Semua Orang Punya Sisi Gelap

Published on 13 February 2018

Semua orang punya sisi gelap, bisakah kau mencintaiku dengan sisi gelapku?
Semua orang punya masalah, maukah kau berjuang bersamaku?"
(Kelly Clarkson)

Kutipan lagu dari Kelly Clarkson berjudul “Dark Side” di atas sungguh manusiawi dan menyentuh hati.
Tidak banyak orang yang rela menerima diri kita apa adanya saat terpuruk mengalami nasib buruk. Apalagi kita tokoh masyarakat atau yang disegani.

Menyembunyikan Masa Lalu Tak heran, saat seseorang mengalami kegagalan, jatuh dalam dosa moral atau sosial, mulai banyak komentar negatif. Sementara itu sebagian fans kadang sulit menerimanya.
Dalam pernikahan juga sama. Saat pasangan kita baik-baik dan setia, mudah untuk menerima saling sayang menyayangi. Tapi kalau pasangan menyebalkan karena kekerasan hati dan tidak setia? Sikap kita begitu cepat
berubah.

 

Lagu Kelly Clarkson berjudul “Dark Side” di atas menyadarkan kita, tidak ada manusia yang sempurna. Semua kita berdosa, punya masa lalu dengan sisi gelap. Menurut Rasul Paulus, semua kita telah kehilangan kemuliaan Allah. Sebaik atau semulia apa pun jabatan seseorang tidak ada yang sempurna.

Masalahnya….
Tidak semua orang mampu menyadari apalagi mengakui sisi gelapnya. Banyak orang lebih memilih untuk menyimpan, menekan atau melupakan masa lalu yang buruk. Sebab dengan mengingatnya kita merasa malu dan pilu. Karena sudah terlalu lama dipendam, menjadi terbiasa dan lupa. Tapi tak jarang simpanan masa lalu
dengan pelbagai emosi negatif akhirnya meledak juga, dan destruktif.

Sebagian orang memilih menyembunyikan masa lalu karena takut diketahui orang lain. Apalagi kalau kita punya
jabatan sosial yang tinggi. Bisa-bisa sahabat atau jemaat yang kita pimpin menolak kita. Budaya tertentu juga masih sulit menerima masa lalu kita yang gelap meski itu sudah menjadi masa lalu. Beberapa waktu lalu
seorang.

Calon wakil Gubernur suatu daerah terpaksa mengundurkan diri hanya karena masa lalunya dibongkar di media
massa. Masa lalupun dipolitisir demi kepentingan politik. Masa lalu yang buruk bisa menjadi alasan untuk kita
diserang dan disingkirkan. Inilah alasan kenapa seseorang memilih untuk menampilkan sisi baik dan menutup-nutupi sisi buruk. Hanya akibatnya, dengan menyimpan masa lalu kita yang gelap, emosi yang negatif, atau
trauma yang menyisakan lubang luka tertentu, cepat atau lambat akan terkuak juga.

Selain itu, menyimpan sebagian sisi gelap dari hidup kita membuat emosi kita terkuras habis hanya untuk menutupinya. Bersandiwara, hidup munafik sangat melelahkan jiwa. Sedangkan hidup terbuka apa adanya jauh lebih menyenangkan.

Moto LEMBAGA KONSELING KELUARGA KREATIF dimana saya bekerja ialah Bagikanlah penderitaan Anda maka penderitaanmu akan berkurang; bagikanlah kebahagiaanmu maka kebahagiaanmu akan bertambah Rasul Paulus juga punya sisi gelap. Sebelum menjadi rasul yang disegani, dia adalah seorang pembunuh. Dalam satu
tulisannya ia mengakui masa lalunya, bahwa ia adalah seorang yang ganas dan kejam. Justru dengan tidak melupakan masa lalunya Paulus menjadi lebih rendah hati dan manusiawi. Ia lebih cakap menjadi saksi kasih
Tuhan yang tak berkesudahan. Ia berkata, "... di antara manusia berdosa akulah yang paling berdosa." Ini satu kesadaran diri yang jernih dan istimewa.

Masa lalu sebagai Investasi Semua orang punya sisi gelap. Anda tidak sendirian. Saya teringat pada beberapa
pengalaman di ruang konseling di saat menerima klien dengan masalah pelecehan, kekerasan dari orangtua, kasus hamil di luar nikah sampai aborsi, berselingkuh atau bercerai. Juga rutin mendampingi para napi di
penjara dan pecandu di pusat rehabilitasi. Mengonseling mereka yang bergumul dengan identitas gender dan
homoseksual. Karena saya juga memilik sisi gelap yang sudah saya sadari dan selesaikan saat saya di konseling di STTRII dimana saya kuliah, maka saya lebih mudah menerima masa lalu klien saya.

Masa lalu buruk itu justru menjadi modal untuk berempati. Dengan menyadari luka pribadi saya lebih bisa merasakan luka luka klien. Penulis pernah merasakan tertolak, terluka karena dilecehkan, dsb. Semua ini
justru menjadi "investasi" bagi saya untuk memahami luka konseli. Menjadi sang terluka yang menyembuhkan, demikian istilah dari Henry Nouwen. Jadi jangan takut terluka apalagi menyembunyikannya. Tak ada luka kita yang sia-sia. Makin besar luka, makin besar kemungkinan kita menolong sesama yang terluka.

