku Seksual
5. Mendisiplin Anak Dengan Cerita
6. Tidak Ada Anak yang Sulit (Andi)
7. Mengambil Hati Remaja (Pelikan)
8. Mengubah Pasangan Tanpa Perkataan (Visi)
9. Membangun Harga Diri Anak (Pelikan)
10. Mendidik Anak utuh Menuai Keturunan Tangguh (editor)
11. Banyak Cocok Sedikit Cekcok (Visi)
12. Ketrampilan Perkawinan (Pelikan)
13. Mengenali Monster Pribadi: Seni Pemulihan Diri dari Trauma, Emosi Negatif dan Kebiasaan Buruk (Pelikan)
14. Konseling dan Amanat Agung (Pelikan)
15. Alat Peraga Di Tangan Tuhan (Pelikan)
16. Perlengkapan Seorang Konselor (Editor)
17. Hidup Berguna Mati Bahagia
18. Istriku Matahariku
19. PENDETA: Panggilan, kepribadian dan Keluarganya
20. Membangun karakter seksual Anak

Julianto  Mendapatkan piagam penghagaan dari Ketua BNN (Badan Narkotika Nasional)  pada tahun 2006 atas kiprah pelayanan di antara keluarga pecandu narkoba. Sejak 2004   rutin memberikan pelatihan konseling keluarga dan kesehatan mental  di pelbagai Kota dan manca negara

KONTAK

Website www.juliantosimanjuntak.com

Twitter:  @KonselingSuper

Kampus: studipastoral.com