Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Published on 07 August 2017

Kasus

Bapak H, kerap memukul dan menendang istrinya, dan keempat anaknya tidak ada yang luput dari kekerasannya. Selain karena kebiasaan minum alkohol, H dibesarkan seorang ayah yang kasar, keras dan suka memukul anak-anaknya. Kebiasaan ini membuat istri H tidak tahan, dan memilih lari dari rumah meninggalkan suami dan keempat anaknya. Kedua anaknya yang laki-laki juga memilih kabur dari rumah, putus sekolah dan menjadi tukang parkir. Sementara dua anaknya yang perempuan dipungut oleh adik H agar tidak terus menerus menjadi korban kekerasan H.

****************

Tindak aniaya atau kekerasan  terhadap pasangan adalah tindak penyalahgunaan kekuatan fisik yang dilakukan oleh seseorang terhadap pasangannya.  Straus, Gelles dan Steinmetz (1980) menemukan bahwa tindak kekerasan paling kejam dilakukan oleh para pasangan berusia muda.  Kasus tindak kekerasan paling banyak ditemukan pada keluarga-keluarga dengan tingkat penghasilan rendah, ada pengangguran dan stres ekonomi. Konflik tentang anak-anak merupakan bentuk ketidaksepakatan suami-isteri yang paling sering  mengarah pada terjadinya  tindak kekerasan.

 

Siklus Tindak Kekerasan

Menurut Walker (1979), siklus kekerasan bisa diprediksikan dalam tiga fase yang bervariasi, baik dalam  hal lama berlangsungnya maupun dalam hal intensitasnya.

Pertama, fase meningkatnya ketegangan  yang ditandai dengan munculnya perdebatan terus-menerus atau meningkatnya konflik. Fase ini  bisa berlangsung selama beberapa hari saja atau selama beberapa tahun.  Perdebatan ini akan mengarah kepada pertengkaran.

Fase kedua, adalah fase terjadinya kekerasan yang seringkali melibatkan campur-tangan polisi.  Isteri kemudian minggat dari rumah, atau masuk rumah sakit.

Fase terakhir, adalah fase konsiliasi atau fase di mana suami yang suka memukul ini biasanya merasa menyesal, sedih atau meminta pengampunan.  Dia mungkin akan membelikan hadiah-hadiah untuk isterinya, berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama, atau dalam beberapa kasus dia akan mencari penanganan untuk dirinya sendiri.

 

Sumber atau Penyebab

Menurut Bandura (1973), kekerasan adalah bentuk respon yang dipelajari dalam menghadapi stres.  Sesudah memukuli isterinya biasanya tekanan stres menjadi berkurang. Pria yang seperti ini biasanya sejak kecil disosialisasikan untuk  memendam emosi dan mengeluarkan emosi itu dalam bentuk tindakan fisik dan bukan mengeluarkannya secara verbal.  

Elbow (1977) mengumpulkan data yang mengindikasikan bahwa pria yang suka memukul adalah orang-orang yang kuat dalam menimpakan kesalahan pada pihak luar, memproyeksikan kesalahan dan tanggung jawab atas suatu masalah atau konflik kepada pasangannya.  Pria semacam ini memendam karakter dan kecemburuan patologis yang biasanya mempercepat terjadinya tindak kekerasan.    Di bawah rasa cemburu ini tertanam (1) perasaan rendah diri yang sangat kuat,  (2) merasa tidak aman terhadap  keintiman, dan (3) isolasi sosial.

Rendahnya rasa percaya diri menyebabkan pria pemberang semacam ini mudah sekali terkena depresi.  Sifat impulsif dalam diri mereka semakin memperparah ketidakmampuan mereka untuk mengendalikan atau mengekspresikan kemarahan mereka dengan benar. Mereka cenderung menjadi pecandu  alkohol dan menyalahgunakan penggunaan obat-obatan, serta merendahkan/melecehkan wanita.  Karakteristik  umum yang ada pada mereka adalah riwayat kekerasan yang mereka alami di masa kanak serta kekerasan dalam hubungan intim dengan pasangan  dewasa.

Wanita yang mengalami tindak kekerasan cenderung patuh pada peranan seks dan nilai-nilai tradisional.  Mereka seringkali mengalami aniaya pada masa kanak-kanak.  Banyak yang menderita perasaan rendah diri dan percaya pada mitos bahwa entah bagaimana merekalah yang menyebabkan pemukulan itu terjadi dan merekalah yang bersalah/ bertanggung jawab atas tindakan si pemukul. Anehnya, saat seorang wanita korban KDRT berhenti dipukuli suaminya, malah bisa menjadi depresi karena dia merasa bahwa suaminya itu tidak lagi mempedulikannya karena suaminya berhenti memukuli.  

