BERSAHABAT DENGAN MASALAH: Seni Menikmati ‘Berkat Negatif’

BERSAHABAT DENGAN MASALAH: Seni Menikmati ‘Berkat Negatif’

Published on 12 June 2018

“Kesulitan dan masalah hidup bisa menjadi alat anugerah Tuhan, agar kita lebih mengenal kasih karuniaNya. JS~ LK3”

Penyakit fisik, kekurangan, depresi, atau beban hidup lainnya bagi orang-orang percaya adalah berkat. Saya menyebutnya “berkat negatif”. Itu bukan kutuk, tetapi berkat.

Ada kalanya Tuhan Allah memberkati kita dengan cara yang positif: keberhasilan, kenaikan pangkat, keuangan yang lebih baik, pujian atau penghargaan. Tak jarang kita menjadi alat peraga negatif lewat persoalan yang menimpa hidup kita.

Dalam sejarah umat Israel, Allah juga membentuk dan mendidik umatNya lewat pengalaman sulit yang tidak menyenangkan: kelaparan, penyakit, kehilangan, kematian dsb.

Pengalaman duka dan kehilangan menjadi alat pendidikan iman. Lewat penyakit dan kelaparan Umat menjadi sadar, bertobat lalu berbalik kepada Tuhan.

Kesulitan dan masalah hidup bisa menjadi alat anugerah Tuhan agar kita lebih mengenal kasih karuniaNya. Seperti FirmanNya:

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. II korintus 12:9-10

Jadi mulai sekarang jangan lagi bersikap negatif ataupun berkata buruk tentang pengalaman negatif Anda Pribadi.

SIKAP YANG DEWASA

Setiap kita punya masalah. Umur MASALAH  setua umur manusia. Keluarga Adam dan Hawa mengalami masalah yang serius.  Mereka jatuh ke dalam dosa, karena keinginan yang melanggar kesepakatan dengan Pencipta. Akibatnya mereka menjadi malu dan bersembunyi. Lari dari kenyataan.  

Itulah sikap umum manusia, tidak menerima kenyataan lalu lari bersembunyi, demi gengsi dan harga diri.

Adampun menyalahkan Tuhan sebagai penyebab masalah itu terjadi, karena memberikan Hawa yang mengajak dia memakan buah terlarang. Hawa di kambinghitamkan sebagai penyebab kesalahan. Hawa pun punya sikap yang sama, menyalahkan si ular. Sikap itulah yang membuat mereka masuk dalam kesulitan baru, diusir dari taman Eden.

Sikap terbaik menghadapi masalah ialah siap mengambil tanggungjawab. Menerima masalah ini sebagai milik dan tanggungjawab pribadi, bukannya menyalahkan pihak lain.

Dalam konteks keluarga dan pernikahan, Jika Pasangan anda bermasalah, segera sadari bahwa  anda pasti punya andil,  dan ikutlah mengambil tanggungjawab, dengan cara membantu pasanganmu bukan malah menyalahkan.

 Jika anak anda punya masalah, sebagai Ayah atau Ibu kita ikut bertanggungjawab. ingat, kita pernah jadi anak, anak tidak pernah menjadi orangtua. Kita dipanggil menolong dan mendampingi anak menjalani masalahnya. Tanggungjawab kita termasuk ikut menerima  ketidaknyamanan akibat masalah tadi.

MASALAH MENDEWASAKAN

Sikap kedua yang umum pada orang yang sedang menghadapi masalah, adalah sayang diri. Menyesali apa yang terjadi, merasa malang sendiri. Situai ini membuat kita berputar-putar pada diri sendiri.

Masalah tidak untuk disesalkan tetapi dirayakan. Kesulitan dan pergumulan hidup adalah properti pribadi, hak milik yang perlu kita “cintai”. Ya, menikmati masalah sebagai bagian dari kehidupan baik atau buruk. Susah atau senang. Sakit atau sehat.

Seperti teguran Ayub kepada Istrinya:
“Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Ayub 2:10

Setiap kita justru didewasakan lewat masalah, dan bukan hanya lewat berkat kesenangan.  Itulah alasan mengapa Tuhan mengajak kita bersyukur senantiasa. Karena Dia turut bekerja dalam setiap peristiwa untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang percaya kepadaNya

Hal lain yang perlu kita ingat, jika Ia  mengijinkan masalah Tuhan selalu menyiapkan kekuatan untuk menjalaninya. Seperti firmanNya:

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. I Kor 10:13

Biasanya mereka yang mudah menyerah, mengeluh dan putus asa saat ada kesulitan memiliki harga diri yang miskin, daya juang yang rendah dan daya tahan stres yang lemah.

BERSAHABAT DENGAN MASALAH

Semua kesulitan hidup kita ada alasannya. Jangan menyalahkan apalagi meratapi diri. Jangan juga mengkambinghitamkan orang lain. Terima, jalani dan nikmati. Bersahabat dengan masalahmu sendiri.

Masalah utama kita bukanlah memiliki masalah, tapi takut menghadapi masalah dan mau melarikan diri. Padahal setiap masalah ada jalan masuknya. Jika ada persoalan jangan cari jalan keluar tapi justru jalan masuk. Caranya kenali baik-baik masalahmu,  diagnosa dan jika perlu cari konselor atau psikolog untuk membicarakannya, dan menemukan jalan masuk.

Pada  saatnya masalah itu sendiri akan menjadi “JALAN KELUAR” bagi kita. Mendewasakan. Sebab lewat masalah itu kita berjuang, beriman dan menemukan jalan yang baru, yang lebih baik dan membuat mental kita  lebih sehat dan kuat.

Masalah tidak untuk kita atasi atau hindari, tapi kita jalani dan nikmati. Misal, sebagian trauma dan  luka jiwa kita tidak semua bisa langsung sembuh. Misal saat menghadapi kenyataan pasangan kita menghianati. Kita difitnah oleh sahabat atau kerabat dekat

Memulihkan hati yang dikhianati membutuhkan waktu. Karena itu kita perlu belajar menjalani luka hati. Tidak mungkin dengan satu kali konseling atau berdoa langsung sembuh. Makin dalam luka makin besar daya pengampunan diperlukan.

Untuk itu kita perlu meminta anugerah Allah agar cakap menjalani dan menikmati setiap luka kita. Belajar menikmati luka kemarahan, kekecewaan atau kesedihan kita. Belajar tidak menyangkal dan menekan perasaan pribadi.

KONKLUSI

Akhirnya marilah belajar bersahabat dengan masalah, kenali baik-baik dan berjalan dengan dia. Problema hidup adalah properti pribadi yang membuat hidup lebih utuh. Karena kebahagiaan sejati itu sesungguhnya menikmati kesenangan dan kesusahan secara seimbang

Setiap masalah juga akan ada akhirnya,  pada waktunya kita akan "wisuda" dari masalah atau kesulitan hidup. Selamat merayakan hidup yang sulit, sambil mengingat kita tidak sendiri. Setiap murid wajib memikul salibnya setiap hari.

Saya menutup dengan kesaksian Rasul Paulus

Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, …..ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.
II Kor 6:3-10

Semoga bermanfaat

Julianto Simanjuntak
Uluwatu, Bali- 12 Juni 2018

LEMBAGA KONSELING KELUARGA KREATIF (LK3)
Mitra Parenting Indonesia (MPI)
Peduli Konseling Nusantara (PELIKAN INDONESIA)