DENIAL VS HOAX

Published on 09 January 2018

Belum lama Klien kami seorang Ibu begitu shock ketika mendengarkan pengakuan anaknya bahwa ia Gay.

Bentuk penyangkalannya ialah dengan berkata, "Nak kamu bukan Gay, dan kamu akan segera bebas". Sayangnya si Ibu enggan berdialog dengan anaknya akan pilihannya segera menikah dengan sesama jenis. Tapi ketika Anaknya dikirim ke kantor kami, anak tersebut memang Gay dan hidup dengan sesama jenis.

Saya sendiri pernah tidak percaya pada pengakuan klien saya bahwa suaminya seorang Gembala satu Gereja yang sangat saya hormati tidur dengan pelacur 2- 3 kali dalam seminggu. Saya anggap itu bohong dan mengada-ada. Tapi setelah mendengar pengakuan langsung dari suaminya baru saya percaya.

Ini bisa juga terjadi jika kamu mendapat berita orang yang kamu kagumi ternyata BERCERAI. Kita langsung berpikir ini pasti Hoax, tanpa mencari lebih dulu kebenarannya. Beda kalau itu menimpa orang yang tidak kita kenal, atau malah kita tidak sukai.

Ini bisa juga terjadi ketika seorang Ibu mendengarkan pengakuan anaknya hamil diluar nikah. Atau pengalaman lainnnya yang menyedihkan.

Berat rasanya menerima kenyataan, apalagi saat mendengar berita bahwa orang yang kita sayangi tabrakan dan meninggal dunia.

Menurut Dr. Elisabeth Kubler-Ross, seorang psikiatri dari Swiss, Ada lima fase yang biasanya dilalui oleh seseorang ketika mengalami duka cita akibat kematian salah seorang anggota keluarga yaitu shock, denial, anger, mourning dan recovery.

Lima fase yang dituliskan Elisabeth Kubler-Ross secara ringkas digambarkan sbb:

1. Shock (Terkejut)

Merasa sangat terkejut dan sulit untuk percaya mendengar kabar buruk tentang orang yg kita sayangi.  Dalam hati kita berteriak  "Tidak, ini  tidak mungkin terjadi."

2. Denial (Penyangkalan)

Kita menyangkal bahwa peristiwa itu benar adanya. Menganggap itu tidak mungkin, kalau berita kita langsung sebut itu HOAX. Sebab menerima kenyataan itu terasa sangat berat
Seorang klien saya kaget waktu mendengar anaknya seorang Gay. Bentuk penyangkalannya ialah dengan berkata, "Nak kamu akan segera bebas". Sayangnya si Ibu enggan berdialog dengan anaknya akan pilihannya mau menikah dengan sesama jenis. Apalagi kalau berita itu pasangan atau anak kita meninggal dunia sementara belum ada tanda bahwa ybs sakit.

3. Anger (Kemarahan)

Kita tidak akan menerima kenyaatan ini dan mulai menyalahkan semua pihak yang menyebabkan itu terjadi. Kalau kerabat kita meninggal karena ditabrak maka sang supir akan menjadi sasaran kemarahan kita
Ada pula yang menyalahkan Tuhan.

Kalau kita mendengar tokoh yang kita kagumi bercerai, bisa jadi orang tsb menjadi sasaran kekesalan kita. Tapi tidak memberi solusi.

Atau jika seorang mengaku berselingkuh, maka orang yang merasa sayang kepadanya akan MARAH2. Bahkan menuding orang yang menjadi selingkuhannya sebagai Iblis, dsb.

4. Mourning (Berkabung)

Dalam kasus anak atau pasangan kita meninggal, fase keempat ini yang paling lama. Bisa berlangsung  beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun. Perasaan depresi, rasa bersalah, rasa kehilangan, kesepian, panik dan menangis tanpa pemicu yang jelas bercampur aduk dan muncul berulang. Tak jarang menjadi gangguan psikosomatis, atau  termanifestasi dalam penyakit fisik ringan.

Kita kita mendengar sahabat kita bercerai kita bisa merasa sangat sedih dan tidak berdaya. Menjadi kehilangan semangat. Apalagi dalam diri seorang anak.

5. Recovery (Pemulihan)

Berdasarkan berjalannya waktu, rasa sedih akibat kematian,  rasa sakit akibat perceraian orangtua akan berkurang meski tidak akan hilang. Selalu ada sisa atau bekas, hanya kita sanggup menjalaninya. Tapi yang tidak melewati masa ini sangat perlu menjalani proses konseling untuk bisa cepat pulih.

Julianto Simanjuntak
LK3
Catatan Konseling