KIAT AGAR ANAK TERBUKA & MENDENGARKAN ORANGTUA

KIAT AGAR ANAK TERBUKA & MENDENGARKAN ORANGTUA

Published on 09 April 2018

PENDAHULUAN
Gadget dan semua sarana komunikasi modern adalah anugerah Umum dari Pencipta sebagai buah ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayangnya, gadget dan Game sering dikambinghitamkan saat muncul konflik antara orangtua dengan Anak. Tak jarang anak dihukum dengan cara gadgetnya disimpan.

Sumber masalah konflik anak dengan orangtua adalah miskinnya hubungan batin antara orangtua dengan anak. Bukan karena ada gadget, atau anak banyak bermain Game. Bukan.

Hubungan batin dibentuk oleh pengalaman (batin) bersama antara anak dengan orangtua, sesuai dengan bahasa cinta setiap anak. Apakah itu dengan bermain, bercerita, traveling, nonton, olahraga, diskusi, makan bersama, dsb sesuai dengan kesukaan atau bahasa cinta anak2.

Semua kegiatan di atas menjadi semacam jembatan komunikasi antara orangtua anak. Semua kegiatan bersama itu. Membutuhkan waktu, emosi, dialog, enerji dan dana yang memadai.

Usaha membangun hubungan batin dimulai sejak anak Balita. Siapa yang mengabaikan anak di usia emas (0-6) akan bermasalah di usia selanjutnya. Membangun bonding menjadi tidak mudah, jika ikatan emosi sejak bayi miskin. Anak akan cenderung merasa tidak aman, tidak diterima dan menjadi tertutup.

I. NILAI ANAK

Sebagian dari kita para orang tua memandang anak-anak kita sebagai investasi dan tempat berteduh di hari tua. Ada yang menganggap anak sebagai kebanggaan. Sebagian lagi memandangnya sebagai milik pusaka Tuhan. Apapun pandangan kita tentang anak, sangat mempengaruhi cara kita mendidik dan membesarkan anak.

Di dalam keluarga, nilai anak beragam, sesuai dengan budaya keluarga dan masyarakat yang membentuk sang anak. Pada umumnya nilai anak didefinisikan dari tugas yang dibebankan kepada keluarga dan sang anak. Jika anak adalah sumber investasi, anak disekolahkan tinggi- tinggi dan diberi modal usaha. Tapi untuk apa? Apakah hanya supaya anak-anak kita bisa urus orang tua di waktu tua?

Sejatinya tidak ada anak-anak yang berhutang kepada orang tua, sudah menjadi kewajiban kita, sebagai orang tua mendidik dan mengasuh mereka dengan sebaik yang bisa kita lakukan, karena anak-anak adalah milik pusaka. Dan adalah hal yang membahagiakan hati kita sebagai orang tua ketika kelak mereka berkeluarga mereka pun melakukan hal yang sama kepada keturunan mereka, cucu kita : menjaga, mendidik dan mengasuh dengan sebaik yang mereka terima dari kita. Bahkan mungkin mereka lebih baik dari kita.

II. TANTANGAN KELUARGA ZAMAN NOW

Salah satu kebutuhan utama anak adalah rasa aman. Anak akan merasa aman terbuka kepada orang tua apabila ia merasa diterima ketika berbicara mengenai perasaannya. Apapun itu. Anak ingin didengarkan secara utuh, tanpa penghakiman dari orang tua, ia ingin diterima sebagaimana adanya.

Berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi keluarga zaman ini:
1. Ayah tidak hadir, ibu kewalahan, anak ditelantarkan.
2. Orang tua sibuk, anak dibesarkan kakek/nenek, pembantu atau guru les
3. Ketergantungan gadget dan kehidupan sosial online
4. Beban tugas dan tuntutan akademik semakin berat.
5. Sejak kecil terbiasa diberikan gadget agar orang tua tidak repot.

Hasilnya adalah anak-anak yang mengalami pertumbuhan emosi, sosial dan fisik terhambat.

