Parenting Tips

Published on 31 October 2018
Written by Julianto Simanjuntak

Tidak sedikit orangtua, baik ayah maupun ibu sebenarnya tidak siap menjadi orangtua. Emosi yang tidak dewasa membuat mereka tidak siap menjadi Ayah atau Ibu bagi anak mereka. Inilah sumber utama konflik antara Orangtua-anak.

Prof Ndraha pernah berkata, "sesungguhnya tidak ada anak yang sulit, yang ada ialah orangtua yang sulit. Kesulitan mengasuh anak-anaknya".

Ungkapan ini mengingatkan kita jangan mengkambinghitamkan anak jika ada masalah dalam mengasuh mereka. Orangtua suka memberi label "kenakalan remaja", lupa bahwa sumbernya adalah mereka sendiri.

Dalam konseling jika anak bermasalah, mereka kita sebut sebagai IP (identified Patient). Masalah anak hanya mempresentasikan masalah orangtua mereka. Problem anak adalah ungkapan jeritan: "Tolong, bantu orangtua saya!!!"

Mereka yang tidak mendapat pengasuhan dengan baik di masa kecil, akan punya kesulitan saat mengasuh anaknya sendiri. Apalagi jika pernah mengalami pengalaman seperti kekerasan saat kecil, diabaikan, dibedakan dan miskin hubungan batin dengan orangtua.

Orangtua yang yang tidak dewasa cenderung egois. Minta diperhatikan anak secara berlebihan. Jika nasihatnya tidak didengarkan akan sangat marah. Biasanya memendam kemarahan sekian lama, lalu meledak. Ayah atau Ibu yang kekanak-kanakan secara mental, gampang tersinggung. Selain itu memiliki Mental yang sangat melindungi anak atau over protektif. Sikap yang berlebihan ini justru membuat anak merasa tidak nyaman, merasa dikekang.

Ironisnya mereka suka memproteksi anak sampai anak dewasa, dan kerap diintervensi. Orangtua yang tidak matang secara emosi cenderung sulit percaya pada anaknya, atau berpikiran negatif.

Tidak percaya pada anak meski mereka sudah berumahtangga. Buahnya adalah, orangtua ini akan intervensi pada kehidupan keluarga anak-mantunya. Inilah penyebab utama konflik mertua-mantu. Ironisnya, ada Mama yang sudah gagal jadi ibu ingin sukses jadi nenek, mengintervensi kehidupan cucunya.

Sebaliknya orangtua yang matang dan siap menjadi ayah-ibu, tahu kapan mengasuh anak dan bijak memberi nasihat. Ia paham akan batas-batas mengintervensi anaknya.

Mereka memanfaatkan 17 tahun pertama dari anak dengan memberi perhatian yang cukup. Setelah itu mereka secara perlahan siap melepas anak mandiri, dan rela jika anak sudah lebih dekat dengan teman. Menerima jika anak sudah lebih fokus dengan studi dan tak jarang ada anak yang kuliah sambil bekerja.

Jika anak sudah dewasa, justru dialah yang mulai memberi perhatian pada orangtua. Tahu berbuat baik dan memperhatikan kondisi orangtua yang semakin lanjut. Anak yang dewasa mulai mengkuatirkan kesehatan orangtuanya, suka mencek kabar ayah-ibunya.

Anak yang terlalu dimanja dan diperhatikan, malah sulit bertumbuh dewasa. Mereka kadung menikmati hidup yang aman, nyaman dan mapan.

Cenderung menjadikan mereka egois meski usia mereka bertambah secara biologis. Tidak matang secara emosi, membuat mereka kelak mudah konflik dengan pasangan dan tidak siap mengasuh anak.

Semoga catatan harian ini bisa membantu

Julianto Simanjuntak
Catatan Konseling