 

Penanganan

Tidaklah mudah menjadi terapis perkawinan.   Seorang terapis perkawinan yang efektif perlu memiliki gagasan yang jelas tentang sistem perkawinan yang sedang ditanganinya dan bagaimana dia bisa melakukan intervensi dengan efektif. Kekerasan merupakan hal yang umum ditemui dalam sebuah keluarga dan kekerasan berlangsung dalam pola yang bisa diprediksikan. Dibandingkan dengan berbagai faktor sosial maka faktor-faktor psikologis lebih memberikan sumbangan besar terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga.  

 

Pendekatan yang paling berguna dalam memahami dan menangani kekerasan rumah tangga (termasuk penganiayaan terhadap pasangan) adalah pendekatan yang dipahami berdasarkan teori sistem. Semua terapis perkawinan perlu peduli dan memahami serta membantu menangani pasangan yang mengalami tindak kekerasan. Cook dan Frantz-Cook  telah mengembangkan suatu penanganan komprehensif yang didasarkan pada komponen berikut ini:

  1. Penilaian terhadap masalah yang ada serta mencatat riwayat keluarga secara ekstensif
  2. Adanya sebuah rencana perlindungan yang eksplisit
  3. Persetujuan tertulis untuk tidak melakukan tindak kekerasan
  4. Pembedaan peran
  5. Identifikasi koalisi dan segitiga-segitiga
  6. Identifikasi tema dan urutan konflik
  7. Fasilitasi pola-pola alternatif untuk komunikasi dan perilaku

Sebuah model penilaian yang dikembangkan oleh Rosenbaum dan O’Leary (1986) telah terbukti sangat menolong dalam menilai keparahan dan tingkat bahayanya suatu tindak kekerasan. Jika terlihat adanya bahaya yang segera mengancam dan yang terus berlanjut, maka terapis perlu memberikan rujukan kepada sang isteri untuk mengadu ke salah satu tempat perlindungan/ shelter dan melibatkan perlindungan polisi.  

Terapis juga perlu menilai apakah pasangan tersebut berharap untuk tetap bersama-sama dan apakah tindak remediasi merupakan kemungkinan yang masuk akal. Jika terlihat adanya keinginan untuk berubah  maka langkah pertama adalah menghentikan perilaku kekerasan dan penganiayaan.  Terapis seringkali menemui masa sulit untuk menjaga keseimbangan dalam menangani tindak penganiayaan.

Proses ini melibatkan rasionalisasi yang dilakukan oleh partner yang melakukan tindak  kekerasan, menolong pasangan melihat suatu sistem yang memuat cara berhubungan dan cara memecahkan masalah yang lebih produktif, serta pada saat yang bersamaan memberikan dukungan terhadap kebutuhan serta perasaan kedua belah pihak (Nichols, 1988).

Saat menangani pasangan yang bermasalah dengan tindak kekerasan dalam rumah tangga maka terapis perlu memahami lima konsep berikut ini:

  1. Si penganiaya bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukannya.  Korban tidak bisa menyebabkan atau menghilangkan tindak kekerasan itu.
  2. Tindak kekerasan adalah sesuatu yang dipelajari.  Si penganiaya belajar untuk menganiaya, biasanya dalam keluarga asalnya.  Jika si penganiaya belajar untuk bisa melakukan tindak aniaya, maka berarti dia juga bisa belajar untuk tidak menganiaya.
  3. Provokasi tidaklah sama dengan justifikasi (pembenaran).  Selalu ada alternatif lain selain tindak kekerasan.  Tidak ada keadaan apa pun yang mensahkan terjadinya tindak kekerasan terhadap suami/isteri.
  4. Tindak aniaya itu sangat berbahaya bagi semua orang dalam keluarga termasuk bagi si penganiaya itu sendiri.  Luka/kesakitan yang diderita korban bisa terlihat dengan jelas dan kasat mata, sedangkan bagaimana efek tindak kekerasan yang dilakukan di depan mata anak-anak mungkin bersifat lebih samar namun sama seriusnya.  Tindak kekerasan adalah tindak  ilegal.  Karenanya si pelaku bisa ditahan, diajukan ke pengadilan dan jika terbukti bersalah maka dia akan menanggung hukuman penjara.
  5. Sekali tindak kekerasan terjadi dalam suatu hubungan maka hal ini cenderung akan terus berlanjut kecuali terjadi  suatu perubahan. 

