Ukuran Kebahagiaan

Ukuran Kebahagiaan

Published on 28 February 2017

Untuk sukses kita cukup mengandalkan kepandaian, keuletan, dan  punya modal usaha yang cukup. Tapi untuk bahagia, itu tidak cukup. 

Ada orang yang bisa kelihatan bahagia, tapi  mungkin jiwanya menderita. Seperti kata Salomo, "Dalam tertawa hatipun bisa menderita (menangis)."

Bahagia tidak hanya diukur dari kekayaan, kepintaran, atau punya jabatan tinggi. Bahagia terdiri dari unsur-unsur: kecakapan berelasi dan kemampuan hidup berguna bagi sesama. Cakap menanggung masalah dan penderitaan hidup. Unsur penting lainnya ialah mampu mengelola konflik.

Untuk bahagia kita perlu respek dan mendengarkan orang tua dan guru yang bijak, serta dari pengalaman iman  mereka.

Bahagia pada dasarnya bukan dicari, tetapi diberi sang Ilahi ke dalam hati mereka yang takut akan Dia dan mencari wajah-Nya. Itu sebabnya bahagia tidak ditentukan keadaan, tetapi relasi kita dengan Firman. Juga tidak ditentukan situasi, tetapi hidup berdasarkan janji-janji Tuhan yang kita percayai.

Jika Anda kaya tapi egois, Anda hanya menikmati kesenangan sendiri. Itu bukan kebahagiaan sejati. Jika Saudara pandai tapi dipakai untuk mengakali orang  atau memperkaya diri sendiri, itu bukan bahagia, tapi hanya mendapat keuntungan semata.

Jika saudara punya jabatan tinggi tapi dipakai untuk mencari kesempatan korupsi, itu bukan bahagia tapi tindakan menipu diri sendiri. Lihat saja pejabat tinggi sekelas menteri, tapi toh korupsi dan ujungnya masuk bui. Simaklah kisah hidup para selebriti yang hanya mengandalkan kemolekan diri, hidup berujung bunuh diri.

Untuk bahagia kita tidak harus kaya, dan juga tidak harus selalu sehat. Untuk bahagia kita tidak harus selalu sukses, sebab kegagalanpun bisa dipakai-Nya demi kebaikan kita.

Untuk bahagia tidak harus saat masih punya kekuasaan atau jabatan. Kita boleh saja menjadi bukan siapa-siapa. Untuk bahagia tidak juga harus umur panjang. Setidaknya ini kita lihat dari sejarah kehidupan para nabi, bahkan Yesus sendiri.

Bahagia itu sesungguhnya kemampuan menikmati kesenangan dan penderitaan secara seimbang. Mampu mencukupkan dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Mereka yang bahagia cakap bersyukur dalam segala keadaan. Mampu mensyukuri apa yang (masih) ada dan yang sisa, serta tidak menyesali apa yang kurang atau yang hilang. Indah, bukan?

Pada akhirnya bahagia itu adalah mengenali dan menjalani rencana kehendak-Nya. Menghidupi visi yang Ia taruh di hati kita dan menjadi manusia bagi sesama.

 

Julianto Simanjuntak
Catatan Harian
Penulis "HIDUP BERGUNA MATI BAHAGIA"

RETREAT KELUARGA KREATIF
http://juliantosimanjuntak.com/KeluargaKreatif.pdf