Malu Pergi Konseling?

Malu Pergi Konseling?

Published on 16 January 2017

Fenomena sebagian Pemimpin gereja yang punya masalah pribadi malu mencari konselor sangat menarik.  Umumnya mereka merasa mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Posisi dan popularitas yang tinggi, menjadikan mereka malu terbuka.

Sampai akhirnya masalah itu semakin kronis. Intimasi dengan pasangan melemah karena kesibukan makin tinggi. Relasi anak dengan miskin, karena anak merasa Ayah arogan dan sulit mendengarkan. Rumah tangga anak dan mantu terganggu karena dipaksa ikut menjaga nama baik orangtua sebagai Gembala. Inilah akibat jika popularitas tidak diimbangi integritas.

Beberapa dari mereka diam-diam menjalin relasi intim dengan wanita lain. Sebab mereka merasa komunikasi dengan istri tidak nyambung. Meski awalnya hanya sekedar teman curhat, lama kelamaan istri merasa sakit hati. Sebab wanita (yang juga jemaat) tsb menikmati fasilitas uang, rumah, mobil dsb.

Sang istri pun terpukul, karena sadar bahwa uang itu diambil dari sebagian persembahan jemaat. Persembahan yang kudus digunakan untuk berbuat dosa. Hubungan itu kemudian berkembang menjadi perselingkuhan emosi hingga fisik. Bahkan sampai menghasilkan anak. Hebatnya dengan otoritas dan uang yang berlimpah mereka cakap menutup kasus tsb, kecuali dari si istri dan anak-anak.

Sakitnya bagi keluarga adalah, meski tahu banyak kasus sang Ayah atau suami mereka harus menahan diri. Mereka bertugas menjaga rahasia, nama baik Sang Gembala. Jangan sampai aib ini diketahui orang banyak. Salah satu logikanya adalah, jika aib ini tercium, jabatan sang Ayah dan keuangan keluarga akan hancur. Ironisnya, jerih payah mereka tidak dihargai sang Ayah/suami. Ybs malah makin "main gila" dan makin sering marah-marah.

Mekanisme pertahanan diri Pemimpin yang sudah jatuh ini umumnya, menganggap masalah ini sebagai salib. Bukan semata Aib. Bukan hanya menyalahkan Tuhan, mereka juga menuding setan sebagai penggoda yang ada dibalik kejatuhan mereka.  mereka minta keluarga untuk mengusir Roh Jahat itu jauh-jauh. Karena pemikiran yang salah inilah maka mereka merasa tidak perlu mencari bantuan konselor atau penasihat rohani bagi masalah mereka.

Refleksi Kitab Ayub

Kita sungguh prihatin, saat ini sebagian gereja hanya menyediakan konselor bagi jemaat yang bermasalah. Tapi jarang kita temui sinode menyediakan konselor khusus bagi Pendetanya yang bermasalah. Akibatnya Si pengerja gereja yang harus berjuang sendiri menangani masalah pribadi hingga keluarganya. Sayangnya sebagian mereka tidak mampu menyelesaikannya, dan masalah mereka semakin rumit.

Lebih dari dua ratus Pemimpin gereja yang Konseling dan atau psikotes di LK3 sejak tahun 2008, lebih separuh bermasalah dengan kesehatan jiwa. Ada yang mengalami depresi, daya tahan stres rendah, kecemasan tinggi, hingga relasi sosial yang miskin.

Saya baru saja selesai membaca ulang kitab Ayub. Refleksi saya dari Kitab ini ialah, saya semakin sadar betapa pentingnya Konseling. Termasuk untuk pribadi yang saleh seperti Ayub.

Sayangnya dalam kitab tsb diceritakan, teman2 Ayub seperti Elifas, Bildad dan Zofar meski tertarik menolong Ayub tapi tidak terlatih melakukannya, sehingga salah melakukan tugas pendampingan. Kondisi Ayub bukannya semakin baik, tapi memburuk. Untungnya dalam kondisi yang sudah putus asa, Ayub bertemu Sang Konselor Agung dan mengalami pemulihan.

Tugas pelayanan pendampingan atau Konseling menjadi bagian penting dari amanat Agung Kristus. Gereja perlu melatih para pemimpin dan aktifisnya untuk bisa melakukan tugas ini. Apalagi masalah jemaat semakin hari semakin kompleks. Perlunya melatih konselor awam hingga profesional.

Untunglah, kini beberapa gereja mulai terbuka dan melengkapi pelayanan gereja dengan bidang Konseling. Mereka mengirim sebagian aktifis mereka kuliah Konseling. Memulai Pusat Konseling dan menyiapkan modul-modul training Konseling dan Parenting yang holistik.

Semoga Pemimpin Gereja lainnya sadar dan mengikuti panggilan Sang Konselor Agung untuk menyediakan tenaga konselor di Gereja atau lembaga-lembaga kristiani lainnya.

Doakan visi kami agar tahun 2030 kelak kita bisa Melihat berdirinya satu pusat Konseling di setiap kota Indonesia dan tersedianya psikolog, psikiater dan konselor secara merata di tanah air.

Salam Keluarga kreatif
Julianto Simanjuntak & Roswitha Ndraha
Layanan Konseling keluarga dan karir (LK3)

Moto LK3:
Bagikanlah penderitaanmu
Maka penderitaanmu berkurang
Bagikanlah kebahagiaanmu
Maka kebahagiaanmu akan bertambah
JuliantoSimanjuntak.com