 

Adiksi Hubungan     

Kenapa ada orang yang tega menganiaya pasangan dan anaknya sendiri? Salah satu penyebabnya adalah mereka menderita apa yang disebut “adiksi hubungan”.  Ayah adalah kontributor utama gangguan ini. 

 

Apa itu adiksi hubungan?

Orang yang menderita adiksi hubungan/relationship addict adalah mereka yang berusaha keras diterima dan dihargai orang lain.  Mereka mengalami siksaan batin oleh berbagai rasa takut yang saling bertolak belakang satu sama lain. Di satu sisi mereka takut  ditinggalkan oleh orang-orang yang paling  mereka kasihi. Di sisi lain mereka takut  tertekan  oleh kedekatan hubungan tersebut,  karena takut kehilangan kendali atau kewenangannya atau OTORITASNYA.

 

Apa ciri-cirinya

Siklusnya  adalah:  

Melekat erat -  panik - menolak.  

Melekat erat -  panik -  menolak.  

Inilah siklus yang umum ditemui pada orang-orang yang suka mengendalikan orang lain.  Orang yang seperti ini akhirnya SENGSARA karena hubungan-hubungannya dengan sahabat baik, rekan kerja atau kerabatnya sendiri, mudah hancur berantakan. Mereka biasanya terisolasi secara sosial karena dijauhi  dan dibenci.

 

Penyebabnya?

John N. Briere, seorang dosen di University of Southern California School of Medicine, menemukan kaitan yang sangat  kuat antara gejala yang nampak pada orang-orang yang cenderung suka menganiaya dengan masa kanak-kanak  yang sangat menderita, baik itu penderitaan fisik maupun emosi. Kebanyakan  orang beranggapan bahwa  ibulah yang paling membentuk dan mewarnai kepribadian seorang anak.  Tetapi para peneliti menemukan bahwa penolakan seorang ayah jauh lebih kuat  mengubah seorang anak laki-laki  yang baik dan manis, menjadi “teroris” keluarga bagi isteri, anak-anak dan masyarakat di masa depannya.

Donald G. Dutton,  dalam  bukunya The Abusive Personality mencatat bahwa kontributor terbesar di masa kanak yang membuat seseorang berkembang menjadi penganiaya adalah ayah yang menolak anak atau menganiaya anak, baik verbal maupun fisik. 

 

Mengapa  pasangan Anda menjadi pribadi yang suka menganiaya?

Mereka  yang mengalami trauma di masa kecil seringkali memiliki struktur saraf yang sudah melenceng/terpelintir sedemikian rupa, sehingga pemicu yang sangat kecil sekali pun akan mengguncang dan menimbulkan reaksi yang sangat berlebihan.   Anak yang pernah dianiaya atau ditelantarkan orang tuanya di masa kecil akan memendam campuran kemarahan, rasa malu, rasa tidak percaya dan kecemasan yang sifatnya sangat mudah meledak.  Begitu anak ini menjadi dewasa, apa yang dulu dipendamnya akan mulai naik dan meledak ke permukaan.

Dutton mengatakan bahwa “sesudah beberapa kali meledak maka kecenderungan menganiaya itu menjadi tertanam di dalam sistem dirinya.  Mereka menjadi terprogram untuk melakukan aniaya terhadap orang-orang dekatnya.”  Anak yang dulu jadi korban trauma itu sekarang tumbuh menjadi seorang penganiaya.  Setidaknya suka menyerang dengan kemarahan yang kasar.

Sebenarnya ada keinginan dia untuk berubah, namun yang lebih kuat adalah perasaan yang tidak mau berubah.  Itu sebabnya orang-orang di  dekatnya  melihat orang itu  seperti punya dua kepribadian  yang saling bertentangan satu sama lain.  Satu baik, satunya jahat.

 

Bagaimana bersikap?  

Anda harus menyadari bahwa, suami  atau  ayah  Anda  laksana  gunung yang sewaktu-waktu bisa meletus. Secara tidak sadar, si penganiaya ini pada dasarnya berharap istrinya bisa menjadi sosok pengganti orang tuanya yang dulu tidak dekat secara emosi. Tapi itu mustahil. Sebagai istri ia perlu belajar bagaimana menghindar jika suami sudah melakukan kekerasan. Perlu nomor  kontak orang berwenang yang bisa membantu saat kekerasan terjadi. Secara rutin usahakan (jika mungkin) membawa suaminya konsultasi.

