Bersikap Benar Saat Pasangan Selingkuh

Published on 12 January 2018

Selingkuh adalah fenomena umum di sekitar kita. Malah sebagian klien pria bangga dan berterus terang pada pasangannya bahwa dia (lebih) mencintai selingkuhannya daripada sang istri.

Saat seperti ini tentu membuat isrinya shock, dan bingung bersikap. Tulisan ini adalah membantu bagaimana bersikap saat pasanganmu sudah berterus terang mengenai hubungannya dengan wanita atau pria lain.

Yang dimaksud selingkuh di sini adalah adanya hubungan emosi dan ikatan fisik secara mendalam, disertai komitmen, baik untuk bertemu secara rutin atau tidur bersama yang disepakati kedua belah pihak.

Biasanya, saat suami atau istri berterus terang soal perselingkuhannya, konflik dengan pasangan yang sah sudah kronis, sering, dan lama. Istri atau suami dari pasangan yang selingkuh umumnya meminta supaya hubungan tadi dihentikan.

Namun makin dituntut, cinta gelap itu makin menjadi-jadi.
Komunikasi yang dibangun berbasis saling tidak percaya, karena hati kadung terluka, memperburuk relasi yang sebenarnya sudah lama rapuh.

Respek sudah jatuh ke titik nol. Cinta sudah lama tidak dirawat, menjadi tawar dan hambar.
Secara umum penyebabnya adalah saat usia perkawinan bertambah, tidak ada upaya merawat cinta.

Suasana komunikasi membosankan, intimasi melemah. Ngobrol atau makan bersama menjadi barang mewah. Apalagi rekreasi. Suami atau istri tanpa sadar larut dalam pekerjaan.

Belum lagi, kesibukan sosial dan pelayanan di gereja menguras enerji. Kegiatan ini malah dijadikan pelarian dari kebosanan yang terjadi di rumah. Konflik dihindari dan dibiarkan karena masing-masing merasa sudah capek. Akibatnya kemarahan dan kekecewaan menumpuk. Saat meledak, terjadilah komunikasi yang saling menyerang. Luka semakin dalam. Keduanya malas pergi ke konselor, sebab sudah putus asa dan merasa tidak akan ada gunanya.

Di tengah situasi konflik ini, salah satu dari mereka (atau keduanya) bertemu dengan lawan jenis yang memberikan sesuatu yang lebih. Bisa jadi itu berupa telinga untuk mendengarkan curhat, sikap yang lemah lembut, atau bentuk perhatian lain, seperti makanan atau pertolongan. Jika gayung bersambut, maka kebersamaan ini menjadi asyik, mendebarkan, dan sulit dihentikan; apalagi jika sudah terjadi sexual attachment.

Umumnya pasangan yang sah akan merasakan perubahan itu, kemudian berusaha bertanya baik-baik. Mungkin cara bertanya istri atau suaminya menimbulkan perasaan tertuduh bagi yang selingkuh. Bisa juga perasaan bersalahnya beralih menjadi kemarahan, persis remaja yang ketahuan pacaran atau merokok pertama kali. Dia merasa ada yang mengganggu kesenangannya.

Maka konflik tidak terhindarkan.
Pertanyaan yang tidak terjawab, ditambah lagi kecurigaan yang bertumpuk, akan melemahkan kepercayaan. Ini membuat konflik menjadi stabil. Topiknya itu-itusaja. Ketika akhirnya pengakuan tercetus, jalan keluar sepertinya tidak ada lagi. Pertengkaran menjadi kasar Ancaman dilontarkan.

Akibatnya, anak-anak menjadi korban. Mereka bingung melihat cara berkomunikasi orang tuanya yang dingin, saling menyakiti. Kadang anak-anak merasa bersalah, dan berpikir mungkin mereka yang menjadi penyebab orang tuanya bertengkar. Persepsi mereka tentang pernikahan menjadi buruk. Diam-diam mereka menyimpan kemarahan dan kepahitan serta rasa tidak percaya pada orang tua. Di sekolah mereka menjadi malu dan minder, mengingat kondisi orang tuanya.

Kalau sudah remaja, mereka enggan pulang ke rumah. Anak-anak merasa rumah laksana neraka yang tak layak huni. Kalaupun di rumah, mereka memilih diam di kamar, membenamkan diri pada gadget, internet dan game.