III. MENUMBUHKAN RASA AMAN ANAK

Anak merasa aman dan diterima jika:

1. Jika ia dianggap dan bukan diremehkan

Contoh : ketika orang tua berbicara dengan orang tua lain, mereka “disingkirkan”, dengan posisi meja berbeda saat kita makan dengan teman di Mal.

Usahakan berbicara dengan  melakukan eye contact, dan fokus mendengarkan anak tanpa memikirkan nasihat terlebih dahulu. Betapq penting untuk anak merasa didengarkan terlebih dahulu, dibandingkan diberi nasihat.

Contoh lain adalah, berbicara secara sopan dan tegas. Jangan saling berteriak dari seberang ruangan, lewat pintu tertutup, bahkan dari lantai yang berbeda.

2. Didengarkan bukan diusir

Tanpa sadar, orang tua memberikan anak ‘hukuman’ dengan:

• Banyak les
• Dibentak/masuk kamar
• Diusir keluar rumah

Sebaiknya orang tua perlu belajar memberi respons  dengan mengakui perasaan. Meski tidak selalu menyetujuinya. Ingat,  perasaan anak tidak pernah salah, yang bisa salah adalah respons orang tua terhadap perasaan anak. Namun patut diingat bahwa mengakui perasaan anak bukan berarti menyetujui solusi anak.

3. Dibimbing bukan dikontrol

• Kecenderungan orang tua – selalu turun tangan, siap
memberi solusi logis
• Kecenderungan bapak – menyingkatkan pembicaraan
• Kecenderungan ibu – berbicara panjang lebar.

Respons orangtua yang sehat adalah Membimbing dan Rela Melepaskan anak. Terutama memasuki usia remaja

Caranya:

A. Memberikan nasihat pada anak kalau diminta dan seperlunya.
B. Hadir untuk mendukung dan mendengarkan.
C. Mengijinkan anak belajar dari kesalahan.

Dapat disimpulkan bahwa sebelum anak mau terbuka, dia harus merasa aman dan diterima.

Anak merasa aman dan diterima apabila tiga kebutuhan utamanya dipenuhi, yaitu : dianggap, didengarkan, dan dibimbing

IV. MEMUTUSKAN RANTAI

Ada beberapa  Rantai Kebiasaan yang Salah dari orangtua yang perlu kita putuskan, jangan pernah diulangi.

1. Membeda-bedakan anak satu dengan yang lainnya
2. Membanding-bandingkan situasi anak sekarang dengan masa lalu kita masih kecil
3. Menganggap anak sekedar investasi dan sumber kebanggaan
orang tua.
4. Membiarkan anak tumbuh begitu saja (tanpa pengarahan,
tanpa teladan). Kurang memberi waktu dan tidak menjadi
teladan bagi anak
5. Mengharapkan si anak kelak membalas jasa pada orang tua.
6. Terlalu memanjakan atau mengontrol
7. Orang tua tampak tidak kompak dan sering cekcok

V. MEREKAYASA LINGKUNGAN ANAK

Beberapa hal yang dapat dilakuan untuk merekayasa lingkungan anak terutama di zaman kita sekarang

1. Menjadi orang tua beriman
2. Hadir memberi kehangatan
3. Mengajar dengan contoh
4. Menjadikan keluarga pusat aktifitas
5. Tinggal di rumah dan lingkungan yang sehat
6. Menyediakan anak sekolah dan bacaan yang baik
7. Menyediakan lingkungan pergaulan yang sehat buat anak.

PENUTUP

1. Anak adalah milik pusaka dan istri kasih karunia. Tuhan
 memberkati kita di dalam dan melalui keluarga.
2. Jabatan sebagai ayah/ibu dan suami/istri sangat istimewa dan
 tak tergantikan.
3. Selama kita hidup, keluarga wajib dirawat dengan emosi, waktu dan tenaga, lingkungan sehat dan finansial memadai.
4. Keluarga menjadi poros aktifitas kita. Kristus  pusat Iman, keluarga pusat kegiatan.

Julianto Simanjuntak
Ringkasan Seminar
LEMBAGA KONSELING KELUARGA KREATIF (LK3)