 

Julianto Simanjuntak 

 

Bacaan

  1. "Healing Your Family Tree" oleh: Beverly Hubble Tauke
  2. Ketrampilan Perkawinan, Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha  (Pelikan Indonesia)
  3. Len Sperry & J. Carlson. Marital Therapy (Love Publishing Company, Colorado, 1991)
  4. Mengubah Pasangan Tanpa Perkataan (Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha, Pelikan)

 

***********

 

CV Julianto Simanjuntak 

 

Julianto Simanjuntak  menikah dengan Roswitha Ndraha dan dikaruniai dua putra  Josephus (21) dan Moze (17). Mereka bekerja sebagai Terapis Keluarga dan kesehatan mental dan secara rutin memberikan seminar pemberdayaan di bidang konseling dan pendidikan di lebih 80 kota. Keluarga ini berdomisili di Salatiga, Jawa Tengah.

 

Pendidikan:

-          B.Th. di STT I3 (1988)

-          S1 Konseling Pastoral dari UKSW Salatiga,

-          M.Div. bidang konseling dari STTRII Jakarta

-          M.Si. bidang Sosiologi Agama dari UKSW

-          Doktor Teologi bidang konseling dari STT “Jaffray” Jakarta

 

Mereka mendirikan LK3 dan Yayasan Pelikan dengan kerinduan (visi) melihat berdirinya pusat konseling di setiap kota, tersedianya tenaga psikolog, psikiater dan konselor secara merata di Indonesia. Untuk itu mereka rutin memberi edukasi dengan menulis buku-buku konseling yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Penerbit Visi, Pelikan dan Penerbit Andi.

Judul buku-buku mereka antara lain:

  1. Seni Merayakan Hidup yang Sulit (Pelikan)
  2. Mencinta Hingga Terluka (Gramedia)
  3. Kesehatan Mental dan Masa Depan Anak  (Gramedia) 
  4. Perlengkapan Seorang Konselor  (Pelikan)
  5. Transformasi Perilaku Seksual
  6. Mendisiplin Anak Dengan Cerita
  7. Tidak Ada Anak yang Sulit
  8. Bersahabat Dengan Remaja (Pelikan)
  9. Mengubah Pasangan Tanpa Perkataan (Visi)
  10. Membangun Harga Diri Anak (Pelikan)
  11. Mendidik Anak Utuh Menuai Keturunan Tangguh (editor)
  12. Banyak Cocok Sedikit Cekcok (Visi)
  13. Ketrampilan Perkawinan (Pelikan)
  14. Mengenali Monster Pribadi: Seni pemulihan diri dari trauma, emosi negatif dan kebiasaan buruk (Pelikan)
  15. Konseling dan Amanat Agung: dari konseling intervensi ke edukasi
  16. Alat Peraga Di Tangan Tuhan: Mengapa hal buruk menimpa keluarga baik-baik? (Pelikan)
  17. Perlengkapan Seorang Konselor (Pelikan)
  18. Hidup Berguna Mati Bahagia (Pelikan)
  19. Ayah yang Hilang: Membawa kembali hati ayah kepada keluarganya (Pelikan)
  20. Istriku, Matahariku (Pelikan)

 

Apresiasi terhadap  buku Julianto dan Roswitha  datang dari Jakob Oetama (Preskom Kompas Gramedia),  Agung Adiprasetyo (CEO Kompas Gramedia), Prof. Yohanes Surya (Fisikawan), Prof. Irwanto, Ph.D.  (Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atmajaya),  James Riady (CEO Lippo Group),  Andrias Harefa, Jonathan Parapak, Ph.D., Prof. Dr. Wimpie Pangkahila,  Prof. Taliziduhu Ndraha, Prof. Mesach Krisetya, Ph.D.,  Pdt. Paul Gunadi, Ph.D., dan lain-lain.

Julianto mendapatkan piagam penghagaan dari Ketua  Badan Narkotika Nasional (BNN) di Denpasar pada tahun 2006 atas kiprah pelayanan di antara keluarga pecandu narkoba. Sejak 2004 Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha  rutin memberikan pelatihan konseling keluarga dan kesehatan mental  di pelbagai kota dan negara.


KONTAK

Website : www.juliantosimanjuntak.com

Twitter: @PeduliKeluarga dan @DrJSimanjuntak

Appstore:

http://juliantobooks.mahoni.com

www.TokoBukuRohani.Mahoni.com

Untuk Android:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.mahoni.tokobuku
pilih kategori Religion & Spirituality (Christian & Catolik)

atau kategori Psychology & Counseling

 

 

 

 

Testimoni buku-buku Julianto & Roswitha

 

Jakob Oetama (Preskom Kompas-Gramedia)

“Sungguh suatu paradoks yang menggetarkan: Tuhan hadir justru ketika pencobaan hidup menimpa kita. Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit berisi kisah nyata tentang akrabnya penderitaan dan kehadiran Tuhan.”

