BERSAHABAT DENGAN DEPRESI

Published on 13 September 2019

Caraku Merawat Depresi

Julianto Simanjuntak LK3

Depresi seperti halnya sakit perut yang tidak jelas. Kalau didiagnosa dan diobati dengan benar cepat sembuh. Tapi kalau dibiarkan, berbahaya dan menimbulkan banyak masalah. LK3

Tulisan ini membahas pengalaman penulis depresi, akar depresi, mengapa pendeta bisa depresi dan cara merawat depresi

Barusan saya kembali dari Belanda memberikan beberapa seminar. Disela waktu enam hari di den haag saya memberikan Konseling kepada klien yang lebih dua puluh tahun depresi, tergantung obat tidur dan pernah mencoba bunuh diri. Ini adalah pekerjaan rutin kami. Mendampingi klien dengan depresi, dan gangguan jiwa lainnya.

 

Tgl 11 September kemaren saya dikagetkan membaca berita Jarrid Wilson, seorang Pendeta yang aktif dalam kampanye kesehatan mental di California  bunuh diri karena depresi. Wilson merupakan pendiri salah satu organisasi nirlaba kesehatan mental. Dia sendiri terbuka tentang depresinya sendiri, sering memuat di akun media sosialnya tentang pertempurannya menghadapi depresi

Pengalaman Depresi

Penulis sendiri beberapa kali mengalami periode depresi. Saya dibesarkan Ayah seorang pecandu alkohol dan ketergantungan obat anti depresan lebih dari 20 tahun. Karena depresinya berat Papa menderita insomnia berat. Tidak bisa tidur tanpa obat

Mama juga sama, menderita depresi berat, selama belasan tahun. Agar bisa nyaman Mama selalu minum alkohol setiap malam.

Karena dibesarkan orangtua yang depresi, tidak heran saat usia saya 19 tahun pertama kali menderita depresi. Saat itu baru tahun pertama masuk ke seminari di Batu Malang. Setiap kali doa malam, di ruang doa kami dengan beberapa teman (yang mengalami depresi)  sering berbagi pengalaman keinginan atau pikiran bunuh diri. Hal ini juga membuat saya sulit tidur selama dua tahun lebih di seminari tsb.

Membaca kisah Jarrid Wilson, aku teringat pikiran bunuh diri pertama kali dalam hidup ku adalah tahun 1983. Saat itu saya baru masuk ke seminari di Batu Malang. Saat itu saya sangat tertekan.

Selain pikiran bunuh diri, mood sangat jelek. Mudah merasa cemas dan takut akan masa depan. Mudah sekali tersinggung hanya untuk masalah kecil. Konsentrasi belajar sangat rendah, enerji rendah, susah tidur dan selera makan buruk. Kejadiannya tahun 1983-1985

Ada tiga penyebab depresi. Ketidakseimbangan zat yang disebabkan makanan. Kecenderungan genetik yang diwariskan orangtua. Misalnya, jika seorang ibu hamil depresi, anaknya juga akan mengalami hal tersebut. Lalu, traumamenghadapi kematian, pemerkosaan, bencana alam, atau kegagalan besar.

Alasan pertama dan ketiga biasanya perlu obat tertentu untuk mengatasinya, selain Konseling

Riwayat depresi kambuh lagi saat saya mengundurkan diri sebagai Gembala atau Pendeta jemaat tahun 1996. Selama dua minggu saya lebih banyak berkurung di kamar, dengan gejala yang sama. Mood sangat negatif, mudah marah, susah tidur dan hilang selera makan. Malas bertemu atau bicara dengan  teman terdekat bahkan pasangan.

Lalu kambuh lagi tahun 2007 saat lembaga yang kami dirikan maju pesat, tapi finansial dan tenaga sangat terbatas. Banyak sekali klien datang dari banyak kota hingga luar negeri. Karena Konselor terbatas saya banyak menangani sendirian. Akhirnya burn out, dan kelebihan beban. Menyalahkan Tuhan, dan tidak menyukai hobi yang biasanya menjadi aktifitas sehari-hari. Pikiran ingin cepat mati muncul kembali.

Terakhir adalah tahun 2013 hingga 2015, saat hubungan kami dengan anak bungsu mengalami situasi yang buruk. Selain depresi saya mengalami tingkat kecemasan yang berat, hingga menderita insomnia. Pada tahun yang sama dua putra kami juga menderita depresi. Tuhan menolong kami melewatinya, dan pulih. Soli deo Gloria

Studi Konseling

Bersyukur dengan latar belakang sekolah Konseling tahun 1989-1991 lalu 1996-1999, saya dibeki skil melakukan self healing. Ramuan yang saya pakai menolong klien saya pakai untuk diri sendiri. Sehingga tidak sampai minum obat atau mengganggu aktifitas saya setiap hari. Tapi anak bungsu kami harus mengunjungi beberapa psikolog dan psikiater untuk pemulihannya dan sembuh.

Pengetahuan, skil Konseling dan pengalaman sebagai Konselor membuat saya menemukan resep untuk membantu diri sendiri saat tekanan hidup datang bertubi-tubi. Sehingga depresi bisa dilewati dengan baik.

