Mengelola Kemarahan Tersembunyi

Mengelola Kemarahan Tersembunyi

Published on 10 December 2016

Saya baru memaafkan Ayah (secara tuntas) tahun 2001 lalu. Tanpa saya sadari memelihara kemarahan tersembunyi. Papa tidak menerima saya saat lahir, dia berharap mendapatkan anak perempuan. Sejak kecil saya dibeda-bedakan dengan kelima abang saya. Luka  hati yang terjadi di masa kecil ternyata terbawa hingga masa dewasa karena saya tidak tahu bagaimana mengelolanya.

Marah merupakan emosi normal, yang dimiliki setiap kita. Dalam situasi tertentu kita perlu marah. Kemarahan ada dua macam: divine anger & human anger.  Kemarahan yang membangun dan merusak.

1. Bahaya kemarahan:

Kemarahan yang berbahaya dan merusak adalah jika anda  marah terlalu sering, atau kemarahan anda terlalu dalam karena sudah lama disimpan. Jangan heran saat marah kita  cenderung  menyerang orang lain.
Ada beberapa bahaya kemarahan.  Harvard Medical School – riset 1623 orang: kemarahan menggandakan resiko serangan jantung dibandingkan dengan orang yang bisa mengendalikan kemarahannya.

Kemarahan juga  berhubungan dengan frustrasi, stres dan sakit punggung. Bisa membawa orang kepada pembunuhan, penyiksaan anak,  depresi, penghancuran  benda milik sendiri atau orang lain, dll.

2. Pola Orang Marah

A. Meledak ke dalam

Pola kemarahan  ini nampak dalam tiga cara: Disangkal, ditekan dan dilupakan.

a. Disangkal.   Jika disangkal, maka  kemarahan itu  justru berbalik kepada diri anda sendiri. Gejalanya adalah, anda menjadi suka menyalahkan diri untuk kesalahan suami anda, atasan anda atau orang yang anda takuti.

b. Ditekan atau dipendam. Orang akan menganggap anda orang yang sabar. Namun sesungguhnya tidak. Sebab  anda biasanya melampiaskan kemarahan sesuatu yang "aman"  dimana orang tidak melihat langsung. Bisa pelampiasan itu ke makan, merokok berlebihan atau lainnya.

c. Melupakan.
Anda berusaha melupakan kemarahan, namun ini sesuatu yang tidak mungkin. Sebab energi kemarahan itu sudah masuk dalam diri anda. Kemarahan itu akan meledak ketika ada faktor pencetus datang.

B. Meledak Keluar

Reaksi marah keluar nampak dalam beberapa wujud seperti:  memukul benda atau orang tertentu;  berteriak atau memaki.  Nampaknya meluapkan kemarahan ini  bisa  memberikan anda kelegaan sementara. Tetapi sesungguhnya tidak pernah menyelesaikan akar penyebab kenapa anda marah. Biasanya masalah akan berulang kembali, berulang dan berulang kembali. Bahkan bisa menjadi lebih parah dan tidak terkontrol.

C. Dikelola Dengan Baik

Cara ketiga adalah mengelola kemarahan. Buang sikap cuek. Sebab kemarahan itu berbahaya jika tidak anda tangani.   Caranya dengan mengakui kemarahan itu pada waktu yang tepat dan dengan asertif.  Ungapkan dengan kata yang tidak menyerang.

Misalnya:
- "Saya merasa marah karena ......."
- "Saya sangat tersinggung karena....
- "saya merasa tidak nyaman sekali karena...."

Paling baik jika anda menemui orang yang anda konflik untuk  menangani akar penyebab marah (konteks orang yang dekat: pasangan, anak, rekan kerja, sahabat). Jika anda bisa mengelola kemarahan dengan baik, pengalaman itu  justru  bisa  membantu anda lebih memahami orag lain, mudah memaafkan,  berempati, dsb

3. Mengelola Sisa Kemarahan             

Jika anda punya banyak kemarahan saat kanak-kanak, terutama kepada papa dan (atau) mama, maka kebanyakan marah itu bersisa, terbawa hingga masa dewasa. Kebanyakan kemarahan itu tersimpan, karena dulu kita tidak berani menyampaikan pada orangtua.

