DINAMIKA KOMUNIKASI PASUTRI

DINAMIKA KOMUNIKASI PASUTRI

Published on 19 December 2016

Komunikasi adalah unsur utama cinta yang dapat dilihat dan dirasakan setiap anggota keluarga.

Konflik menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam komunikasi tsb. Konflik menjadikan pernikahan dinamis. Jadi jangan takut konflik.

Kita akan belajar unsur2 utama yang membuat komunikasi menjadi nyaman dan Membangun.

Ada beberapa ayat Firman Tuhan yang menjadi dasar topik ini:

 

  • Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. Amsal 25:1
  • Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar." ~ Amsal 25:12.
  • Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain ~ Kolose 3:16
  • Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. ~ Kolose 4:6
  • Janganlah ada perkataan kotor  (kasar) keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.~ Efesus 4:29

UNSUR UTAMA KOMUNIKASI

Komunikasi yang baik seperti rasa strawberry matang. Orang yang memperhatikan unsur2 ini tergolong bijak.

Tapi Ada orang  yang tidak bijak berkomunikasi. Tak jarang  bikin orang lain jengkel. 

Faktor-faktor komunikasi yang menyenangkan dan Membangun :

  1. Motivasi
  2. Posisi
  3. Isi
  4. Intonasi
  5. Ekspresi
  6. Situasi

Keenam faktor ini saling mempengaruhi. Kita perlu perhatikan pula, ada unsur budaya setempat yang ikut berperan.

I. MOTIVASI

Hal pertama kita perlu menguji motivasi kita saat berbicara. Harus tulus dan dapat dibaca lawan bicara. Jangan ada maksud atau memanipulasi.

II. POSISI

Perhatikan kamunikasi juga dipengaruhi strata sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya. Demikian juga  ordo keluarga. Komunikasi suami dengan istri, Ortu dan anak dipengaruhi ordo dalam keluarga. Demikian juga dalam organisasi tertentu ada budaya Yunior & senior. 

III. ISI

Pentingnya meramu isi percakapan,  memilih kata yang mudah dimengerti. Tidak berisi pesan ganda yang membingungkan. Kalau "ya" katakan ya. Isinya juga kreatif, jangan mengulang-ulang yang itu-itu saja, membosankan. Komunikasi pria dan wanita berbeda. Demikian juga anak2 kita yang berbeda zaman.

Gunakan kata pertanyaan lebih dari pernyataan seperti nasihat dsb. Juga belajar komunikasi asertif.

IV. INTONASI

Hal penting lainnya, gunakan intonasi yang baik dan enak didengarkan. Orang tertentu yang besar dalam keluarga yang biasa bersuara pelan atau lembut, tidak nyaman saat Anda bersuara keras dan cenderung kasar.

Ada budaya tertentu intonasinya kasar. Tapi ada yg lebih halus atau lembut. Anak juga berbeda. Ada yang senang dengan bahasa yang tegas dan lugas ada yang tidak

V. EKSPRESI

Sebelum mendengar dan mencerna isi perkataan, anak atau pasangan kita biasanya lebih dulu menangkap pesan dari wajah kita. Apakah ekspresi kita marah, kecewa atau emosi negatif lainnya.

Jika wajah kita menunjukkan ketidaknyamanan, maka orang tidak nyaman juga menangkap isi berita. Bisa bercampur interpretasi atau persepsi yang mengaburkan berita.

Maka sebelum bicara, pastikan hati Anda nyaman. Jika perlu, tunda bicara sampai saat hati Anda enak. Jika ekspresi wajah kita menyenangkan, orang sekitar kita mudah menyambut pesan kita. Apalagi diselingi humor atau canda.

VI. SITUASI

Saat suami Anda pulang, jangan langsung bicara atau curhat. Tanya kapan situasi yang buat dia nyaman berkomunikasi. Carilah tempat yang juga enak dan tenang untuk bicara. Ciptakan suasana sambil makan bersama. Suasana atau situasi yang diciptakan nyaman bagi kedua belah pihak, sangat membantu pesan sampai dengan baik. Jembatan komunikasi anak juga berbeda-beda. Ada yang suka sambil bermain ada yang sambil makan. Sesuaikan dengan bahasa cinta anak dan pasangan.

