TANTANGAN PARENTING ABAD 21: Mendidik Anak Sesuai Zaman

TANTANGAN PARENTING ABAD 21: Mendidik Anak Sesuai Zaman

Published on 01 December 2016

Situasi anak-anak kita berubah setiap satu dekade. Meskipun dalam beberapa hal anak dan remaja kita sama saja dengan masa lalu, tetapi sebagian berubah secara mendasar. Bilang saja pengaruh tekonologi.

Dulu anak-anak kita hanya hidup dengan radio dan TV. Sekarang mereka terbiasa diperhadapkan dengan TV kabel, game online, satelit, internet yang menciptakan dunia global yang tidak kita alami masa lampau.

Mereka punya akses TV ke seluruh kebudayaan. Segala jenis kebutuhan mereka, menyangkut hiburan, musik, mode, dll, terpenuhi. CD, VCD, MP3 sahabat mereka sehari-hari.

Hal kedua yang fundamental mempengaruhi anak zaman sekarang adalah budaya kekerasan yang mereka terima dari media bioskop, film, TV, lagu, novel, cergam, dll. Anak remaja misalnya sangat menggemari film action yang penuh kekerasan.

Hal yang paling menguatirkan adalah situasi makin banyak anak-anak hidup dalam keluarga yang retak, hidup dengan single parents. Keluarga masa kini sudah jarang hidup dalam extended family (keluarga batih), tetapi hanya pada keluarga inti.

Di samping itu keluarga makin jauh dengan tetangganya. Kalau dulu, kita dapat menitipkan anak kepada tetangga dengan rasa aman, sekarang tidak lagi. Karena itu, sekolah sistem asrama lebih dipilih oleh orangtua yang sibuk.


Remaja, bahkan anak anak di bawah umur masa kini tumbuh dalam sebuah dunia tanpa aturan seks. Bioskop, media cetak, TV dan musik cenderung mengidentikkan seks dengan cinta. Media melukiskan seks sebagai bagian terpenting dari pacaran yang baik/signifikan. Tidak heran makin banyak remaja sangat aktif dalam melakukan hubungan seks.

Ironisnya, dalam situasi di atas kehidupan moral dan agama makin tidak penting. Anak-anak kita makin tumbuh tanpa nilai-nilai moral, nilai kesucian. Keluarga makin jarang melakukan family altar, dan kalaupun ada banyak yang dilakukan secara lahiriah semata. Akibatnya banyak anak mengatakan sesuatu itu baik jika kebanyakan temannya bilang itu baik. Moral dan nilai baik makin hari makin relatif.

Di rumah makin jarang orangtua mendampingi anak mereka menonton TV atau bermain game. Tidak ada yang membantu mereka menyaring nilai-nilai yang mereka serap dari media TV, internet dan sebagainya.

Bagaimana mereka dapat memahami mana yang etis dan yang tidak; berkenan pada Tuhan atau tidak? Teknologi yang ada membuat anak dan remaja Anda bersentuhan dengan dunia dan dunia menyentuh kehidupan remaja Anda.

Generasi anak-anak zaman sekarang memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

Pertama, anak memiliki image negatif. Generasi ini adalah generasi yang sangat berpusat pada diri dan memuaskan keinginannya tanpa pikir panjang (instant gratification). Bunuh diri yang banyak terjadi pada generasi ini menjadi alasan yang diambil saat mereka mengalami situasi sulit.

Kedua, anak sangat bergantung pada diri sendiri. Mereka merasa pandai, lebih pandai dari orangtuanya. Mereka juga percaya bahwa menjadi sukses tergantung diri mereka sendiri.

Ketiga mereka dipengaruhi simbol-simbol global. Mereka membutuhkan identifikasi dengan kebutuhan pasar, seperti memakai sepatu atlet terkenal, punya game seperti teman-teman mereka, dll.

Keempat, anak-anak terbiasa hidup konsumtif, mereka suka (online) shopping. Mereka membeli barang yang mereka inginkan, bukan yang dibutuhkan.

Kelima, banyak di antara mereka kecanduan media.

Apa yang Dapat Dilakukan Orangtua

Bagaimanapun orangtua tetap memiliki pengaruh besar dalam hidup remaja mereka. Misalnya dalam hal mencari sekolah, mengerjakan homework, soal kesehatan dan juga dalam merencanakan karir. Untuk dekat dan bisa membimbing anak, terutama anak remaja, orangtua membutuhkan beberapa sifat seperti:

- Dapat menoleransi paradoks dalam diri mereka, misalnya memaklumi jika remaja berjanji namun tidak dapat menepatinya.

- Mempunyai rasa humor sebab mereka butuh teman ngobrol dan bercanda.

- Sifat yang fleksibel, mampu menyesuaikan diri dengan remaja. Jangan kecewa kalau nasehat kita kadang diabaikan.

Tidak ada hal yang lebih penting bagi orangtua daripada belajar secara aktif mengenal kebutuhan emosional anak mereka sejak kanak-kanak. Cinta yang emosional atau perasaan cinta mendalam merupakan kebutuhan utama anak-anak kita.

Anak butuh (1) perasaan terhubung, (2) perasaan diterima dan (3) dipedulikan orang tuanya. Jika tiga hal ini tidak dia rasakan dari orang tuanya maka tanki emosi cintanya kosong. Kekosongan itulah yang akan mempengaruhi tingkah laku saat remaja. Jangan sampai mereka menemukan di tempat (pergaulan) yang salah.

Selamat memahami anak anak kita, dan membangun jembatan komunikasi yang pas buat anak kita masing masing.

Julianto Simanjuntak
Penulis dan Terapis Keluarga
Founder Layanan Konseling keluarga dan karir (LK3)
Fasilitator Keluarga Kreatif