Ibuku, Teladanku

Ibuku, Teladanku

Published on 10 November 2016

Saya terkejut ketika pagi ini menerima whatsapp dari seorang teman. Isinya: Saya diberkati lewat tulisan-tulisan ibu di buku "Merekayasa Lingkungan Anak". Di sana ibu banyak sekali menulis tentang teladan ayah buat keluarga ibu. Lalu, sejauh mana teladan ibu untuk Ibu Wita?

Pertanyaan ini menghentak saya, sekaligus menimbulkan rasa bersalah juga. Teladan apa yang saya pelajari dari kehidupan ibu saya? Apa iya, saya hanya banyak belajar dari papa? Itu membuat saya memikirkan bagaimana mama berperan dalam pembentukan hidup seorang Roswitha.

Sesungguhnya mama dan papa mempengaruhi hidup saya secara seimbang. Malah rasanya mama lebih berperan karena sehari-hari saya bersama mama. Tetapi, memang ada beberapa hal yang menjadi catatan saya soal ini.

1. Ibu saya tamat SLTA saja. Tentu ini mempengaruhi cara pikir dan bertindaknya. Tetapi ibu saya bukan orang bodoh. Dia memilih untuk tidak melanjutkan sekolah karena keluarga dan anak-anak adalah prioritasnya. Bisa dibayangkan jika ayah dan ibu saya dua-duanya berpendidikan tinggi dan membangun karier. Bisa-bisa kami bertujuh terlantar jadinya.
Saya rasa inilah yang saya teladani dari mama. Saya pun memilih tidak melanjutkan studi dan tidak bekerja di kantor ketika anak saya yang sulung berusia 1 tahun.

2. Selain itu, teladan ibu saya lebih pada hal yang praktis, misalnya bagaimana mengurus anak sakit, bagaimana kerja di dapur, dan lain-lain. 

Misalnya ketika Jo demam tinggi dan pertama kali kejang di usia 9 bulan, saya memasukkan ujung sendok untuk melonggarkan tenggorokannya. Saya belajar ini dari mama.
Juga saya belajar pentingnya memperhatikan kebersihan air untuk minum dan cuci, dari mama. Ketika kami datang dari Nias ke Malang tahun 1963, orang tua saya hanya mampu sewa rumah setengah tembok. Untuk air minum, mama harus menimba sumur sedalam 12 meter dan dipakai 10 keluarga. Mama bangun pukul 2 pagi, supaya kami dapat air bening yang layak minum. Di usia saya yang ke-7, mama membahas ini dengan saya.
Hal praktis lain yang saya belajar adalah trik mencuci baju putih, bagaimana mengepel yang bersih, menyiangi sayur, menyuapi anak yang sulit makan, dan banyak lagi yang seperti itu.

Saya kurang membahas hal-hal yang konseptual dengan mama. Bisa jadi ini karena tingkat pendidikan tadi, atau juga krn mama lebih cepat dipanggil Tuhan. Pada saat itu saya pun belum mengerti pentingnya membangun attachment dengan anak. Papa saya hidup lebih lama. Jadi lebih banyak waktu untuk melihat/mendengar pikirannya. Mama meninggal 1996, papa 2012, beda 16 tahun. Ketika papa pergi saya sudah belajar konseling dan bisa berpikir berbeda.‎

3. Teladan lain yang membekas dari ibu saya adalah kerohaniannya. Ibu saya rajin memberi perpuluhan, bukan ke gereja tapi ke sekolah-sekolah teologia, dalam bentuk pendanaan untuk mengembangkan perpustakaan STT dan membantu mahasiswa STT yang membutuhkan dana pendidikan. Mama selalu mendorong kami untuk memberikan perpuluhan.
Selain itu, mama juga mewajibkan kami mengikuti family altar tiap pagi dan malam. Kami tahu persis bahwa mama menggunakan waktu paginya untuk berdoa, termasuk mendoakan suami, anak-anak, penginjilan, hamba-hamba Tuhan, dan gereja di seluruh Indonesia.

4. Penelitian membuktikan bhw ayah yang berfungsi lebih bisa membentuk hidup seorang anak daripada kalau hanya ibu. Idealnya memang ayah dan ibu mengisi hidup anak. Tetapi kalau harus memilih, ayah lebih kuat pengaruhnya. Karena itu saya bersyukur juga bahwa ayah banyak mempengaruhi hidup saya.

Inilah hal-hal yang saya pelajari dari ibu saya. Dia bukan ibu yang sempurna, tetapi setidaknya mama meninggalkan jejak baik, yang membuat saya seperti sekarang ini. Terpujilah Tuhan.

Roswitha Ndraha