Perselingkuhan Emosi (Emotional Affair)

Published on 12 January 2018

Dalam PENGALAMAN Konseling, salah satu sumber terjadinya emotional affair adalah rasa kesepian dan merasa ditelantarkan secara emosi.

Perselingkuhan emosi dimulai dengan senang bertemu, chatting, suka curhat, senang mendapat perhatian, hingga terikat secara emosi, rindu yang mendalam.
Di satu sisi klien sudah lama merasa diduakan. Sebab sang suami pun sudah lama "selingkuh" dengan kariernya. Lama kelamaan Ia merasa hanyalah menjadi "istri kedua". Pengalaman ini sangat umum dalam pasangan yang salah satunya sangat aktif di pelayanan.

Emosinya diabaikan, kebutuhan jiwanya tak pernah didengarkan. Sang suami makin sibuk dan keukeh (ngotot) dengan ilusinya bahwa kariernya adalan "panggilan Tuhan", bekerja untuk Tuhan. Titik.

Kenyataannya, suami kerap pulang larut malam, lalu minta dilayani dan kalau tidak diberikan ujungnya marah-marah.

Sementara itu kebutuhan istri akan kesenangan, kebersamaan, dan kemesraan menjadi ilusi semata. Kerja keras mengurus anak tidak mendapat imbalan setara. 

Istri merasa hanya dijadikan boneka dan "poster pajangan suami" yang mendukung kemuliaan jabatan sang suami. Apakah sebagai "Hamba Tuhan" atau pejabat yang mulia. Sebaliknya hak-hak pribadinya justru dikebiri,  yang  ada hanya perintah dan kewajiban. Lebih sakit lagi, suaminya mengutip ayat suci untuk membenarkan diri.

Lama kelamaan pertahanan diri sang Istri pun jebol. Kesepian makin menggigit sakit tak tertahankan.

Lalu munculah kebutuhan teman curhat untuk katarsis. Cilakanya teman baik yang ditemukan justru punya nasib yang sama. Klop.

Akhirnya klien mendapatkan cinta dan perhatian di tempat yang salah. Konseling pada orang yang salah. Sampai terjadilah perselingkuhan emosi hingga sentuhan fisik yang memberi efek kenyamanan luar biasa, seolah mampu menghilangkan rasa sakit yang sudah bertahun-tahun lamanya. Lama kelamaan rasa bersalah pun menjadi kalah. Mata hati kabur melihat kebenaran. Suami yang egois membentuk kepribadian istri yang sama. Tidak peduli.

Karena besarnya kebutuhan emosi, yang sudah sangat lama menderita secara lahir dan batin, maka nurani sang istri lama kelamaan menjadi mati suri. Ajakan untuk kembali pada kebenaran pun diabaikan. Belum lagi luka batin akibat trauma komunikasi akibat konflik yang berkepanjangan.

Ah, situasinya memang seperti "makan buah simalakama". Mau tetap setia menderita, jika tidak setia menghancurkan keluarga. 

Pilih mana?

Jika ingin memahami lebih lanjut kasus tentang kesepian, silahkan membaca artikel kami dibawah ini:
http://bit.ly/2FvrkQD

Julianto Simanjuntak
Catatan Konseling

Melayani Bersama SHARE
KLIK:
http://bit.ly/SHARE-LK3
 
KELUARGA KREATIF~ LK3