Konseling

Mengelola Konflik dalam Keluarga

Published on 10 August 2016

Konflik  dalam  sebuah keluarga itu wajar, bahkan diperlukan untuk membuat pernikahan lebih dinamis. Asalkan setiap pasangan tahu mengelola konflik tersebut dengan baik. Sebab Jika   tidak ditangani dengan baik, dapat membuat perkawinan itu sakit. Sebaliknya jika konflik bisa dikelola, maka perkawinan bisa  bertumbuh dan sehat. Karena itu sangatlah penting bagi suami/istri belajar cara-cara terbaik dalam menangani konflik.

Isu konflik pasutri di ruang konseling paling banyak di seputar persoalan: Uang, Komunikasi, Seks, Pekerjaan, Anak-anak, Keluarga asal, Teman dan karir.

Perbedaan persepsi, skil dan kebiasaan di pelbagai isu itu bisa menjadi pemicu konflik. Karena itu salah satu sifat yang diperlukan untuk mengelola perbedaan itu adalah kelenturan.

Read more...
 

SEKS DAN KEBAHAGIAAN KELUARGA

Published on 29 July 2016

Rado (nama samaran)  suatu hari  konsultasi dengan Penulis. Dia merasa  aneh dengan obsesi seksnya. Dia merasa  lebih  tertarik secara seksual pada  Pekerja Rumah Tangga (PRT) ketimbang istrinya. Dalam percakapan lebih kurang tiga jam Rado mengeluhkan bahwa  dia sama sekali tidak tertarik secara seksual kepada istrinya,  apalagi sejak anak kedua mereka lahir. Ia lebih terangsang bila melihat PRT.  Oleh karena itu dia berusaha dengan segala cara mengajak pembantu mereka berhubungan badan, terutama saat istrinya sedang berada di toko.

Beberapa kali dia berhasil melakukannya dengan dua cara, yaitu memberi hadiah berupa uang dan mengancam. Umumnya semua pembantu yang dia paksa berhubungan seksual, langsung minta keluar. Beberapa tidak berhasil dia lakukan, karena mereka melawan. Namun tak  satupun dari mereka yang pernah diajak tidur oleh Rado  berani melaporkan pengalaman mereka.  Itu sebabnya istri Rado sama sekali tidak mengerti alasan pembantunya minta berhenti.

Read more...
 

Kiat Menghadapi Tiran

Published on 28 July 2016

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang suka menganiaya anak dan istrinya seringkali menunjukkan gejala awal gangguan kejiwaan, seperti gangguan kepribadian. Mereka umumnya korban kekerasan orangtua di masa kecilnya. Mereka suka mencurigai orang, dan sensitif kalau ditolak. Saat marah cenderung menganiaya orang di dekatnya, baik fisik maupun psikhis. Perkataan mereka cenderung menyerang dan menggunakan kata-kata yang mengejek atau menghina.

Ia suka mengatur atau mengendalikan siapa saja yang di dekatnya. Orang tiran seperti ini bersikap semau dewe alias sewenang-wenang.  Mereka umumnya memiliki konsep diri yang kacau, mengidap rendah diri dan depresi kronis.  Mereka umumnya menderita adiksi hubungan. Cirinya mereka selalu berusaha keras diterima dan dihargai orang lain. Penolakan atau pengabaian sangat menyakitkan bagi mereka. Karena kondisi inilah mereka  tersiksa oleh berbagai rasa takut yang saling bertolak belakang satu sama lain, antara mau diterima di satu sisi tapi disisi lain tidak mau telalu dekat. Karena jika terlalu dekat mereka takut kehilangan kuasa mengontrol orang lain.

Read more...
 

Page 9 of 15