Pengalaman inilah yang menimbulkan empati kepada mereka dan keluarga yang bermasalah dengan kesehatan mental yang buruk, terutama depresi. Sejak 2001 saya mengkhususkan diri dalam Konseling keluarga dan kesehatan mental. Pengetahuan itu juga bermanfaat ketika mendampingi kedua putra kami sempat depresi, dan klien kami yang mayoritas adalah penderita gangguan jiwa

Akar Depresi

Hasil penelitian Universitas  Harvard  tentang Perkembangan Orang Dewasamenemukan hubungan gangguan jiwa dengan pola asuh.

Ditemukan anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang, lima kali lebih banyak yang menderita gangguan kesehatan jiwa, terutama depresi. Cenderung memilih hidup menyendiri, memisahkan diri dari persahabatan. Sebagian mereka meninggal karena perilaku yang tidak sehat, termasuk akhirnya bunuh diri.

Sebaliknya……Mereka yang dibesarkan dengan kasih sayang dan bahagia di masa kecil umumnya terlindung dari depresi, adiksi serta gangguan  mental lainnya.  Kehidupan mereka lebih kaya dengan hubungan (relasi)  dan sukacita. Mereka lebih mampu menyeimbangkan tugas dan kewajiban dengan melakukan rekreasi yang menyenangkan. Ditemukan juga mereka suka  menjalin dan membangun hubungan serta mendapat sukacita dari relasi itu

Akar lainnya ialah, kami menemukan  klien yang datang konsultasi dengan kami bermasalah dengan gangguan depresi atau kecemasan karena dibesarkan dalam sistem keluarga yang sakit, dibesarkan dalam sistem keluarga yang tidak sehat dan disfungsi. Khususnya ayah dan Ibu tidak hadir, atau hadir tapi pasif. Ditemukan juga mereka korban kekerasan orangtua atau terlalu dimanjakan

Mereka melihat hubungan orangtua yang banyak konflik. Akibatnya setelah mereka dewasa dan menikah, mereka mengadopsi pola yang sama, sistem yang sakit. Apalagi jika sampai bercerai.

Mereka meniru atau mengulang komunikasi yang buruk, menghasilkan emosi yang buruk. Akibatnya salah satu pasangannya frustrasi dan akhirnya depresi. Mereka membawa trauma perceraian atau konflik yang parah dari perkawinan ortu mereka. Miskinnya komunikasi dan keintiman dari keluarga asal juga diadopsi sehingga sulit mengembangkan keintiman dalam pernikahan mereka. Padahal

Keintiman awal dari kesehatan emosi.

Ya, relasi yang sehat menjaga kesehatan mental tetap baik.

Mengapa Pendeta Bisa Depresi?

Apakah dengan menjadi Pendeta Saya ataupun Jarid Wilson otomatis kebal dengan depresi? Tentu tidak. Depresi sama dengan penyakit fisik yang mungkin sudah dibawa sejak kecil. Misal, maag atau mudah sakit kepala.

Masalahnya penyakit fisik lebih mudah kita sadari dan cepat cari obat dan bantuan dokter. Tidak demikian halnya dengan depresi dan kecemasan.

Selain faktor biologi dan herediter, depresi umumnya dimulai masa kanak-kanak  yang kurang kasih sayang, mengalami penolakan, kehilangan,  pelecehan atau trauma lainnya. Inilah yang menjadi faktor penyebab utama (predisposisi). Ini menjadi sumber potensi utama kelak depresi itu menjadi berat di usia dewasa.

Faktor predisposisi  dipengaruhi dua hal lainnya: faktor kontribusi dan pencetus.

Penyumbang utama adalah pola asuh yang buruk, relasi yang tidak sehat dalam keluarga, konflik,  prestasi akademis buruk, kemiskinan dan gizi yang parah, komunitas dan lingkungan yang tidak sehat termasuk pergaulan yang buruk.

Lalu pencetus depresi bisa beragam: putus pacar, kegagalan dalam studi atau pekerjaan, perasaan bersalah dan rasa malu yang berat paska jatuh dalam dosa tertentu. Bisa juga kehilangan pasangan atau anggota keluarga yang dikasihi.

Potensi depresi dibawa sejak kecil, dan tidak otomatis hilang karena seseorang menjadi pendeta atau aktif melayani di gereja. Doa juga tidak serta merta bisa mengusir depresi. Ini ada dalam tubuh atau fisik juga pengalaman perasaan dan berpikir. Bukan semata mata spirit yang bisa ditengking begitu saja.

Mereka yang kemudian masuk sekolah alkitab lalu menjadi pendeta tidak kebal dengan gangguan depresi. Sama seperti halnya setiap kita bisa sakit perut karena salah makan. Siapapun kita yang salah mengelola stres, tekanan dan konflik hidup kita akan bisa menderita depresi. Termasuk kita yang kurang mampu membagi waktu, sehingga  kurang istirahat dan terlalu sensitif dengan konflik. Kita rentan dengan gangguan ini.

