Home Articles Konseling Pemulihan Luka Batin

Studi-Konseling

KP

follow me on twitter

Belajar Konseling

"Studi itu Investasi Mendahului Promosi Ilahi."

(Prof. T. Ndraha)

 Info lengkap belajar konseling, klik di sini

App-Store-logo

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday362
mod_vvisit_counterYesterday1139
mod_vvisit_counterThis week3832
mod_vvisit_counterLast week42031
mod_vvisit_counterThis month70630
mod_vvisit_counterLast month37877
mod_vvisit_counterAll days1413203

free counters

 
Pemulihan Luka Batin PDF Print E-mail
Articles - Konseling
Written by Julianto Simanjuntak   

Kasus

"Seorang ayah berusia 40 tahun, selalu kasar dan suka memukul anak. Bahkan anaknya yang sudah remajapun ditempeleng. Pria ini suka meledak-ledak jika marah, dan melampiaskannya dengan melemparkan benda yang ada ditangannya. Akibatnya ketiga putranya menyimpan akar pahit. Istrinyapun tidak berdaya menghadapi emosi dan perilaku suaminya.

Setelah diselidiki ternyata si Ayah ini saat kecil mendapat perlakuan kasar dan aniaya dari Ayah kandungnya. Saat jiwanya belum pulih ia menikah, dan langsung punya anak yang jaraknya hanya setahun. Sementara pekerjaannya menuntut emosi yang begitu banyak. Sifat pemarah dan kasar ayahnya dia adopsi."

Teman, pernahkah merasa diabaikan, diremehkan, dihina hingga dipukul orangtua, terutama Ayah?

Pengalaman itu merupakan luka (jiwa) yang menyakitkan. Luka ini bahkan cenderung menetap dan bersisa hingga dewasa. Bahkan bisa terbawa seumur hidup. Kalaupun dia ditolong dengan proses konseling dsb, bisa pulih 70, 80 atau 95 persen. Tidak bisa sembuh total 100 persen. Biasanya ada "sisa".

Seperti halnya seorang yang pernah kena kusta, meski pulih, selalu ada "sisa". Sisa yang berupa bekas luka yang bisa dilihat mata. Kalau dia melihat sisa bekas luka itu, selalu ada perasaan tertentu dalam dirinya. Misal, kurang percaya diri dsb. Walau sudah tidak seperti masih luka.

LUKA BATIN

Orang biasa menyebut luka itu sebagai luka batin atau kepahitan. Mengapa luka itu disebut kepahitan? Karena saat mengalami, si anak tidak berdaya. Secara kekuatan dan kuasa kalah jauh dari si Ayah. Agamapun melarangnya melawan si Ayah atau Ibu, sebaliknya harus menghormati.

Anak balita atau anak dibawah 11 tahun menurut Jean Piaget berada pada tahap berpikir konkrit. Artinya ia merasa dicintai kalau ayahnya sayang dan peduli, dan dia rasakan itu konkrit. Bukan hanya dengan kata-kata. Ia tidak bisa menerima konsep bahwa ia harus menghormati ayahnya tapi kasar kepadanya.

Bagaimana dia bisa menghormati si Ayah yang kasar dan tidak bertanggungjawab? Bagaimana mungkin anak bisa menerima perbuatan si ayah yang menganiaya Ibu yang sangat ia cintai?

Karena merasa tidak berdaya si anak pun menyimpan kemarahan, "mbatin" kepada ayahnya. Luka tersebut akan makin parah jika si ayah tak pernah memberi kesempatan berdialog, atau anak mencurahkan isi hatinya.

Syukur jika sang Ibu siap membebat atau menghibur anak. Menguatkan batin anak dengan kasih sayang. Tetapi kalau tidak, luka itu makin serius. Misal, si ibu ternyata cuek atau tidak peduli dengan luka si anak. Apakah karena si ibu takut pada suaminya atau karena kesibukan.

POHON KELUARGA

Luka batin ini cenderung terus di bawa hingga ke masa dewasa. Setelah punya anak malah Dia cenderung mengulang kelakuan dan sifat ayahnya yang dulu paling dia benci.

Lain halnya jika si anak pernah dibantu lewat proses konseling. Dibimbing untuk mencurahkan perasaannya dengan tepat. Lewat bantuan pembimbing atau konselor profesional diberi paradigma baru, membantu si anak memahami mengapa si ayah bersikap demikian. Apalagi jika ia punya pernikahan yang sehat, dan anak-anak yang baik.

Biasanya dalam proses konseling, si anak dibantu mengenali pohon keluarga si ayah. Ibunya bisa menjadi sumber informasi. Bagaimana dulu ayahnya dibesarkan kakek dan neneknya.

Langkah berikut adalah memanggil si ayah. Mendorong dia meminta maaf atas apa yang pernah ia lakukan pada si anak saat masih kecil. Rekonsiliasi dengan meminta maaf ini sangat membantu proses pemulihan, baik si ayah maupun si anak. Si ayah dibantu menyadari konsekuensi perbuatannya. Si anakpun ditolong memahami situasi-kondisi ayahnya.

Jika proses rekonsiliasi berlangsung baik pemulihan bisa maksimal, mendekati sempurna. Meski ada sisa trauma luka batin tapi si anak mampu menguasai sisa itu.

Meski demikian "sisa" itu mungkin tinggal tetap seumur hidup. Misal, rasa sensitif ditolak. Sensitif saat direndahkan. Meskipun bisa mengatasi trauma itu, kenangan lama sewaktu-waktu keluar.

Karena itu wahai orangtua, hindarilah. Jangan melakukan kekerasan pada anak. Segeralah berdamai jika pernah terjadi, segera minta maaf. Jika anda pernah menjadi korban, carilah bantuan seorang konselor.

Semoga bermanfaat.

 

Julianto Simanjuntak