MENGAPA MEMAAFKAN

MENGAPA MEMAAFKAN

Published on 24 January 2018

"Pengampunan adalah tindakan sadar memutuskan untuk melepaskan kebencian telah merugikan. Tidak peduli apakah mereka itu benar-benar layak diampuni atau tidak".

Sebagian kita rentan terluka, oleh kemarahan, kekecewaan dan kehilangan. Andai sehari saja kita mengalami tiga kali terluka, maka lebih seribu kali dalam setahun.

Masalahnya ada yang mudah memaafkan dan ada yang sulit. Bagi yang mudah memaafkan, akan mengalami manfaat dari mengampuni. Sebaliknya, mereka yang sulit mengampuni akan mengalami banyak masalah psikhis maupun fisik.

Gaya hidup memaafkan bisa dipelajari, asalkan kita mau. Sifat pendendam atau sulit memberi maaf pada sebagian orang memang sudah diwarisi sebagian individu dari pola asuh yang salah di rumah.

Mengelola Sisa Luka
Sebagian luka di dalam jiwa kita berbekas,  ada "sisa". Terluka itu seperti ada seseorang menusuk hati kita dengan paku. Saat rekan yang melukai meminta maaf, itu baru proses mencabut paku. Tapi selalu ada sisa berupa lobang bekas "paku" tadi. Nah, jika bekas lubang itu tidak ditutup dengan baik, maka sisa itu masih sangat terasa. Kalau ybs tidak minta maaf, maka lukanya jauh lebih dalam dan sakit. Tapi kalau ada rekonsiliasi, sisa itu bisa dinikmati.

Luka kekecewaan karena penghianatan, luka kemarahan karena penghinaan, atau luka kesedihan karena kehilangan sesuatu yang berharga pasti selalu akan ada sisa. Sisa itu bisa berpengaruh buruk, tapi bisa juga tidak. Sebagian orang ternyata sanggup memaafkan dan menikmati kenangan bekas luka tadi.

Kenangan pahit atas pengalaman buruk memang tidak mudah hilang. Meski tak jarang si pemilik luka itu kadang berpura-pura sudah sembuh. Tapi jika dia bertemu kembali dengan memori atau orangnya secara langsung, luka itu bisa mendadak kambuh.

Menutup Bekas Luka
Hati manusia yang berdosa memang rentan terluka. Apalagi masa kanak-kanak kita besar tanpa kasih sayang dan kekerasan. Gelas cinta kita kecil dan bocor, membuat kita rentan untuk dilukai. Mudah tersinggung, kecewa atau marah. Kita tumbuh menjadi pribadi yang tidak dewasa dan  cenderung egois. Situasi inilah yang menambah luka itu mudah kambuh, dan terasa sakit kembali. Bahkan hanya karena faktor pencetus yang biasa.

Karena itu kita perlu berlatih menutup bekas lubang luka tadi. Kalau orang yang menyakiti kita tidak mau minta maaf atau tidak mampu mengubah diri, kita sendiri memulihkannya. Toh itu hati kita sendiri. Hidup kita sendiri. Jangan sampai kita terganggu hanya karena menunggu maaf dari orang tsb. Jangan kita tersiksa karena terus berharap orang itu berubah.

Jadilah dewasa, ambil tanggungjawab atas lukamu sendiri. Kita tinggal dengan orang berdosa, yang kapan saja bisa melukai kita. Sebaiknya kita mencegah sebelum kita dilukai. Kalau sudah kadung terluka, kita perlu segera memutuskan untuk memaafkan, meski orang tersebut tidak minta maaf. Sebab cinta kreatif atau agape memampukan kita untuk memaafkan mereka yang tidak tahu apa yang dia sudah perbuat.

Tapi kalau kita sengaja menyimpan luka, memelihara kemarahan itu maka luka itu tidak akan pernah sembuh. Malah, "sisa nanah" dari bekas luka itu bisa menyemprot ke sana kemari, kena pada orang yang tidak bersalah. Ahh, malangnya kamu yang senang menyimpan kemarahan. Para pendendam tidak akan  pernah tinggal diam dengan tenang. Dia dihukum oleh keputusannya sendiri, menyimpan luka yang berubah menjadi kepahitan.

Belajar dari Setiap Luka
Pengampunan adalah tindakan sadar memutuskan untuk melepaskan kebencian  yang telah merugikan Anda. Tidak peduli apakah mereka itu benar-benar layak diampuni atau tidak.

Memaafkan artinya, ingat tapi sudah tidak sakit. Ya, jika saudara memutuskan untuk memaafkan maka saudara mampu menikmati bekas luka tadi. Berani menelusuri pengalaman anda dilukai. Mengambil hikmah dari pengalaman itu. Akhirnya dengan bekas luka tadi anda berani mendampingi mereka yang terluka.

Luka itu INVESTASI. Dengan bekas luka tadi kita cakap berempati karena pernah merasakan luka yang sama. Kita menghibur dengan penghiburan yang pernah kita terima. Jadi tak ada luka yang sia-sia.

Memang, semakin dalam luka, semakin besar daya pengampunan dibutuhkan. Ada kalanya kita tak mampu  menjalani luka kita sendiri. Kita butuh teman, dukungan sosial. Selain itu sebagian luka  butuh proses waktu yang tidak pendek.

Yang penting belajarlah untuk berbagi. Belajar terbuka dengan yang kita percaya. Berbagi perasaan kemarahan, luka kekecewaan kita. Kita butuh sahabat yang Menemani kita saat menjalani bekas luka tadi, sampai kita menang mengatasi luka.

Ketika Anda benar-benar memaafkan dapat  meredakan kemarahan, dan  beban fisik yang akibat  kecewa atau marah ikut berkurang dan bahkan hilang.

Manfaat lainnya dari pengampunan mengurangi dampak negatif dari perasaan ketegangan, kemarahan, depresi dan kelelahan. Dengan pengampunan, "korban melepas ide balas dendam, dan tidak lagi bersikap bermusuhan, marah, atau kesal tentang pengalaman tidak menyenangkan itu.

Sebaliknya, mereka yang sulit memaafkan lebih banyak dikontrol kemarahan, ketegangan, kesedihan, dan sulit menguasai emosi. Stres jangka panjang juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk bagi orang-orang yang  punya tingkat terendah dalam mengampuni.

Meski memaafkan itu sulit, tetapi itu dapat  dipelajari dan dapat dipraktekkan melalui pelbagai cara diantaranya mengembangkan empati dan mengungkapkan emosi Anda dengan cara yang tepat.

Semoga bermanfaat
 Dr. Julianto Simanjuntak
Penulis Buku‎‎ MENCINTA HINGGA TERLUKA