Mengelola Konflik Pasutri

Sumber konflik

  1. Pasangan yang tertekan (distress) terlibat lebih sedikit dalam kegiatan timbal-balik yang menguntungkan dan terlibat lebih banyak dalam kegiatan komunikasi yang menghukum (negative reinforcement); dibandingkan pasangan yang tidak tertekan.
  2. Pasangan yang tertekan cenderung membalas negative reinforcement yang disampaikan oleh pasangannya. Individu seperti ini suka bersikap reaktif (baik dalam tindakan maupun dalam memahami) terhadap stimuli dari pasangannya dan meresponi stimuli itu dalam cara yang sama dengan bagaimana stimuli itu diberikan.
  3. Pasangan yang tidak bahagia cenderung mencoba mengendalikan perilaku pasangannya melalui tindakan komunikasi negatif dan berusaha menahan untuk tidak melakukan komunikasi positif. Pasangan yang tidak bahagia cenderung berjuang untuk merubah perilaku pasangannya dengan menggunakan taktik kontrol yang aversif yaitu dengan secara strategis menghadirkan hukuman dan menahan pemberian imbalan.
  4. Sistem perkawinan yang penuh konflik dicirikan oleh adanya intensitas koalisi yang membuta, misalnya : anak dan ibu sangat dekat satu sama lain namun dalam bentuk-bentuk yang merugikan ayahnya.
  5. Koalisi tersembunyi seringkali melintasi garis generasi. Pihak ketiga digunakan untuk mencampuri konflik atau kedekatan suami/isteri. Misal, sang Nenek berkoalisi dengan cucu ntuk menekan Ayahnya mengikuti kemauan Ibunya.
  6. Individu-individu yang membutuhkan bantuan dalam mengatasi konflik perkawinan biasanya memiliki kepribadian yang menyimpan kekakuan. Kekakuan ini memaksa mereka untuk menolak atau bersikap membuta terhadap aspek-aspek tertentu di dalam dirinya. Jika mereka dihadapkan pada aspek serupa yang juga ada dalam kepribadian partnernya, maka dia akan mengabaikan atau tidak mau menerima.
  7. Kebanyakan tegangan dan kesalahpahaman antara suami/isteri nampaknya diakibatkan oleh kekecewaan yang dirasakan salah satu atau keduanya. Mereka merasa tidak suka jika yang lain gagal memainkan peran sebagai pasangan sesuai fantasi yang sebelumnya telah mereka miliki tentang sosok suami/isteri.
  8. Istri berasal dari keluarga yang tidak bahagia, misal kekurangan figur ayah. Lalu berharap suaminya dapat memenuhi kekurangan itu. Jika hal ini masih belum dibereskan saat masuk ke pernikahan, maka akan terwujud ambivalensi antara perasaan cinta dan benci.
  9. Dalam proses seleksi pasangan, sang partner tertarik karena calon pasangannya dipandang sebagai pribadi yang menjanjikan ditemukannya apa saja yang hilang dari kehidupannya. Namun dalam perjalanan waktu mereka kemudian dibungkus ulang melalui berbagai kondisi dan berubah menjadi pribadi/obyek untuk diserang atau disangkal.

Disamping faktor di atas, beberapa perkawinan yang disfungsi bisa terjadi karena salah satu pasangan menderita gangguan serius seperti depresi, mania, phobia, alkoholisme dan schizophrenia. Gangguan semacam ini akan mendatangkan ketegangan besar pada hubungan perkawinan. Jadi sebaiknya Anda memeriksakan kesehatan bersama sebelum memasuki pernikahan.

Mengelola Sisa Kemarahan              

Jika anda punya banyak kemarahan saat kanak-kanak, terutama kepada papa dan (atau) mama, maka kebanyakan marah itu bersisa, terbawa hingga masa dewasa. Kebanyakan kemarahan itu tersimpan, karena dulu kita tidak berani menyampaikan pada orangtua.

Sebagian  kita tidak diajar mengelola kemarahan. Juga tidak semua mendapat contoh yang baik dari papa dan mama. Kita tidak tahu cara menyalurkan kemarahan secara positif. Paling kita hanya bisa menangis, cemberut atau memberontak sesekali pada mereka.

Jika sisa kemarahan itu tidak bisa anda atasi atau kelola, maka itu akan bisa mengganggu Anda hingga dewasa. Bagaikan "virus", yang membuat hati dan komunikasi anda sakit. Virus ini tanpa sadar mengganggu sistem pernikahan,  hubungan dengan pasangan dan anak-anak. Juga dalam kehidupan karier, persahabatan dsb.

Wujud sisa kemarahan bisa muncul dalam berbagai wujud:

1. Harga diri yang rendah, alias minder. Soalnya, Anda tumbuh dari kecil dengan perasaan tidak berdaya.

2. Mudah marah atau tersinggung. Bahkan hanya oleh hardikan kecil sekalipun dari atasan, pasangan atau teman anda.

3. Sulit menyatakan emosi marah pada orang yang punya otoritas (meskipun Anda jengkel sekali). Simpanan itu bisa mengungkit kembali perasaan marah pada ayah atau ibu Anda.

4. Gampang curiga atau  jatuh dalam "mind-reading" (membaca pikiran orang).

Contoh: Kata Anda dalam hati, "Jangan-jangan dia itu ...."

Mind reading ini menjauhkan anda secara emosi dengan orang yang harusnya anda cintai.  Kecurigaan membangun jarak Anda dengan mereka yang seharusnya dekat.

Waspadai pikiran berikut ini:

• "Dia sengaja berbuat begini supaya saya marah..."
• "Dia mau mempermalukan saya..."

5. Mudah tidak puas dan terperosok dalam kompetisi tidak sehat. Di kantor atau dalam persahabatan, Anda mudah konflik, dan isunya kerap kali adalah mau menunjukkan Anda lebih hebat dari sahabat, mitra kerja, atau pasangan Anda.

6. Mudah meledak saat ada peristiwa pencetus yang berat, misalnya pasangan selingkuh  atau anak kena narkoba, dan sebagainya


Julianto Simanjuntak

Bacaan:

  • Len Sperry & J. Carlson. Marital Therapy. Love Publishing Company, Colorado, 1991
  • Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha, Seni Merawat Keluarga, Layanan Konseling keluarga dan karir (LK3)
  • Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha, Mengubah pasangan tanpa Perkataan. Layanan Konseling keluarga dan karir (LK3)