 

Agung Adiprasetyo (CEO Kelompok Kompas-Gramedia)

“Buku Mencinta Hingga Terluka mengajarkan kekuatan cinta dalam pengampunan yang memulihkan dan menghidupkan.”

 

Prof. Yohanes Surya, Ph.D.

“Tanpa masalah dunia ini terasa hambar dan tidak akan muncul penemuan dan orang-orang besar.  Sdr Julianto & Roswitha dalam bukunya Seni Merayakan Hidup Yang Sulit,  telah begitu jeli melihat masalah dari sisi positifnya  dan menyadarkan kita bahwa Tuhan selalu bersama kita saat menghadapi masalah.” 

 

Paul Gunadi, Ph.D,  (Gembala Sidang, Dosen dan Konselor, tinggal di California)

“Secara pribadi saya menikmati buku  Banyak Cocok Sedikit Cekcok  ini.  Tuhan telah melengkapi Julianto dan Roswitha  bukan saja dengan pengetahuan yang dalam tentang dinamika pernikahan dan persiapannya, tetapi juga pengalaman yang kaya dalam menangani masalah keluarga.  Buku ini sangat baik digunakan sebagai panduan pranikah, dan bahkan bagi yang sudah menikah.  Kisah-kisah pribadi ini menyentuh sekaligus menambah pemahaman kita akan dinamika pernikahan.”

 

Prof. Irwanto, Ph.D (Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta)

“Buku Mencinta Hingga Terluka tidak sekedar berteori tetapi bertutur tentang hidup, contoh nyata, dan keimanan yang berakar pada rasa yang dapat kita maknai bersama.”

 

Prof. Dr. FG. Winarno

“Buku Seni Pemulihan Diri karya  Julianto meski sederhana tetapi sangat menyentuh hati saya.”

 

Jonathan Parapak (Rektor UPH)

“Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit memberikan kita inspirasi untuk selalu berpengharapan dalam mengarungi berbagai tantangan kehidupan.”

 

James Riady (CEO Lippo Group)

“Tuhan punya tujuan untuk setiap kesulitan kita. Dia yang Maha Kasih tidak mungkin mengizinkan kesulitan tanpa maksud baik. Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit  memberikan kita wawasan bagaimana kita menjalani penderitaan dari perspektif Tuhan.”

 

Anne Parapak, M.A. (Praktisi Pelayanan Keluarga)

“Membina anak adalah misi yang berdampak kekal. Alangkah pentingnya kita mempunyai visi yang jelas dan membekali diri mengemban tugas yang mulia ini. Buku Tidak Ada Anak yang Sulit mengajarkan kita banyak hal tentang mendidik anak.”

 

Dr. Dwidjo Saputro, Sp.KJ. (Psikiater)

Buku Bebas Dari Gangguan Jiwa  karya Julianto sangat bermanfaat bagi para konselor di Indonesia dalam melakukan konseling, terutama masalah gangguan jiwa.”

 

Prof. Dr. Mesach Krisetya(Guru Besar Emeritus Bidang Konseling - UKSW)
"Karunia membedakan roh, merupakan salah satu karunia rohani yang kita butuhkan untuk mendiagnosa gangguan jiwa.  Buku Bebas Dari Gangguan Jiwa  ini menolong pembaca bagaimana melaksanakannya."

 

Prof. Taliziduhu Ndraha (Kybernolog)

”Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit sungguh bernilai karena isinya tidak sekedar pengetahuan tetapi pengalaman jatuh-bangun hidup penulis sendiri.  Di sini  Penulis  membagikan nilai-nilai hidup yang bermakna bagi sesama ”pengembara” agar dapat merayakan  hidup yang sulit.”

 

Prof. Irwanto, Ph.D. (Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta)

”Dalam buku Seni Pemulihan Diri ini Anda akan berkenalan dengan teman-teman Penulis  yang berbagi pengalaman hidup. Pengalaman yang dapat membawa para pembaca ke dalam proses belajar untuk mengenal diri sendiri dan menggunakan pengetahuan itu untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup yang menggelayuti Anda bertahun-tahun.”

 

Andrias Harefa :

”Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit  sarat dengan kesaksian-kesaksian dari orang-orang yang diterpa badai kehidupan. Penulis menantang pembaca untuk mendefinisikan ulang makna kesulitan dan masalah kehidupan, agar dapat tetap merayakan dan mensyukuri hidup itu sendiri sebagai anugerah dan rahmat besar.”