Inkarnasi & Pemulihan Keluarga

Inkarnasi & Pemulihan Keluarga

Published on 22 December 2016

Natal adalah kisah Inkarnasi Kristus, Allah menjadi manusia. Demikian pesan Filipi 2:5-11.

Bagi Rasul Paulus kisah inkarnasi menjadi pedoman dan motivasi untuk kita bisa hidup bersama secara harmonis, dan menjadi berkat satu sama lain (ayat 5).

Saya sering menggunakan teks ini sebagai refleksi mendampingi klien yang menghadapi konflik, terutama konflik relasi. Inkarnasi menjadi sarana pemulihan bagi klien yang sulit harmonis dengan orang lain, bahkan dengan dirinya sendiri.

Perhatikan Ayat 5: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus mengajak kita memiliki dan membangun pikiran seperti Kristus saat inkarnasi.  Kualitas Pikiran dan perasaan itu ada empat:

1.    MENGUTAMAKAN KEBERSAMAAN.

      Ketika hidup bersama sebagai anggota keluarga kita perlu mengedepankan kebersamaan, bukan hak individu. Kristus menjadi contoh, demi Misi Allah Tritunggal menebus manusia, ia  rela berkorban terpisah dari Bapanya, meninggalkan surga. Ia turun ke bumi agar misi Allah tritunggal membawa manusia kembali kepada Allah, tercapai.

Kebersamaan membutuhkan pengorbanan, mengenyampingkan hak2 individu. Seperti pesan Kristus yang terkenal, jika ingin bahagia: Hendaklah kamu menyangkal diri dan memikul salib dan mengikut Aku. Menyalibkan keakuan, dan mengorbankan hak pribadi  demi kebersamaan adalah pintu kebahagiaan keluarga.

2.    MERENDAHKAN DIRI.

      Ayat 6 dan 7 menekankan bahwa Yesus tidak mempertahankan posisinya sebagai Allah. FirmanNya: "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.".

      Dalam menghadapi konflik,  Suami dan Istri bisa berdamai, jika masing2 rela memahami pasangannya. Mau turun, memahami kelemahan pasangannya. Berempati. Mau belajar, bahwa  ada perbedaan antara wanita dan pria. Rela belajar  masa lalu pasangan, baik  trauma, pohon keluarga yang rusak, dan bagaimana ia dibesarkan.

      Sikap ini membuat masing2 tidak meminta pasangan berubah, melainkan berusaha mengubah diri sendiri.  Doa pemulihan yang sering saya ajarkan "TUHAN UBAHLAH SAYA SPY DENGAN PERUBAHANKU PASANGANKU BERUBAH".

3.    RELA BERKORBAN.

      Ayat 8 berkata, "dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." Saudara,  tidak ada pemulihan tanpa pengorbanan.

      Cinta Kristus ditandai pengorbanan, meninggalkan tahtaNya, kenyamanannya, kebersamaan dengan BapaNya. Hal yang sama tidak ada pemulihan, pasanganmu tidak akan kembali jika tidak ada pengorbanan yang Anda berikan. Wujud pengorbanan  dalam keluarga bisa berupa kerelaan mengampuni, kerelaan untuk berubah, kerelaan dilukai, dan cakap menanggung konflik. Bisa berupa waktu, emosi,  uang, kesediaan mendengar, dsb.

4.   MENGUTAMAKAN PROSES BUKAN HASIL

     Ahirnya, pemulihan itu tidak terjadi sebentar. Banyak luka dan trauma serta masa lalu yang buruk perlu waktu untuk pemulihan. Lebih baik menikmati penderitaan dan kesusahan untuk sementara sebelum kebahagiaan datang sebagai upah. Hal yang sama dialami Kristus.

     Dalam  9-10 tertulis: " Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi."

     Pada akhirnya, Kristus menikmati pengorbananNya. Ia setia bertahan sampai mati di kayu salib. Ia tidak lari atau menghindar, atau mengurangi kesulitanNya. Demikian juga bagi kita yang rela bertahan, menanggung kesulitan pernikahan. Memikul suka duka sebagai orangtua, kelak akan datang kemuliaan sesudah pengorbanan. 

     Ingat, selalu ada proses dan waktu menunggu suami Anda meninggalkan WILnya; atau meninggalkan kebiasaan buruknya. Juga butuh kesabaran menunggu anak melewati masa puber dan sedang banyak melawan kita sebagai Ortu. Semua masalah ada WISUDAnya. Asal kita sabar, tidak banyak bersungut atau mengeluh. Kelak kita menuai hasilnya jika kita tidak menyerah.

Ada 4 hal penting yang kita pelajari dari kisah Inkarnasi yang memulihkan keluarga kita:

a.  Mengutamakan kebersamaan keluarga
b.  Saling merendahkan Diri dihadapan Kristus
c.  Rela berkorban
d.  Mengutamakan Proses, bukan hasil.

Semoga berkat  firman Tuhan dari Filipi 2:5-10 ini membantu kita memulihkan relasi atau hubungan antar anggota keluarga. Sehingga masa raya natal dan tahun baru kita rayakan dengan limpah damai dan sukacita. FirmanNya:

(5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (9) Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, (10) supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi

Semoga renungan ini membantu kita bersama memasuki masa raya Natak dan mengakhir tahun dengan penuh syukur.

Mohon doa untuk pelayanan kami di beberapa negara bagian USA sd 9 Januari 2017 yad. Mohon doa untuk Visi kami lewat LK3 agar tahun 2030 berdiri satu pusat konseling di setiap kota, tersedianya psikolog, psikiater dan konselor secara merata di tanah air.

Salam Konseling dan Selamat NATAL 2016
Julianto Simanjuntak
Roswitha Ndraha
Layanan Konseling keluarga dan karir (LK3)