Sebagian  kita tidak diajar mengelola kemarahan. Juga tidak semua mendapat contoh yang baik dari papa dan mama. Kita tidak tahu cara menyalurkan kemarahan secara positif. Paling kita hanya bisa menangis, cemberut atau memberontak sesekali pada mereka.

Jika sisa kemarahan itu tidak bisa anda atasi atau kelola, maka itu akan bisa mengganggu Anda hingga dewasa. Bagaikan "virus", yang membuat hati dan komunikasi anda sakit. Virus ini tanpa sadar mengganggu sistem pernikahan,  hubungan dengan pasangan dan anak-anak. Juga dalam kehidupan karier, persahabatan dsb.

Wujud sisa kemarahan bisa muncul dalam berbagai wujud:

1.  Harga diri yang rendah, alias minder. Soalnya, Anda tumbuh dari kecil dengan perasaan tidak berdaya.

2. Mudah marah atau tersinggung. Bahkan hanya oleh hardikan kecil sekalipun dari atasan, pasangan atau teman anda.

3. Sulit menyatakan emosi marah pada orang yang punya otoritas (meskipun Anda jengkel sekali). Simpanan itu bisa mengungkit kembali perasaan marah pada ayah atau ibu Anda.

4. Gampang curiga atau  jatuh dalam "mind-reading" (membaca pikiran orang).

Contoh: Kata Anda dalam hati, "Jangan-jangan dia itu ...."

Mind reading ini menjauhkan anda secara emosi dengan orang yang harusnya anda cintai.  Kecurigaan membangun jarak Anda dengan mereka yang seharusnya dekat.

Waspadai pikiran berikut ini:

"Dia sengaja berbuat begini supaya saya marah..."

"Dia mau mempermalukan saya..."

5. Mudah tidak puas dan terperosok dalam kompetisi tidak sehat. Di kantor atau dalam persahabatan, Anda mudah konflik, dan isunya kerap kali adalah mau menunjukkan Anda lebih hebat dari sahabat, mitra kerja, atau pasangan Anda.

6. Mudah meledak saat ada peristiwa pencetus yang berat, misalnya pasangan selingkuh  atau anak kena narkoba, dan sebagainya.

Menangani  Sisa Kemarahan

1. Sadari peristiwa  dan orang yang membuat anda marah. Lalui akui dengan jujur perasaan perasaan itu lewat self talk (pengakuan pribadi). Tombol remote marah anda pegang dengan baik. Ambil langkah tenang, rileks ditempak tenang. Bisa juga dengan berdoa melakukan self talk kepada Tuhan.

2. Tuliskan pengalaman itu, baca berulang kali, sampai Anda merasa tidak lagi terganggu dengan kenangan itu.

3. Bisa dengan menemui seseorang sahabat Anda  yang cukup dewasa secara emosi untuk berbagi. Sharing-kan sesering mungkin perasaan lukamu, emosi marahmu. Sampai tuntas.

4. Jika kurang memuaskan karena luka Anda itu sangat banyak, carilah bantuan konselor yang bisa memberikan anda konseling atau psikoterapi. Sebab ini semua tergantung pada seberapa besar luka emosi Anda. Makin besar luka, makin besar daya pengampunan dibutuhkan. ("proklamasi"- kan pengampunan itu lewat kata-kata).

5. Belajar berempati dan buang sifat merasa benar sendiri.

6.   Berbuat baiklah terutama kepada mereka yang  pernah melukai anda.  Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah kunci kemenangan dari luka dan amarah Anda.

Penutup

Dalam sharing seorang mahasiswa via email,  saya mendapatkan ungkapan bijak ini:

"Korek api mempunyai kepala, tetapi tdk mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tdk perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil, jadi dgn menggunakan otak, kita dapat mengurangi stress/ amarah. Sahabat, tahukah anda bahwa untuk setiap detik yg diluangkan dlm bentuk kemarahan, maka satu menit kebahagiaan telah terbuang?"

Mari belajar utk mengendalikan diri kita, karena jika bekerja dgn emosi yg stabil kita mampu menyikapi situasi kehidupan dgn lebih arif.

Firman Tuhan berkata: "Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan"

Julianto Simanjuntak
Penulis 20 buku Konseling