Konseling

Mencari "Puzzle" yang Hilang

Published on 08 January 2016

Saya dan Witha merasa frustrasi, meski kami saling mencintai tapi sulit berkomunikasi. Relasi kami sarat konflik dan saling membenci. Emosi sering dibajak rasa marah yang tidak jelas dan sulit kami mengerti. Sampai rasa putus asa menggelayuti hati.
Pergumulan semakin berat, karena menyadari pekerjaan saya adalah gembala sidang. Saya merasa tidak menjadi saksi bagi jemaat, dan merasa hidup munafik. Lain di bibir lain di hati.
Akhirnya pada tahun ke 5 pelayanan sebagai Gembala (1996) saya memutuskan untuk berhenti sebagai gembala. Merasa ada yang tidak beres dengan diri maka saya memilih studi lanjut S2 bidang konseling di STTRI Jakarta (tahun 1996-1998).

Read more...
 

MENINGGALKAN ORANGTUA

Published on 06 November 2015

Ada satu catatan penting tentang perkawinan yang menegaskan, ” seorang pria yang menikah harus meninggalkan Ayah- Ibunya, dan bersatu dengan istrinya”

Pada zaman Ibrani kuno, dimana catatan itu diambil, secara sosiologis  masyarakatnya  tinggal ditenda. Mereka hidup secara nomaden, sering  berpindah. Jadi wajar saja setiap anak dewasa dan  menikah wajib tinggal di tenda sendiri. Namun perpindahan secara fisik, tidaklah otomatis berpisah secara emosi.

Read more...
 

Sindrom Kesepian

Published on 26 September 2015

Seorang ibu tengah baya, wanita karir berusia 41 tahun bernama Sari (Samaran) datang konsultasi. Suaminya pengusaha sukses dan mapan. Tidak heran kedua anak mereka yang sudah SMP sekolah bertaraf internasional. Punya mobil dan rumah mewah.

Sayangnya hubungan mereka beberapa tahun terakhir hambar. Mereka masing-masing sibuk. Apalagi suami Sari kaku dan sama sekali tidak romantis. Sementara Ibu Sari punya kebutuhan dan bahasa cinta ngobrol dan kebersamaan.

Read more...
 

Page 10 of 13