Apa yang Ada di Tanganmu?

Published on 03 August 2018

"Dengan menulis Kita 'ada' dimana-mana tanpa kemana-mana". Kata Prof. T. Ndraha

Firman Tuhan memberi mandat agar kita memberitakan firman hingga ke ujung bumi (Kisah Rasul 1:8).

Misi tradisional melakukan upaya di atas dengan cara mengirimkan orang, dengan biaya dan pengorbanan yang sangat mahal. Kita bersyukur untuk itu. Tapi kini terbuka satu ladang baru untuk memberitakan kisah hidup, pengalaman, dan Firman dengan cepat, mudah dan hemat. Kita bisa 'ada' dimana-mana tanpa perlu kemana-mana.

Pergi tanpa perlu hadir secara fisik, yakni menulis lewat sosial media.

Realita Masa kini Di era manusia makin sibuk dengan akselerasi kegiatan yang tinggi, kebutuhan manusia bertatap muka untuk bersosialisasi jadi berkurang. Jangankan dengan orang lain, antara ayah dan anak atau suami dengan istri, komunikasi sudah semakin jarang. Banyak situasi dan alasan, di antaranya kesibukan, geografi atau jarak hingga alasan finansial yang membatasi perjumpaan antar manusia. Selain itu relasi manusia menjadi makin mekanistik dan superfisial, apalagi di kota-kota besar.

Orang tua berangkat ke kantor pagi-pagi dan pulang larut malam. Tiba di rumah, karena capek, lebih memilih nonton TV, menikmati koran dan sosial media, atau menikmati hobi masingmasing. Komunikasi menjadi miskin. Industri Media Industri media dan ponsel menangkap kebutuhan ini, lalu membuat produk yang digandrungi semua usia. Mulai dari HP, BB, Iphone, Ipad, dan smartphone berbasis android, dan sebagainya.

Tahun lalu pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang dan terus bertumbuh menjadi 107 juta di tahun 2014 dan diprediksi 139 juta tahun 2015. Ini berarti 50 persen dari populasi. Pengguna internet di Indonesia menempati urutan ke delapan di dunia dari total 2,4 milyar. Dengan pertumbuhan terus menerus seperti ini, twitter diprediksi tak lama lagi akan bisa menyalip facebook untuk urusan jumlah pengguna. Facebook sendiri saat ini tercatat jumlah penggunanya lebih dari 1 miliar. Belum lagi Whatsapp yang lagi digandrungi banyak orang dengan jumlah grup yang bejibun. Dari catatan di atas kita sadar bahwa salah satu media komunikasi yang digandrungi adalah twitter.

Jejaring sosial menjadi sarana komunikasi alternatif. Bagaimana sikap para pendidik, pemimpin negara dan pelayan Tuhan mengomunikasikan pesan di era komunikasi berbasis teknologi? Paus di Vatikan beberapa saat lalu sudah membuka akun twitter dan berkomunikasi dengan umatnya di seluruh dunia lewat akun @Pontifex yang jutaan jumlah follower-nya. Artinya sekali Paus kirim pesan firman dibaca jutaan umat. Demikian juga banyak pemimpin di dunia berkomunikasi efektif dengan rakyatnya lewat sosmed ini. Dengan menulis pesan di twitter pengunanya tidak perlu ke mana-mana tapi ada di mana-mana.

Ladang Baru Saya sendiri sejak setahun lalu memilih twitter untuk menyampaikan pesan dan mengerjakan visi saya di ladang konseling. Lewat akun twitter @KonselingSuper, kami rutin mengedukasi tentang pentingnya keluarga dan kesehatan mental. Saat ini follower-nya sekitar 430.000. Selain twitter, kami memanfaatkan FB, jaringan milis dan website untuk menyampaikan pesan, ajaran atau edukasi konseling berbasis jaringan sosial. Dengan demikian lebih banyak orang yang dijangkau, lebih banyak kota dan desa yang disentuh informasi, edukasi dan pesan firman dengan hemat dan cepat. Untuk mendidik dan mencerahkan pikiran, menghibur emosi orang yang susah kini tak harus hadir dan tatap muka (meski masih banyak yang tetap membutuhkan tatap muka).

Bagi yang bisa menggunakan sosial media, pakailah sebaik mungkin sarana tersebut.

Penutup

Saat Musa dipanggil, Tuhan bertanya, "Apa Di Tanganmu, Musa?" Dia menjawab, "Tongkat, Tuhan." Kini Tuhan yang sama bertanya, "Apa yang ada di tanganmu?" Sosial media ada di tangan kita. Ada di satu perangkat laptop, ponsel atau smartphone. Gunakan sebaik-baiknya untuk menjalankan Amanat Agung, memberitakan Injil.

Penulis bersyukur sejak 2002 lewat sosial media, radio, TV, blog (WEB) pribadi dan BUKU, saya bisa menyiarkan Firman Tuhan kepada jutaan umat tanpa perlu hadir, di dalam dan luar negeri. Bahkan dampak sosial media seperti twitter, kabar baik yang kita tweet bisa di retweet mereka yang bukan Kristen.

Julianto Simanjuntak ~ LK3 Catatan Harian The Green Forest Resort Lembang IG: @Julianto_Simanjuntak