Pengalaman kita boleh buruk. Orang boleh mereka-rekakan hal jahat kepada kita. Tapi Tuhan menggunakannya untuk maksud dan tujuan yang baik. Dia turut bekerja mendatangkan kebaikan lewat situasi hidup kita yang
buruk. Demikianlah kesaksian Yusuf sesudah ia menjadi perdana menteri di Mesir. Sebelumnya ia mengalami
penolakan, pelecehan hingga terbuang menjadi budak. Berbagi Menyembunyikan masa lalu yang kelam, memendam kemarahan, trauma atau kekecewaan hanya melumpuhkan emosi. Lama kelamaan bisa menjadi sumber penyakit.

Untuk itu mulai sekarang jangan malu. Cari dan temuilah seseorang yang dapat menampung cerita dari masa
lalumu yang buruk. Bisa itu seorang sahabat atau konselor profesional yang anda percaya. Milikilah sahabat yang mau menerima diri anda apa adanya. Tempat anda terbuka dan berbagi.

Di saat Raja Daud gagal dan berzinah, dia punya teman bicara bernama Nabi Natan, dimana ia bisa akhirnya terbuka setelah menutup rapat kesalahannya berzinah dan membunuh, dan akhirnya ia sembuh. Tak ada manusia yang sempurna. Belajarlah menerima ketidaksempurnaan diri sebelum kita minta orang lain menerima
kita apa adanya. Pada saat kita menerima ketidaksempurnaan diri kita, pada saat itu kita akan berhenti menghakimi sesama kita.

Menerima Diri apa adanya. Buang jauh-jauh rasa bersalah yang tak perlu. Belajar menerima diri apa adanya dan tetap berpengharapan kepada kesetiaan Tuhan yang tak berkesudahan.

Belajar tabah menjalani lembah-lembah kekelaman emosi kita. Jangan cepat-cepat mau keluar apalagi menyerah dengan situasi.

Masalah tidak untuk (segera) diatasi tapi dijalani. Kesulitan tidak untuk dihindari tapi dihadapi. Akhirnya, tidak ada orang yang sempurna. Semua orang punya sisi gelap. Hanya mereka yang menyadari dan mengakui kelemahannya lebih mudah untuk berubah.

Jangan pula berharap semua orang akan mengerti dan bisa menerima diri kita apa adanya. Tetap akan ada yang menghakimi bahkan mencaci maki. Sebab tidak mungkin semua orang akan menyukai kita. Di saat ada orang yang memojokkan kita karena kesalahan atau masa lalu kita yang buruk sebaiknya tetap diam. Sebab membela diri di depan pembenci kita sama seperti menimba air laut. Melelahkan dan tak ada habisnya. Itu sebabnya Yesus diam dan tidak membela diri di depan para Imam dan Pilatus. Demikian juga Musa di depan orang Israel
yang menyerang pribadinya dengan kata-kata yang tajam Seorang bijak berkata, tak usah repot menjelaskan siapa dirimu. Yang menyukaimu, tidak memerlukan itu. Yang membencimu, tidak percaya itu. Mulai hari ini terimalah diri anda apa adanya.

Apapun masa lalu kita yang buruk di mata Tuhan kita tetap berharga sebagai mahkota ciptaanNya, tak peduli berapa buruk masa lalu anda dan saya. Itulah alasan Kristus rela mati di kayu salib untuk menebus kita dan menjadikan kita anakanakNya. Saat Ayub ditinggal sahabat, kerabat dekatnya ia berjuang meski sendirian. Ia melihat ada Tuhan yang mengerti dan peduli serta menerima dirinya.

Syair lengkap lagu Kelly Clarkson sebagai berikut:
I
Ada satu tempat yang kutahu
Tempat itu tak indah dan
beberapa orang pernah pergi dari situ
Jika kutunjukkan itu padamu sekarang
Akankah itu membuatmu lari?
II
Atau akankah kau tinggal
Meskipun menyakitkan?
Meskipun kucoba tuk mengusirmu
Akankah kau kembali?
Dan mengingatkanku tentang siapa diriku
Ingatkanlah aku siapa diriku
III
Semua orang punya sisi gelap
Apakah kau mencintaiku?
Bisakah kau cintai sisi gelapku?
Tak seorang pun yang sesempurna lukisan
Tapi kita semua sempurna
Kau tahu kita semua sempurna
IV
Akankah kau mencintaiku?
Meski dengan sisi gelapku
V
Seperti berlian
Dari debu hitam
Sulit tuk bisa tahu apa yang bisa terjadi
Jika kau menyerah
Maka jangan menyerah denganku
Ingatkanlah aku siapa diriku
Jangan pergi
Jangan pergi
Katakan padaku kau kan terus di sini
Berjanjilah kau kan terus di sini
Oh,
Akankah kau mencintaiku?
Semoga catatan ini bermanfaat

Julianto Simanjuntak
LEMBAGA KONSELING KELUARGA
KREATIF