DETOX EMOSI

Published on 18 December 2018

Detoks merupakan proses mengeluarkan racun yang terdapat pada tubuh manusia. Detoksifikasi tubuh dilakukan agar kondisi organ tubuh kembali normal, sebab setiap hari organ tubuh manusia bekerja dan terkadang harus terkendala oleh adanya toksin (racun) yang terbawa oleh makanan yang sehari-hari kita konsumsi, terutama makanan tidak sehat. Itu detoks untuk tubuh.

Hal yang sama emosi kita perlu di detoksifikasi secara rutin. Terutama dari emosi negatif harian seperti marah, sedih dan kecewa. Tidak ada yang salah dengan marah, sedih atau perasaan kecewa. Tapi kalau tidak dikeluarkan, alias menumpuk bisa menjadi racun. Gangguan paling umum bagi mereka yang biasa menyimpan emosi negatif adalah gangguan psikosomatis. Psikosomatis adalah penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor emosi negatif, seperti kemarahan, kekecewaan dan kecemasan.

Marah Secara Harian.
Tidak ada yang salah dengan marah, apalagi dengan alasan yang tepat. Kita perlu mengungkapkan perasaan itu terutama kepada orang yang dekat dan sering berhubungan dengan kita. Marah itu manusiawi, memaafkan itu Ilahi. Tidak ada yang salah kalau kita marah. Hanya saja perlu mengelolanya dengan baik, mengkomunikasikannya dengan bijak. Tetapi menyimpan kemarahan dan membawanya tidur, sangat tidak sehat.

Alkitab mengajar kita supaya kemarahan diselesaikan sebelum matahari terbenam. Inilah cara terbaik mendetoks emosi kita. Ada beberapa cara mengeluarkan emosi marah atau emosi negatif lainnya.

Satu, self talk.
Mengakui perasaan marah itu dihadapan Tuhan dalam doa, dan mengambil komitmen untuk mengampuni.

Dua, menuangkan perasaan marah lewat tulisan. Seperti pemazmur, Ayub dan Yeremia yang kerap menuangkan emosi mereka saat tertekan. Mereka tertolong.

Tiga, menceritakan kejadian dan kemarahan anda pada seorang sahabat yang dapat dipercaya dan menyimpan rahasia.

Keempat, curhat dan mememinta advis dari seorang yang matang secara emosi dan memberi respon yang tepat untuk kemarahan anda. Konselor profesional lebih baik.

Kelima, cari waktu yang tepat untuk berbicara langsung dengan orang yang kamu merasa marah. Jika memungkinkan. Jika belum ada kesempatan menyampaikan rasa marah tsb, kita tetap memutuskan untuk memaafkan.

Dengan mengeluarkan kemarahan ini maka tidak akan terjadi penumpukan rasa marah. Sebab penumpukan kemarahan bisa menjadi racun bagi jiwa kita. Kemarahan bisa berubah menjadi kepahitan hingga dendam dan merusak relasi. Perasaan tidak nyaman hingga membuat lumpuh secara rohani, kita tidak bisa berdoa dan bahkan menjadi sulit tidur.

Memaafkan
Pengampunan adalah tindakan sadar memutuskan untuk melepaskan kebencian yang telah merugikan Anda. Tidak peduli apakah mereka itu benar-benar layak diampuni atau tidak. Memaafkan artinya, ingat peristiwanya tapi sudah tidak menyakitkan lagi. Jika saudara memutuskan untuk memaafkan maka saudara mampu menikmati bekas luka tadi; berani menelusuri pengalaman Anda dilukai. Mengambil hikmah dari pengalaman itu. Akhirnya dengan bekas luka tadi Anda berani mendampingi mereka yang terluka.

Luka itu INVESTASI. Dengan bekas luka tadi kita cakap berempati karena pernah merasakan luka yang sama. Kita menghibur dengan penghiburan yang pernah kita terima. Jadi tak ada luka yang sia-sia. Memang, semakin dalam luka, semakin besar daya pengampunan dibutuhkan. Ada kalanya kita tak mampu menjalani luka kita sendiri. Kita butuh teman, dukungan sosial. Selain itu sebagian luka butuh proses waktu yang tidak pendek. Yang penting belajarlah untuk berbagi. Belajar terbuka dengan yang kita percaya. Berbagi perasaan kemarahan, luka kekecewaan kita. Kita butuh sahabat yang Menemani kita saat menjalani bekas luka tadi, sampai kita menang mengatasi luka. Ketika Anda benar-benar memaafkan dapat meredakan kemarahan, dan beban fisik yang akibat kecewa atau marah ikut berkurang dan bahkan hilang.

Manfaat lainnya dari pengampunan mengurangi dampak negatif dari perasaan ketegangan, kemarahan, depresi dan kelelahan. Dengan pengampunan, “korban melepas ide balas dendam, dan tidak lagi bersikap bermusuhan, marah, atau kesal tentang pengalaman tidak menyenangkan itu.” Sebaliknya, mereka yang sulit memaafkan lebih banyak dikontrol kemarahan, ketegangan, kesedihan, dan sulit menguasai emosi. Stres jangka panjang juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk bagi orang-orang yang punya tingkat terendah dalam mengampuni. Meski memaafkan itu sulit, tetapi itu dapat dipelajari dan dapat dipraktekkan melalui pelbagai cara diantaranya mengembangkan empati dan mengungkapkan emosi Anda
dengan cara yang tepat.

Selamat mendetoks emosi negatif anda, baik dengan cara marah secara harian. Membangun pribadi yang lentur, berempati dan mudah mengampuni.

Julianto Simanjuntak
LEMBAGA KONSELING KELUARGA KREATIF (LK3)