Dari Penginjilan Ke Pusat Hiburan

Dari Penginjilan Ke Pusat Hiburan

Published on 21 August 2017

Sebagian kita tanpa sadar meninggalkan panggilan dan kasih mula-mula.

Awalnya sangat kuat mendapat panggilan untuk PI, penggembalaan, dan Pemuridan umat. Jemaat berkembang dengan sehat meski lambat.

Tapi sayang demi mengejar kuantitas, gereja berubah menjadi PHU "pusat hiburan umat". Tanpa sadar meninggalkan roh pekabaran Injil, mengabaikan pemuridan, menyerahkannya kepada siapa saja yang mau. Tanpa peduli kesehatan mental dan pernikahan mereka.

Jemaat bertambah tapi bertumbuh tidak sehat karena lebih banyak makan kotbah siap saji alias fast food dari para pembicara tamu. Sebab gembala harus melayani cabang "ini dan itu".

Sebagian gereja terpecah dan tercerai berai, karena hasil "kue persembahan dan penghargaan" terasa tidak adil bagi pemimpin lapis kedua dan ketiga.

Gereja tergoda mengutamakan pembangunan fisik, fasilitas dan pelbagai program demi menambah jumlah anggota.

Sayangnya lalai dalam pengembangan SDM, minim mengalokasikan dana untuk SDM pusat Konseling. Lalai menyediakan "ICU" bagi jemaat yang mengalami "luka pernikahan" dan yang menderita sakit jiwa.

Ini hanya fenomena yang terbatas, tapi menarik dijadikan kajian dalam diskusi tentang pertumbuhan gereja.

Julianto Simanjuntak
Catatan Konseling