JALAN MASUK:

Merawat Depresi

Kadang-kadang orang berpikir bahwa sebagai pendeta atau pemimpin rohani punya kemampuan spektakuler,berada di atas rasa sakit dan pergumulan orang-orang awam. No! pendeta juga manusia, ia menghadapi pergumulan, perasaan, tekanan yang sama. Pendeta tidak memiliki semua jawaban atas masalah hidupnya. Ia pun membutuhkan bantuan dan orang lain untuk mendukungnya, setiap hari.

Karena itu jangan pernah malu terbuka dan mencari bantuan.

Tuhan meminta menyayangi tubuh dan hidup kita, merawatnya dengan baik. Sebagai bait Roh Kudus dan ditebus dengan Darah Kristus.

Saya sendiri ketika menghadapi tekanan depresi, sambil menemani anak saya pergi ke psikolog dan psikiater konsultasi. Jangan malu ke psikiater jika sudah memerlukan obat.

Disamping itu kami membangun komunitas, mencari teman senasib yang punya masalah yang sama. Saya sharing dengan sahabat yang juga sedang bergumul dengan beban yang mirip.

Tentu memperbanyak relasi dengan Tuhan, membaca alkitab dan berdoa akan sangat membantu. Olahraga jalan pagi dan berenang juga mendukung proses pulih dari depresi. Setidaknya tiga kali seminggu. Selain itu memperbaiki relasi dengan anggota keluarga, memberi waktu lebih banyak dan hangat. Selain itu punya beberapa sahabat dekat yang peduli dan saling berbagi.

Saat mengalami depresi yang terakhir 2015, saya memutuskan mengurangi jadwal seminar dan Konseling. Setidaknya seratus undangan tiap tahunnya kami tolak demi menjaga kesehatan mental tetap terjaga baik.

Merawat depresi tergantung empat faktor ini

  1. Biologis    : fisik perlu dijaga agar tetapsehat dengan banyak olahraga dan latihan dengan disiplin
  2. Mental yang lemah, pikiran negatif, dan suka mengeluhmembahayakan kesehatan mental. Komplainadalah kesenangan yang menyakitkan. Jadi perbanyaklah bersyukur dan memuji Tuhan dalam segala keadaan.
  3. Sosial. Mereka yang kesepian biasanya mengurung diri dari dunia sosial akan sulit mengatasi depresi. Bersosialisasi adalah kunci atau cara terbaik memulihkan depresi. Memiliki beberapa sahabat yang bisa diajak ngobrol secara rutin, dan memiliki komunitas yang saling peduli
  4. Spiritual   : Terhubung dengan Alkitab, menjadi pejuang doa, membaca Firman setiap hari, dan menjaga hubungan yang sehat dengan Tuhan.

Jika menginginkan anak yang punya daya tahan stres tinggi, fokuslah untuk mengembangkan empat hal di atas ini dalam diri mereka sejak dini – dengan memulainya pada diri anda terlebih dahulu.

PENUTUP: ALAT PERAGA NEGATIF

Ada kalanya Tuhan menggunakan seseorang menjadi “alat peraga” untuk berbicara ke dalam hati manusia. Suatu hari Alat peraga itu bisa juga Anda atau saya.

Masalahnya tidak selalu dengan sebagai alat peraga positif. Tapi bisa juga menjadi alat peraga negatif. Ayub adalah salah satu contoh  ”alat peraga” negatif yang super istimewa. Dia kehilangan anak dan istri, harta benda hingga kesehatannya. Ditinggalkan sahabat dan kerabat baiknya.

Tetapi justru kisah hidupnya yang buruk itu menjadi penghiburan bagi kita. Menjadi alat peraga yang sempurna.

Benarlah FirmanNya: Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.

Tuhan bisa memberkati kita baik lewat pengalaman baik maupun yang buruk. Melalui Peristiwa yang positif atau negatif. Ya, sebab sesungguhnya kebahagiaan sejati adalah menikmati penderitaan dan kesenangan hidup secara seimbang.

Rick warren sangat terpukul saat anak yang sangat ia kasihi mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Dalam bukunya Rick warren menulis, “tak ada luka kita yang sia-sia. Semua bisa dipakaiNya. Makin besar luka, makin besar Tuhan memakai kita.”. Saat ini gereja Rick Warren menjadi motivator di bidang kesehatan mental, yang menjadi berkat bagi banyak orang percaya dari banyak negara.

Bersiaplah menjadi alat peraga dalam tangan Tuhan. Tidak saja lewat pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga melalui peristiwa buruk dan menyakitkan.

Semoga catatan harian ini bermanfaat bagi saudara yang sedang bergumul dengan depresi, atau melayani orang yang saudara kasihi yang mengalami gangguan kesehatan jiwa

 

Pdt. Julianto Simanjuntak

Catatan Harian 12 September 2019

Garuda GA 89 dalam Penerbangan dari

 Amsterdam ke Jakarta

 

KKKI | Sarana belajar konseling keluarga dan kesehatan mental |

Info Youtube:
https://youtu.be/YkzzxlzHyeo

Info KKKI
http://bit.ly/KonferensiKonselorLK3

Daftar online
http://bit.ly/DaftarKKKI