UNTUK GURU: 6 Respons Murid Yesus terhadap Penderitaan Sang Guru

UNTUK GURU: 6 Respons Murid Yesus terhadap Penderitaan Sang Guru

Published on 13 February 2018

Menjadi Guru adalah panggilan istimewa, panutan murid dalam ajaran dan perkataan. Kita menyiapkan pemimpin dan pelayan dalam semua aspek kehidupan. Tak banyak kita mendapat fasilitas dan penghormatan layak
untuk profesi mulia ini. Tapi karena ini panggilan umumnya kita bertahan, berjuang dan beriman bahwa Allah
mencukupkan kebutuhan kita.

Salah satu masalah dalam hidup guru adalah saat mendapatkan sikap dan respons yang beragam dari para murid. Ada yang menyenangkan, membanggakan tapi tak jarang mengecewakan. Bagaimana kita bersikap?
Ijinkan saya menuliskan refleksi tentang respons para murid kepada Yesus dan sebaliknya.

1. Ada Murid yang kecewa dengan Yesus karena harapannya dengan Sang Guru tidak terpenuhi. Ia ikut merencanakan dan mengupayakan agar Yesus ditangkap. Karena ambisi pribadi ia tega menghianati Sang Guru.
Dia memburukkan nama Gurunya sendiri. Awalnya ia merasa puas tapi ujungnya menyesal. Tapi terlambat. Namanya Yudas.

2. Murid yang ngefans dan fanatik membela, tapi dengan cara membabi buta. Berusaha keras Mencegah Yesus jangan sampai menderita. Ia tidak mengerti isi Firman Tuhan. Respons sang Guru: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Murid itu ialah Petrus. Matius 16:23

3. Ambisius. Ada juga yang sangat ambisius, mereka terus terang meminta agar kelak mereka ada di sisi kemuliaan Yesus. Mereka percaya akan kehebatan Gurunya hingga kekekalan. Tapi sangat narsis dan hanya memikirkan posisi. Mereka meminta:“Guru, Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang
seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiriMu." Mereka mencari kesenangan semata, tidak siap menderita.
Namanya Yohanes dan Yakobus (Markus 10:35-)

4. Menyangkal. Ada murid yang punya perasaan ambivalen. Mengagumi karya dan pribadi gurunya, sambil menyimpan perasaan takut. Akhirnya saat ditanya, “Apa kamu murid Yesus?”. Petrus menjawab: “Oh bukan....bukan, saya tidak kenal Yesus”. Petrus menyangkal Gurunya. Meski akhirnya ia menyesal.

5. Penonton Pasif. Mayoritas murid-murid yang pasif. Mereka menjaga diri jangan sampai terlibat lebih jauh. Cukup Menonton dari jauh, dan saat sang Guru benar-benar di Salib, mereka melarikan diri bersama orang banyak lainnya.

6. Setia dalam penderitaan. Ada sebagian kecil Murid, bukan termasuk kedua belas murid. Mereka setia menunggu dekat salib. Mereka setia mengikuti Yesus dari sejak di Galilea untuk melayani Yesus. Di antaranya,
Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. Merekalah yang setia dan mendukung Yesus menghadapi penderitaanNya. Matius 27:55

Sikap Yesus

Karena Yesus mengenali para murid dengan baik, maka Guru Petrus dkk ini sangat mengerti setiap sikap dan perkataan murid2. Bahkan Yesus bisa mengantisipasi sebelum terjadi. Pemahaman psikologi Yesus sangat dalam dan luas. Pernah juga Yesus menangis tapi kebanyakan Ia memaklumi kondisi murid-murid. Yesus kenal
betul waktu Ia merekrut murid2. Yesus tidak fokus pada sikap dan perkataan muridNya. Ia hanya menjaga respons pribadinya sebagai Guru agar selalu tepat. Tidak menyerang dengan kritik, tapi berusaha meluruskan dengan pengajaran dan ilustrasi kehidupan

Sikap Kita

Kita juga menghadapi sikap murid yang lebih kurang sama: ada yang cuek dan ada yang respek. Ada yang aktif yang lain pasif. Ada yang suka berdebat ada yang sangat penurut. Ada yang bangga dengan kita, ada yang kecewa. Keragaman sikap murid bukanlah masalah utama, termasuk mereka yang tidak suka dengan kita. Fokus kita adalah mengajar mereka dengan sikap dan cara yang benar.

Jika mereka menangkap kebenaran dengan baik, itu adalah upah kita, melihat mereka bertumbuh dengan baik. Jika ada yang menyimpang, melakukan yang tidak kita ajarkan itu adalah risiko menjadi guru. Murid kita punya kebebasan pribadi. Janganlah menyalahkan diri apalagi murid. Kita perlu mendorong mereka untuk berubah selama ada kesempatan.

Demikian juga saat mereka sudah lulus, lalu mereka ingat dengan kita, itu adalah Bonus. Puji Tuhan. Tapi kalau mereka melupakan kita bersikap wajar saja. Mereka tidak wajib membalas, tapi mereka wajib mengamalkan ajaran kita dalam hidup mereka di tengah keluarga dan pekerjaan mereka. Akhirnya kita bertanggung-jawab kepada Tuhan yang memanggil kita sebagai tenaga pendidik dan pengajar. Menunggu suaraNya berkata:
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Matius 25:21

Semoga catatan harian ini bermanfaat

Julianto Simanjuntak
Catatan Harian 11 Feb 2018