Suami-istri yang egois ini tidak mau tahu lagi akibat buruk yang menimpa anak-anak. Orang tua yang terluka pasti tak berdaya merawat anaknya sendiri. Mereka seperti induk ayam, yang hanya bisa mencari dan menyediakan makanan bagi anak-anaknya. Tapi sudah tak sanggup memberi emosi, waktu dan hati buat anak.

Bagaimana bersikap?

Jika selama ini cara yang Anda lakukan masih gagal, cobalah pendekatan baru ini.

Pertama, jangan musuhi selingkuhan suami atau istri Anda. Jadikan mereka "teman" sementara. Sebab jika Anda memusuhi orang yang dicintai pasangan Anda, itu sama saja Anda berada di posisi berseberangan dengan suami atau istri Anda. Dia akan membela selingkuhannya dan menambah luka anda sendiri. Coba pahami apa yang menjadi dasar pasangan anda affair. Termasuk sumbangsih atau peran anda dalam situasi ini.

Kedua, jangan sok membicarakan moral dan agama pada pasanganmu. Dia sendiri tahu bahwa ini salah. Dia merasa Anda pun punya andil dalam keadaan ini. Memberi nasihat pada pasangan hanya menambah konflik. Ingat, pasanganmu yang sedang menyeleweng itu sedang "abnormal" cara berpikirnya.

Ketiga, sampaikan perasaan kecewa Anda secara asertif pada pasangan. Jangan terlalu sering. Cari waktu yang tepat, dan cara yang pas.

Keempat, pastikan Anda tetap menjalankan fungsimu sebagai istri atau suami yang bertanggung jawab. Jangan sampai ada celah untuk dia menyalahkanmu, lalu menjadikanmu sebagai kambing hitam dari kesalahan yang dibuatnya.

Kelima, hindari konflik di depan anak-anak. Jangan sampai menyerang atau menyalahkan papa/mama mereka. Itu hanya menimbulkan luka dan menambah masalah. Pasanganmu akan terpojok, dan harga dirinya hancur di depan anak-anak.

Keenam, jangan mengadu pada keluarga dekatmu kecuali atas kesepakatan bersama. Ini menambah rasa tidak percaya pasanganmu. Dia kehilangan muka jika bertemu dengan kerabatmu. Ia pasti disalahkan keluargamu. Ini menyakitkan.

Ketujuh, carilah konselor atau mediator yang netral, yang membantu Anda menjalani proses ini dengan bijak. Hindari curhat atau minta pendapat pada sahabat Anda yang tidak paham menangani masalah ini. Jangan-jangan, nasihatnya akan menyesakkan Anda dalam bersikap.

Kedelapan, usahakan berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Percaya bahwa masalah ini akan ada akhirnya. Dengan tenang dan dapat berdoa, ada jalan Tuhan campur tangan dalam masalah Anda. Tapi jika Anda sibuk turun tangan mau menyelesaikan sendiri dengan caramu, malah menambah masalah.

Kesembilan, belajarlah dengan membaca buku-buku yang baik tentang perkawinan. Buku yang baik bisa memberi ada masukan berharga dan bijaksana. Agar anda mampu bersikap bijak saat masalah ini belum selesai.

Kesepuluh, berilah pasanganmu selalu kesempatan kedua. Menunggu dia bertobat dan menyadari kesalahannya. Bukan dengan cara instan, tapi membiarkan proses berjalan alami. Sebagian klien kami akhirnya bosan dengan selingkuhannya. Kembali dengan istri/suaminya, karena menyadari pasangannya ternyata jauh lebih baik.

Semoga berguna.
Julianto Simanjuntak
Penulis dan Pendiri LK3

Bacaan

1. "Mengubah Pasangan Tanpa Perkataan". Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha
2. Seni merawat Keluarga (Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha)
3. Mencinta hingga Terluka (Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha)
 
________________________

Visi LK3: Satu pusat Konseling di setiap Kota, tersedianya Konselor, Psikolog dan Psikiater secara merata di Indonesia. (Julianto-Roswitha)

Melayani Bersama SHARE
KLIK:
http://bit.ly/SHARE-LK3