VISI Bercampur AMBISI

VISI Bercampur AMBISI

Published on 21 November 2017

Antara Iklan, Jualan dan Pelayanan
Julianto Simanjuntak 

Sejak 2002 kami semakin banyak menangani kasus konflik rumah tangga hingga perpecahan gereja. Sembilan puluh persen (90%) klien kami adalah orang percaya, aktifis gereja dan Pendeta.

Ada tiga tahapan kita menjadi percaya hingga masuk dalam pelayanan. Sebagian orang melayani tanpa melewati tahap satu atau dua. Disitulah bahaya dimulai.

Pertama,

Menjadi Orang percaya. Ini sungguh-sungguh hanya semata-mata anugerah Allah. Kita hanya membayarnya dengan pertobatan. Keinginan dan perasaan untuk itupun berasal dari Tuhan. Itulah awal kehidupan menjadi orang percaya, kelahiran baru. Ini adalah panggilan yang utama dan pertama.

Kedua, Pembentukan. Hal kedua setelah pertobatan adalah pembentukan. Roh Kudus  mengubah hati dan sifat kita dari dalam. Lewat penyangkalan diri, mengikut jejak Tuhan dan memikul salib. Pembaharuan lewat firman, pengalaman dan pengetahuan. Tanpa pemahaman TEOLOGI yang sehat dan kuat, ego kita sulit dikontrol. Selain teologi yang sehat kita butuh gereja dan KOMUNITAS yang sehat. Dibentuk lewat hidup bersama, cakap konflik dan punya persekutuan. Komunitas dan TIM KERJA juga menjadi alat kontrol supaya kita tidak semau gue dalam pelayanan. Siap ditegur atau dikritik. Siap turun jabatan pada waktunya. 

Waktu untuk menjalani pembentukan ini tidaklah sebentar. Penyangkalan diri atas manusia lama dibentuk disini. Buah pertobatan dikandung dalam masa ini. Itu sebabnya Alkitab menegaskan orang yang baru bertobat hendaknya jangan dulu aktif melayani di Gereja atau menjadi majelis. Apalagi berkotbah.

Ketiga, Pelayanan dan kesaksian. Setiap kita mendapatkan undangan untuk melayani Sang Raja segala Raja. Allah Tri tunggal melengkapi kita dengan talenta dan pelbagai karunia. Dengan maksud dan tujuan tertentu. Kita menggunakan talenta tsb dalam persekutuan di Jemaat, supaya puzzle pelayanan kita kepada masyarakat menjadi utuh. Seperti orkestra yang lengkap. 

Jika tidak maka akan banyak godaan, kita menjadi “singel fighter” berjuang sendiri demi kepentingan pribadi. Pelayanan kita jadikan semacam alat dagangan atau jualan. Kita menjadi Owner, Direktur, Manajer sekalian karyawan. Tanpa kontrol dan mudah jatuh dalam dosa pementingan diri sendiri.

AMBISI & ALARM ILAHI

Dalam situasi ini maka dalam pelayanan kita  ada bahaya besar.  Kita bukan melayani Tuhan tapi kepentingan diri sendiri. 

Godaan pertama, kita lebih mengiklankan diri sendiri daripada menyatakan kemuliaan Surgawi.

Pada saat mulai pelayanan bisa jadi Visi kita masih murni. Lembaga kita masih kecil, nama belum dikenal, uang masih sedikit. Semangat menjalani Visi masih kuat. Kita rela mengorbankan apa saja yang kita punya untuk pelayanan.

Namun ketika Tuhan mulai memberkati pelayanan dan semakin besar, kita mulai tergoda. Ambisi pribadi tanpa sadar mulai menguasai. Ambisi ingin dikenal, ingin diundang dan dihargai. Ini semua tersembunyi, hanya Tuhan yang tahu. 

Kita menggunakan pelayanan sebagai sarana iklan dan jualan. Tanpa sadar kita dipenuhi roh persaingan, ingin menjadi yang lebih besar dan dikenal. Gereja menjadi panggung pribadi untuk mendapatkan pujian dan apresiasi yang dulu kita tidak dapatkan saat kanak-kanak. Ketika jemaat kita pindah ke gereja “bekas pecahan” kita bisa jengkel luar biasa. Jiwa kita menjadi kerdil, iri hati merusak banyak mental Pendeta yang menjadikan gereja sebagai ajang dagangan.

Kadang ada pemimpin gereja yang mengatur semua keuangan gereja dan menggunakan seenaknya, tapi seolah kera Tim. Individu menyembuyikan kelakuannya dengan cara membayar akuntan yang nampaknya dipercaya bahkan membayar sistem yang seolah oke. Namun sistemnya tetap otoriter, dan menjalankan gereja seperti perusahaan pribadi. Sampai ketika si Founder meninggal, lembaganya pecah dan saling mencakar. Langitpun menangis, karena perpecahan di klaim sang Penerus (Anak)  sebagai berkat Tuhan.

Si Pemimpin sendiri mungkin tidak sadar sudah masuk kedalam jebakan tersebut. Sampai ada masalah terjadi. Masalah itu saya sebut “Alarm Ilahi” untuk mengingatkan kita

Alarm itu bisa berupa hubungan kita memburuk dengan pasangan atau anak. Individu mulai banyak konflik dengan tim kerja. Tidak sedikit yang mengalami burn out atau jenuh dalam pelayanan. Kehilangan arah dan gairah bekerja. Tidak sedikit pula di ruang konseling kami jumlai pemimpin gereja terjebak dalam dosa perzinahan dan hawa nafsu lainnya. Itulah beberapa alarm ilahi yang paling sering terjadi

GENGSI VS HARGA DIRI

Ketika arah hidup dan motivasi kita benar maka pelayanan kita juga baik. Relasi dengan keluarga dan orang terdekat tetap sehat. Hal ini otomatis membangun harga diri kita menjadi baik. 

Namun ketika motivasi kita hanya untuk mementingkan diri sendiri, maka kita menjadi mudah tersinggung dan marah. Konflik dan trauma relasi tidak terhindarkan. Kalau bukan kita yang terluka, ya anak atau pasangan serta sahabat pelayanan yang sakit hati.

Kita mudah marah atau sakit hati karena hanya menjaga gengsi pribadi, bukan nama baik Tuhan. Kita malah lebih fokus kepada nama baik pribadi bukan pada pertobatan keluarga kita.

Jika bukan Tuhan menjadi pusat pelayanan, jika keluarga tidak lagi fokus kegiatan harian maka masalah tak terhindarkan. 

Perlu kita sadari bahwa harga diri yang sehat membuat kita tidak mudah terluka. Gengsilah yang membuat kita cepat marah, karena fokus kita bukan lagi kemuliaan Tuhan tapi kemuliaan pribadi.

PENUTUP

Bertobat dari situasi ini tidak mudah. Perlu bantuan konselor atau teman yang dewasa untuk bertukar pikiran. Sebelum anda jauh tersesat, bertobatlah

Semoga catatan Konseling ini bermanfaat untuk pembaca

Julianto Simanjuntak
Catatan Konseling
Seminyak-Bali, 20 Nov 2017