Hidup Adalah Siklus Kehilangan

Hidup Adalah Siklus Kehilangan

Published on 29 January 2017

Hidup pada dasarnya adalah siklus kehilangan. Secara perlahan tapi pasti, kita akan mengalami pelbagai kehilangan. Mulai dari kehilangan kesehatan, pekerjaan hingga orang-orang yang kita cintai.

Saat anak mulai besar, satu persatu mereka akan “hilang” dari hadapan kita karena merantau untuk kuliah. Saat anak dewasa mereka akan membangun rumah tangga sendiri-sendiri. Ini semua wajar saja. Kita harus rela melepaskannya suka atau tidak. Waktulah yang akan terus berbicara.

Salah satu yang perlu kita persiapkan adalah kehilangan jabatan atau pekerjaan.

Saat pensiun akan ada perasaan “Saya bukan lagi siapa-siapa.” Tidak mudah memasuki situasi itu apalagi sebelumnya kita punya jabatan baik dan sangat sibuk.

Untuk mengantisipasinya, sesudah pensiun usahakan agar kita masih bisa bekerja dan menghasilkan sesuatu bagi keluarga, anak atau cucu. Dengan demikian kita masih akan merasa eksist. Paling tidak kita tetap merasa berguna.

Untuk itu kita perlu menyiapkan “karir cadangan”, seperti mengajar dan menulis. Bisa juga yang mulai menyiapkan bisnis dengan wiraswasta. Tak perlu bisnis besar, yang penting bisa menghasilkan. Sebagian aktif di gereja atau yayasan sosial.

Buatlah diri tetap berarti meski sudah pensiun. Misal dengan aktif di lembaga sosial keagamaan. Mengembangkan kemampuan berkebun atau memelihara ikan. Tetap ada semangat hidup dan merasa berarti.

Cepat atau lambat sesudah pensiun berangsur-angsur kita akan kehilangan kesehatan. Bisa jadi bergantung-obat. Biaya periksa ke dokter atau rumah sakit tidaklah murah. Untuk itu kita perlu menyiapkan tabungan atau asuransi.

Kondisi fisik yang pelan tapi pasti akan merosot perlu diantisipasi. Salah satunya dengan cara memompa semangat dan mengasah asa. Dengan tetap berhasil dalam hal tertentu, semangat tetap membara. Dengan punya semangat bisa mengangkat kondisi fisik dan kekuatan badan.

Sampai akhirnya suatu ketika kita tidak bisa bekerja lagi, tidak bisa keluar kota atau hanya berjalan kaki sebentar saja. Sampai kita tidak bisa berpikir lagi.

Inilah yang harus kita antisipasi dengan tenang. Mendekatkan diri dengan Tuhan dan bersandar pada anugerahNya. Sampai suatu saat semangat saja sudah tidak bisa menolong lagi.

Seperti biduk yang semula berlayar di laut lepas, kemudian mati angin, terombang-ambing, bocor, kemasukan air, lalu teng…kita kembali pada Yang Maha Kuasa. Hidup kita berguna mati bahagia.

Yang penting kita sudah siap. Kita sudah rela. Kita juga sudah mempersiapkan pasangan, anak-mantu dan cucu. Berusaha hidup kita tidak menjadi beban anak-cucu, sebaliknya tetap bisa menjadi berkat dan teladan.

Caranya, sebelum pensiun tiba, kita perlu mempersiapkan masa itu dengan indah. Berusaha hidup sehat dan hemat dengan menabung. Membangun dan menjaga relasi keluarga dengan harmonis atau sebaik-baiknya. Agar tidak ada penyesalan di masa tua.

Ada satu penelitian menarik dari Bronnie Ware. Ketika bekerja mengurusi pasiennya, Ware bertanya tentang penyesalan terbesar dalam hidup. Ware menyimpulkan ada lima penyesalan manusia pada umumnya yang kemudian dibukukan. Tiga diantaranya ialah:

1. Coba dulu saya punya keberanian hidup seperti yang saya kehendaki, bukan berdasarkan/mengikuti harapan orang lain.

2. Coba dulu saya tidak bekerja terlalu keras. Saya kehilangan masa muda, kehilangan anak-anak dan pertemanan dengan istri.

3. Coba dulu saya tetap membina hubungan dengan teman-teman.Kebanyakan kita sibuk dengan kehidupan kita sendiri sehingga kita membiarkan persahabatan lama perlahan menghilang.

Lewat buku yang ditulis Ware, banyak orang yang mengatakan mereka memiliki keberanian untuk pensiun, kekuatan mengambil cuti untuk berlibur, atau mencari kembali teman-teman lama, atau bahkan berhenti dari bekerja sebelum waktunya.

Intinya, jadikan masa pensiun itu masa yang indah dengan tetap berguna bagi keluarga dan sesama. Saat bekerja siapkan dengan baik masa pensiun Anda, baik secara emosional, finansial, spiritual dan sosial. Sehingga saat pensiun tiba tidak lagi menakutkan melainkan sesuatu yang lama dirindukan. Pada saat itu punya banyak waktu bersama keluarga, anak dan cucu. Menikmati persahabatan dan hobi lebih puas. Banyak waktu berdoa dan beribadah. Indah bukan?

MENIKMATI HIDUP

Hidup sesungguhnya untuk dinikmati. Hidup adalah perayaan. Bersukacitalah senantiasa, demikian pesan Kristus.

Bagaimana jika kesulitan, kehilangan dan penderitaan datang? Seolah pengalaman hidup sedang tidak bersahabat?

Kristus berkata: "Bukankah HIDUP lebih penting dari Fasilitas Hidup".

Penegasan ini menyatakan bahwa hidup bermakna bukan karena apa yang kita punya atau miliki. Hidup itu adalah anugerah. Jadi Selama ada kehidupan selalu ada kesempatan untuk bersyukur. Karena itulah hidup layak diperjuangkan, apapun kondisinya. Manusia dihargai karena dia mahluk hidup yang berharga.

Hidup juga lebih penting dari kebahagiaan dan kebanggaan hidup. Hidup bagai suatu perjalanan panjang dengan banyak hambatan. Ada untung dan malang; ada suka dan duka; untuk segala sesuatu ada masanya. Yang penting dalam hidup kita punya tujuan yang jelas. Baik dalam berkeluarga, kerja dan pengabdian kita di masyarakat.

Apakah arti hidupmu? Hidup itu seperti uap sebentar kelihatan lalu lenyap.  Demikian ungkap Rasul Yakobus. Dia hendak menegaskan yang  penting dalam hidup bukan soal panjang umur, tapi bagaimana mengisi hari-hari hidup kita agar berguna bagi sesama. Membahagiakan keluarga dan kelak meninggal dunia dengan mewariskan CV yang baik.

Dr. Julianto Simanjuntak
Penulis  buku HIDUP BERGUNA MATI BAHAGIA dan 20 buku Konseling Keluarga
http://juliantosimanjuntak.com/index.php/buku/item/1-hidup-berguna-mati-bahagia