Kampanye Pentingnya Konseling, Keluarga dan Kesehatan Mental

Kampanye Pentingnya Konseling, Keluarga dan Kesehatan Mental

Published on 04 May 2018

Saat LK3 dimulai 16 tahun lalu, profesi Konselor dan Psikolog masih belum populer. Orang masih malu konseling, rasanya seperti aib. Karena Tuhan memberi visi kepada kami “rindu melihat berdirinya satu pusat konseling di setiap kota di Indonesia serta tersedianya pusat kesehatan mental, psikolog, psikiater dan konselor secara merata di tanah air,” maka kampanye konseling menjadi program utama LK3.

Ketika masih kuliah S1 Konseling di UKSW tahun 1989, saya sadar, Indonesia darurat kesehatan mental. Angka gangguan jiwa yang sangat tinggi, 14 persen dari populasi. Sementara pusat konseling, mental hospital, tenaga konselor, psikolog dan psikiater minim. Maka, kami terpanggil melakukan sesuatu untuk mengenalkan pentingnya konseling.

Kami mulai dengan membayar program radio mingguan (Heartline FM & Radio Pelita Kasih FM), masuk program TV Family Channel, menulis dan pasang iklan di beberapa majalah, Harian KOMPAS, mengirim brosur secara teratur ke beberapa organisasi. Kami juga rutin menulis di web pribadi, Kompasiana.com dan kemudian atas ijin kami dimasukkan ke dalam web Kompas.com, juga menulis buku-buku konseling. Kami mengirim pesan-pesan singkat (SMS) yang biayanya masih mahal harganya (tahun 2002 belum ada BBM & whatsapp). Sosmed belum sepopuler sekarang. Meski mahal kami rela membayar harga. Untuk mengenalkan konseling ke seluruh tanah air. Kini hasilnya mulai terlihat. Konseling semakin dikenal dan Konselor makin dicari.

Program Lembaga Konseling Keluarga Kreatif (dulu bernama Layanan Konseling Keluarga dan Karier - LK3) dihadiri banyak orang. Setidaknya kami melayani kampanye, seminar di 33 propinsi. Berdirilah pusat-pusat kursus konseling di banyak kota. Hingga akhirnya kami memutuskan sejak 2008 melatih konselor profesional, bekerja,sama dengan 10 STT, yang menghasilkan banyak konselor yang kini tersebar di 67 kota. Juga kerjasama dengan beberapa sinode melatih konselor awam yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Beberapa tahun terakhir ini pusat konseling dan konsultasi psikologi tumbuh subur, karena pekerjaan Roh Kudus. Kepedulian pemerintah juga semakin baik, didukung oleh LSM. Kita bersyukur untuk karya-Nya yang nyata di ladang konseling Indonesia. Bersyukur makin banyak anak-anak Tuhan belajar psikologi dan psikiater meski jumlahnya masih sangat terbatas.

Kami mengajak teman-teman untuk ikut mengampanyekan pentingnya konseling dan kesehatan mental, lewat sosial media atau apa saja yang saudara bisa lakukan. Mari kita mulai menyediakan kebutuhan anak cucu kita akan pusat konseling yang baik dengan tenaga konselor yang takut akan Tuhan.

Julianto Simanjuntak
Catatan Konseling 3 Mei 2018

Lembaga Konseling KELUARGA KREATIF ~ LK3
Peduli Konseling Nusantara (PELIKAN)
Mitra Parenting Indonesia