Mama Selalu Mengorbankan Punggungnya

Mama Selalu Mengorbankan Punggungnya

Published on 15 May 2017

Masih segar diingatan, saat kecil kami sering  menjadi sasaran kemarahan Papa. Karena pengaruh alkohol Papa cenderung cepat marah. Kalau lagi kesal ada saja barang yang dia lempar, atau memukulkannya kepada anak yang ada di dekatnya. Sering pukulan itu meninggalkan bekas, biru atau lembam. Sakit tidak hanya fisik tapi kami terluka secara psikhis. Saat kami dipukul, mama selalu ber sedih hati. Mama selalu waspada jika Papa lagi marah, dan mengawasi jangan sampai Papa memukul kami.

Suatu hari Papa merasa uangnya hilang, lalu menuduh abang kelima mengambil. Mendadak Papa naik pitam dan mengambil kopelnya  dan memukul Abang. Mama dengan gesit memegang si Abang, sambil memberi punggungnya ke arah Papa. Pukulan itu mengenai Mama, karena itu Papa berhenti memukul, sementara si Abang diminta Mama keluar dari rumah.

Suatu hari giliran saya yang dapat hajaran Papa. Karena saya membantah tidak mau tidur siang. Seperti biasa Papa mengambil sapu lidi, dan menghajar kaki saya. Tapi Mama cepat memberikan punggungnya pada Papa, dan meminta saya lari keluar rumah. Begitulah berulang kali terjadi pada kami. Mama selalu membela kami anak-anaknya.

Perlindungan Mama tidak hanya saat kami kecil. Setelah semua sekolah SMP dan SMA, kami jatuh miskin. Selain dengan alkohol Papa bermasalah dengan judi. Akibatnya Papa memakai uang kantor dan mempunyai banyak hutang. Papa harus mengganti, kalau tidak bisa dipenjara.

Untung Mama mengumpulkan banyak emas Hasil keringat Mama  berjualan kelontong.  Untuk  menebus Papa dari penjara, Mama terpaksa menjual emas yang dia simpan di sebuah kaleng roti, penuh isinya. Itulah perjuangan cinta Mama untuk papa dan kami.

Mama menebus Papa dan batal di penjara. Lalu Papa dipindahkan ke kota yang terpencil. Peristiwa  itu sungguh  mengguncang Papa,  dia berhenti minum dan tidak lagi berjudi. Apalagi Papa mulai digerogoti penyakit komplikasi. Lever, darah tinggi dan reumatik.

Karena sakit itu maka Semua gaji Papa yang berpangkat Pamen habis hanya buat membeli obat. Mama  lagi-lagi membuktikan cintanya. Agar  kami sekeluarga bisa makan, Mama harus jualan nasi Soto Ayam bagi penjual warung dan tukang becak di pasar.   Perjuangan Mama luar biasa. Sambil menjaga Papa yang sakit-sakitan, Mama berjualan. Selain  berjualan nasi Soto Mama berjualan apa saja termasuk baju dan sepatu.

Dua tahun sebelum Papa meninggal, Mama mengumpulkan kami dan berkata:

“Anak-anak, Mama minta kalian setia terhadap perkawinan. Jangan ada yang menceraikan istrinya. Lihat, Mama. Meski banyak menderita karena  Papa, Mama berjanji akan menjaga Papa sampai Papa dipanggil Tuhan.”

Ahh…Mama Mama….benar-benar menjalankan tekadnya. Dia menjaga Papa selama sisa hidupnya yang digerogoti pelbagai penyakit.  Karena begitu keras bekerja dan menjaga Papa sakit, Mama banyak pikiran dan sering lupa makan. Akhirnya  Mama meninggal karena maag kronis, saat Papa koma. Seminggu kemudian  Papa menyusul Mama, dan dikuburkan di samping nisan Mama.

Ah...Mama cintamu luar biasa. Meski Mama tidak meninggalkan harta, tapi kau wariskan teladan cinta dan kesetiaan. Sungguh suatu yang  amat berharga, melebihi emas dan mutiara.

Terima kasih Mama, cintamu memberi kekuatan sepanjang kehidupan.

Mengenang cinta mama yang hebat dan kuat, saya menuliskan sebuah syair lagu Mei 2001.

KASIH MAMA TIADA DUANYA
(Julianto Simanjuntak )

“Betapa mulia cinta kasihmu
Betapa dahsyat pengorbananmu
Yang Kutrima darimu Ibu
Yang Tuhan brikan bagiku…

Darah tercurah melahirkanku
Tanganmu lelah membesarkanku
Kasih Ibu spanjang hidupku
Akan kukenang selalu

Reff:

Meski Ibu kini tlah tiada
Namun kasihmu takkan kulupa
Bagiku kasih Ibu tiada duanya
Kasih Ibu warisan mulia

Karya : Julianto Simanjuntak

Tulisan ini masuk Harian KOMPAS, 22 Des 2011

Layanan Konseling keluarga dan karir (LK3)